1. Model Bisnis ‘Murah’ Tergerus Aturan Bea Cukai Baru
Keunggulan utama SHEIN selama ini adalah harganya yang sangat murah. Ini dimungkinkan oleh ‘aturan de minimis’ di AS dan Eropa, yang membebaskan bea masuk untuk paket kecil (di bawah US$800 di AS). SHEIN mengirimkan pakaian langsung dari pabrik di China ke rumah pembeli di luar negeri, tanpa membayar bea. Namun, mulai tahun 2025–2026, AS dan Uni Eropa secara bertahap menghapus aturan ini untuk produk asal China, atau memberlakukan biaya baru untuk paket kecil. Akibatnya, biaya pengiriman, bea cukai, dan kepabeanan membengkak, memangkas habis margin tipis SHEIN dan memaksa mereka menaikkan harga—yang justru menghilangkan daya tarik utama mereka di mata konsumen.
2. Pertumbuhan Melambat, Profitabilitas Tertekan
Di masa kejayaannya, investor membayar mahal untuk pertumbuhan eksplosif dan efisiensi rantai pasok SHEIN. Kini, pertumbuhan penjualan mulai melambat sementara biaya justru meningkat. Laporan keuangan yang bocor ke publik menunjukkan laba SHEIN pada tahun 2024 turun hampir 40% menjadi hanya sekitar US$1 miliar. Margin keuntungan yang menipis membuat investor sulit menerima valuasi setinggi sebelumnya.
3. Persaingan Sengit dari Temu dan yang Lain
Pasar e-commerce murah semakin ramai. Temu, platform belanja asal China lainnya, menggunakan strategi yang sama—harga super murah, diskon besar-besaran, dan iklan agresif—untuk merebut pangsa pasar yang sama. Persaingan ini memaksa SHEIN untuk terus menggelontorkan dana besar untuk diskon dan pemasaran, yang pada akhirnya menekan profitabilitas dan menghilangkan ‘kelangkaan’ SHEIN sebagai satu-satunya pemain besar di segmen ini.
4. Regulasi dan ‘Ganjalan’ IPO
Rencana IPO SHEIN berlarut-larut sejak tahun 2022. Mereka sempat ingin melantai di New York, lalu beralih ke London, dan akhirnya kini fokus ke Hong Kong. Setiap perubahan tujuan diiringi dengan penyelidikan baru oleh regulator setempat, mulai dari isu hak buruh di pabrik pemasok, transparansi rantai pasok, keamanan produk, hingga potensi pelanggaran data. Ketidakpastian ini membuat IPO tertunda, yang berarti investor awal harus menunggu lebih lama untuk ‘mencairkan’ investasi mereka. Akibatnya, di pasar privat, saham SHEIN diperdagangkan dengan diskon besar—bahkan ada yang menawarkan diskon hingga 30% dari valuasi sebelumnya—karena risikonya dianggap lebih tinggi.
Intinya, penurunan valuasi SHEIN bukan semata-mata karena bisnisnya memburuk, melainkan karena asumsi dasar yang dulu membuatnya begitu bernilai—pertumbuhan tinggi, biaya rendah, dan minim gesekan regulasi—kini sedang diuji habis-habisan oleh perubahan tarif, persaingan, dan lingkungan regulasi yang jauh lebih ketat.