Untuk pembaca Indonesia, aturan ini paling relevan bila bisnis Anda mengembangkan, menawarkan, atau memakai AI dalam konteks pasar dan operasi Uni Eropa. Artikel ini bukan nasihat hukum, tetapi dapat menjadi peta awal untuk berdiskusi dengan tim legal, compliance, IT, produk, dan unit bisnis.
EU AI Act menggeser cara perusahaan melihat AI. Pertanyaannya bukan lagi sekadar, 'Boleh tidak memakai AI?' melainkan, 'Use case AI ini masuk kategori apa?'
Contohnya, alat internal untuk merangkum dokumen tidak bisa disamakan dengan sistem yang menyaring kandidat kerja, menilai performa karyawan, atau membantu mengambil keputusan yang berdampak pada seseorang. Sumber yang tersedia menggambarkan AI Act sebagai pendekatan bertahap: dimulai dari praktik AI yang dilarang, lalu kewajiban untuk model General-Purpose AI atau GPAI, kemudian sebagian besar kewajiban untuk sistem AI berisiko tinggi, dan setelah itu sejumlah sistem AI dalam produk yang sudah diatur oleh rezim produk tertentu.
Tiga pertanyaan praktis yang perlu dijawab perusahaan adalah:
Ringkasan ini tidak menggantikan telaah hukum, tetapi membantu perusahaan menyusun prioritas.
| Waktu | Hal yang mulai relevan | Dampak bagi perusahaan |
|---|---|---|
| Sejak Februari 2025 | Praktik AI yang dilarang | Perusahaan perlu lebih dulu memastikan suatu use case tidak masuk kategori terlarang. Tahap awal ini menargetkan praktik AI yang dianggap paling berbahaya dalam rencana penerapan AI Act. |
| Mulai Agustus 2025 | Kewajiban untuk model GPAI | Penyedia model General-Purpose AI perlu memeriksa kewajiban khusus GPAI. Salah satu sumber juga menjelaskan bahwa produk GPAI yang belum dirilis sebelum Agustus 2025 harus mengikuti regulasi baru mulai Agustus 2025. |
| Mulai 2 Agustus 2026 | Banyak kewajiban untuk AI berisiko tinggi | Untuk sistem AI berisiko tinggi dalam Annex III atau Lampiran III, kerangka kepatuhan penuh berlaku mulai 2 Agustus 2026. Salah satu sumber menyebut tanggal ini sebagai tenggat utama bagi banyak bisnis. |
| 2027/2028, tergantung rezim produk | AI berisiko tinggi dalam produk yang sudah diatur | Untuk sistem AI berisiko tinggi yang tertanam dalam produk yang telah berada di bawah aturan keselamatan produk Uni Eropa, salah satu sumber menjelaskan adanya masa transisi lebih panjang hingga 2027 dan 2028, bergantung pada rezim produk yang berlaku. |
Jangan mulai dari merek atau nama produknya. Mulailah dari tujuan penggunaan. Fakta bahwa sebuah produk memakai AI belum cukup untuk menentukan kewajiban perusahaan.
Yang perlu dilihat adalah apakah AI tersebut menilai manusia, memengaruhi akses ke kesempatan atau layanan, mengendalikan proses yang menyangkut keselamatan, atau hanya membantu pekerjaan internal yang dampaknya terbatas.
Perusahaan sebaiknya memeriksa lebih awal penggunaan AI di area sensitif. Sumber yang tersedia menyebut biometrik, infrastruktur kritis, pendidikan, ketenagakerjaan, dan layanan publik sebagai area yang dapat menimbulkan pertanyaan terkait AI berisiko tinggi.
Satu perusahaan bisa punya peran berbeda untuk aplikasi AI yang berbeda. Saat memakai alat AI yang dibeli dari vendor, perusahaan Anda mungkin terutama bertindak sebagai pengguna operasional atau deployer. Jika Anda memasarkan produk sendiri dengan fitur AI, kewajiban sebagai penyedia sistem AI bisa menjadi relevan. Jika Anda mengembangkan atau menyediakan model General-Purpose AI, ada isu GPAI yang perlu diperiksa secara khusus.
Klasifikasi peran ini penting karena kewajiban tidak hanya ditentukan oleh risiko sistem, tetapi juga oleh posisi perusahaan: menyediakan, mengoperasikan, atau menjadi penyedia model.
Sebagai pemeriksaan awal, gunakan empat langkah berikut:
Langkah praktis pertama adalah membuat AI register atau daftar inventaris AI. Jangan hanya mencatat proyek AI besar. Masukkan juga alat bantu internal, fitur AI dalam SaaS yang dibeli, otomatisasi, fitur produk buatan sendiri, dan model yang digunakan.
AI register yang berguna setidaknya memuat:
Inventarisasi ini menjadi dasar untuk memeriksa peran dan kategori risiko per use case secara dapat ditelusuri.
Tidak semua penggunaan AI perlu diperlakukan dengan intensitas yang sama. Dahulukan sistem yang menilai manusia, memengaruhi akses terhadap kesempatan atau layanan, atau digunakan di area sensitif seperti biometrik, infrastruktur kritis, pendidikan, ketenagakerjaan, dan layanan publik.
Dalam praktik bisnis, ini bisa mencakup alat HR, penyaringan kandidat, evaluasi performa, aplikasi yang dekat dengan keselamatan, dan sistem yang menyiapkan keputusan tentang seseorang. Namun, apakah sebuah kasus benar-benar termasuk AI berisiko tinggi tetap bergantung pada alur kerja yang konkret dan peran perusahaan Anda.
Untuk sistem AI berisiko tinggi, sumber yang tersedia menyebut persyaratan seperti manajemen risiko, dokumentasi teknis, dan penilaian kesesuaian. Tugas yang benar-benar jatuh kepada perusahaan Anda bergantung pada peran dan sistem yang digunakan. Untuk sistem AI berisiko tinggi dalam Annex III atau Lampiran III, kerangka kepatuhan penuh mulai relevan pada 2 Agustus 2026.
Persiapan yang masuk akal meliputi:
Literasi AI bukan hanya urusan sistem berisiko tinggi. Salah satu sumber menggambarkan kewajiban AI literacy sebagai kewajiban luas bagi penyedia dan deployer, terlepas dari tingkat risiko sistem AI mereka; bahkan organisasi yang hanya memakai sistem AI berisiko minimal tetap perlu memperhatikan literasi AI dan menghindari praktik yang dilarang.
Secara praktis, karyawan yang memilih, mengonfigurasi, atau memakai AI perlu memahami batas sistem, jenis kesalahan yang umum terjadi, dan kapan hasil AI harus ditinjau manusia.
Kuncinya tetap: dipakai untuk apa? Alat untuk merangkum teks atau membantu riset internal berbeda dari alat yang digunakan dalam HR, penilaian, akses ke layanan, atau proses sensitif lainnya. Meski risikonya tampak rendah, alat seperti ini tetap sebaiknya masuk AI register. Literasi AI dan aturan penggunaan yang jelas juga tetap relevan.
Periksa apakah perusahaan Anda dapat dianggap sebagai penyedia sistem AI dan apakah fitur tersebut masuk konteks berisiko tinggi. Untuk sistem AI berisiko tinggi, mulai 2026 akan semakin relevan persyaratan seperti manajemen risiko, dokumentasi teknis, dan penilaian kesesuaian.
Rekrutmen dan konteks ketenagakerjaan perlu diperiksa lebih awal karena ketenagakerjaan disebut dalam sumber sebagai area yang dapat memunculkan isu AI berisiko tinggi. Untuk scoring atau layanan pelanggan, penilaiannya sangat bergantung pada apakah AI hanya membantu staf, atau justru menyiapkan, memengaruhi, atau mengotomatisasi keputusan tentang seseorang. Tanpa gambaran alur kerja yang rinci, klasifikasi yang pasti tidak bisa dibuat secara bertanggung jawab.
Bagi perusahaan, pertanyaan terpenting dalam EU AI Act bukan 'bolehkah kami memakai AI?' melainkan 'use case apa yang sedang kami jalankan, apa peran kami, dan tenggat mana yang berlaku?'
Jika perusahaan hanya memakai beberapa alat AI internal, bebannya mungkin relatif terbatas. Namun AI register, aturan penggunaan, dan literasi AI tetap penting dan dalam beberapa konteks secara eksplisit relevan. Jika perusahaan menggunakan AI di area sensitif, menawarkan produk AI, atau menyediakan model GPAI, pemeriksaan sebaiknya tidak ditunda sampai 2026.