Wei juga dilaporkan mendorong para karyawan untuk membeli saham perusahaan dan menegaskan kembali bahwa “tidak ada batasan atas (tidak ada pagu) untuk bonus TSMC,” dalam upaya menyelaraskan kembali sentimen tenaga kerja dengan trajektori keuangan perusahaan yang sedang meroket .
Berlawanan dengan rumor yang beredar, data justru menunjukkan gambaran pertumbuhan kompensasi yang agresif. Pada Februari 2026, dewan direksi TSMC menyetujui total kumpulan bonus (bonus pool) yang mencapai rekor untuk tahun fiskal 2025 sebesar NT$206,15 miliar (sekitar US$6,54 miliar atau lebih dari Rp100 triliun)—melonjak 46,6% dari NT$140,5 miliar yang disetujui untuk tahun 2024 .
Dana raksasa ini terstruktur dalam dua bagian:
Sebagai konteks, pembayaran pada Agustus 2025 saja sudah mencetak rekor pada masanya, dengan rata-rata lebih dari NT$2 juta (~US$69.000 atau setara lebih dari Rp1 miliar) per karyawan, meningkat lebih dari NT$500.000 dari tahun dasar .
Kemarahan pekerja tidak lahir dari ruang hampa. Ia dipicu oleh kontras yang mencolok: hasil korporasi yang memecahkan rekor di satu sisi, dan ancaman yang dirasakan terhadap kompensasi pribadi di sisi lain.
Kekuatan finansial ini—didorong terutama oleh permintaan chip terkait AI—membuat rumor pemotongan bonus tampak sangat tidak rasional secara strategis, bahkan sebelum ada bantahan dari CEO.
Krisis bonus TSMC tidak terjadi secara terisolasi. Industri semikonduktor global sedang mengalami perang talenta yang akut, dengan perusahaan saling berebut insinyur yang semakin langka di tengah ledakan AI. Sektor chip Taiwan sendiri menghadapi kekurangan hampir 34.000 pekerja setiap bulannya, dan TSMC berada di bawah tekanan retensi seiring pembangunan kapasitas di tiga benua .
Aksi-aksi ketenagakerjaan dari kompetitor telah menciptakan cetak biru yang kuat bagi angkatan kerja TSMC. Para pekerja chip Samsung Electronics, yang terorganisir di bawah serikat pekerja yang mewakili sekitar 30.000 karyawan, telah menolak tawaran bagi hasil senilai sekitar 13% dari laba operasional dan mengancam akan melakukan mogok selama 18 hari pada Juni 2026. Serikat tersebut mendorong pembayaran 15% dari laba ditambah kenaikan upah pokok sebesar 7% .
Para pekerja TSMC secara eksplisit merujuk pada kasus Samsung di papan internal, dengan beberapa berargumen bahwa jika pekerja Korea Selatan bisa berorganisasi dan mogok demi upah yang lebih baik di tengah ledakan bisnis, karyawan TSMC pun seharusnya bisa melakukan hal yang sama . Ini menandai sebuah pergeseran ideologis yang signifikan bagi perusahaan yang budaya anti-serikatnya telah lama dianggap sebagai parit kompetitif. Kecepatan C.C. Wei secara pribadi membongkar krisis ini—membersihkan jadwalnya, menyebutkan angka kenaikan, dan menemui karyawan secara langsung—menunjukkan bahwa perusahaan memahami betul betapa berbahayanya preseden semacam itu jika dibiarkan berlarut.