Angka-angka ini bukan berarti semua chatbot memiliki tingkat kesalahan yang sama. Namun, temuan tersebut penting karena menunjukkan bahwa bahkan alat khusus, yang dirancang untuk riset hukum dan memakai sumber, tetap bisa menghasilkan jawaban salah atau tidak lengkap.
Dalam pencarian web biasa, kita melihat beberapa hasil, membuka beberapa halaman, lalu membandingkan sumber. Pada jawaban AI, proses itu sering dipadatkan menjadi satu jawaban yang sudah disusun rapi. Ini memang menghemat waktu, tetapi juga memindahkan beban pemeriksaan ke pengguna.
Sumber yang dicantumkan AI tidak otomatis membuktikan klaimnya. Yang perlu dicek adalah apakah sumber tersebut benar-benar mendukung pernyataan spesifik yang dibuat.
Hal yang paling perlu diperiksa ulang antara lain:
Buka sumbernya, cari bagian yang relevan, lalu pastikan klaim AI memang tertulis atau didukung di sana. Jika sumber hanya “sekilas berkaitan” tetapi tidak membuktikan pernyataan, jawaban itu belum terverifikasi.
Risiko ini bukan hanya masalah pengguna individu. Stanford AI Index 2025 menyebut ketidakakuratan sebagai salah satu kekhawatiran utama dalam penggunaan AI di perusahaan: 64% eksekutif yang disurvei menyebutnya sebagai masalah.
Laporan yang sama juga merujuk AI Incidents Database: pada 2024, ada 233 insiden terkait AI yang dilaporkan, naik 56,4% dibandingkan 2023.
Angka tersebut tidak secara langsung mengukur seberapa sering chatbot salah menjawab. Namun, data itu membantu menjelaskan mengapa organisasi perlu memiliki kontrol, pembagian tanggung jawab, dan pengawasan manusia saat memakai hasil AI.
AI paling aman dan bermanfaat ketika dipakai sebagai titik awal, bukan keputusan akhir. Contoh penggunaan yang masuk akal:
Dalam situasi seperti ini, nilai utama AI adalah mempercepat orientasi dan produktivitas. Verifikasi tetap tahap yang terpisah.
Berhati-hatilah jika jawaban AI:
Bidang hukum menjadi contoh peringatan yang kuat dari data yang tersedia: bahkan alat riset hukum berbasis AI yang khusus pun masih tercatat berhalusinasi atau memberi jawaban tidak lengkap dalam studi Stanford.
Gunakan daftar singkat ini sebelum memakai jawaban AI untuk hal penting:
Jawaban AI bisa mempercepat riset dan membuat informasi terasa lebih mudah diakses. Namun, data yang ada tidak mendukung kepercayaan buta: belum ada angka akurasi universal yang kuat, alat khusus pun bisa berhalusinasi, dan ketidakakuratan tetap menjadi risiko nyata dalam penggunaan sehari-hari maupun organisasi.
Aturan praktisnya sederhana: gunakan AI untuk bertanya dan menyusun arah, minta sumber, buka sumbernya, lalu cek klaim penting. Untuk keputusan yang berisiko tinggi, libatkan sumber primer dan tenaga profesional yang kompeten.