Selama enam minggu, kelompok-kelompok tersebut secara berulang memainkan salah satu jenis permainan papan: kooperatif atau kompetitif (ini adalah desain between-subject, di mana kelompok yang berbeda mendapat perlakuan yang berbeda). Tepat setelah setiap sesi permainan, para peneliti memberikan sebuah tugas untuk mengamati berbagai perilaku anak, termasuk tindakan kooperatif (bekerja sama), prososial (menolong/berbagi), kompetitif, dan antisosial (agresif/merugikan orang lain).
Lantas, apa yang mereka temukan? Hasilnya mungkin sedikit mengejutkan bagi sebagian orang tua dan pendidik.
Inti dari temuan Eriksson dan rekan-rekannya adalah: jenis permainan papan yang dimainkan—kooperatif atau kompetitif—tidak memberikan efek yang signifikan terhadap perilaku kooperatif, prososial, atau antisosial anak-anak selanjutnya.
Dengan kata lain, anak yang baru saja bermain permainan papan kooperatif tidak otomatis menjadi lebih ringan tangan atau lebih suka menolong di tugas berikutnya, dibandingkan dengan anak yang bermain permainan kompetitif. Kedua jenis permainan ini nyatanya sama-sama memunculkan jumlah perilaku kooperatif dan prososial yang setara.
Lalu, apa bedanya? Satu-satunya perbedaan perilaku yang diamati adalah pada perilaku kompetitif. Hasil studi menunjukkan bahwa anak-anak yang bermain permainan papan kompetitif cenderung berkompetisi lebih banyak di tugas setelahnya.
Penting untuk digarisbawahi, meski temuan ini menunjuk ke arah sana, para peneliti sendiri mencatat bahwa pengukuran spesifik untuk perilaku kompetitif dalam studi mereka kurang reliabel, sehingga hasil ini perlu ditafsirkan secara lebih hati-hati.
Penelitian ini memberikan perspektif yang lebih bernuansa tentang peran permainan. Anggapan selama ini bahwa permainan kooperatif selalu "baik" untuk mengembangkan jiwa sosial dan permainan kompetitif selalu "buruk" tampaknya terlalu menyederhanakan masalah.
Temuan bahwa kedua jenis permainan menghasilkan tingkat kerja sama dan tolong-menolong yang serupa bisa jadi terjadi karena unsur mendasar yang Anda sebutkan: semua permainan papan pada dasarnya adalah arena latihan sosial. Terlepas dari tujuannya, setiap anak harus:
Keterampilan fundamental inilah yang mungkin lebih berperan besar dalam melatih kontrol diri dan interaksi sosial, ketimbang narasi kerja sama atau kompetisi yang diusung permainan. Studi lain yang lebih baru bahkan menunjukkan bahwa dalam beberapa konteks, permainan kooperatif bisa lebih efektif untuk mengembangkan perilaku berbagi , namun untuk studi khusus ini, perbedaan tersebut tidak muncul.
Jika Anda sedang menulis karya ilmiah atau tugas kuliah, berikut format referensi yang bisa digunakan sesuai kaidah APA edisi ke-7:
Eriksson, M., Kenward, B., Poom, L., & Stenberg, G. (2021). The behavioral effects of cooperative and competitive board games in preschoolers. Scandinavian Journal of Psychology, 62(3), 355–364. https://doi.org/10.1111/sjop.12708
Untuk kutipan dalam teks, Anda bisa menuliskan:
Comments
0 comments