Jawaban singkatnya: bila cairan di rongga rahim benar-benar masih ada pada hari transfer, umumnya transfer embrio sebaiknya tidak dilanjutkan hari ini. Dalam konteks IVF atau bayi tabung, cairan di rongga endometrium—sering disebut endometrial cavity fluid atau ECF—terutama yang menetap sampai hari transfer, dalam banyak literatur dianggap sebagai tanda yang kurang menguntungkan untuk implantasi embrio.[1][
2][
5]
Namun, kata kuncinya adalah “terkonfirmasi”. Bila laporan USG hanya menyebut “diduga ada cairan”, dokter perlu menilai ulang secara langsung: apakah itu benar cairan di rongga endometrium, seberapa banyak, apakah hanya jejak sangat tipis, apakah sudah menghilang saat pemeriksaan ulang, atau justru merupakan kantong cairan yang nyata.
Mengapa cairan di rongga endometrium dipersoalkan?
Pada kondisi ideal, rongga rahim adalah ruang potensial: dinding endometrium saling berdekatan dan siap menerima embrio. Bila ada cairan di antara lapisan tersebut, lingkungan tempat embrio akan diletakkan bisa menjadi kurang optimal. Beberapa studi dan tinjauan menyebut adanya cairan di rongga endometrium sebelum atau saat transfer embrio berkaitan dengan kegagalan implantasi atau hasil kehamilan yang lebih buruk.[1][
2][
5]
ECF juga dapat berkaitan dengan beberapa kondisi yang perlu dicari penyebabnya, termasuk hidrosalping atau penumpukan cairan pada tuba falopi, PCOS, dan infeksi rahim subklinis.[2][
6] Karena itu, masalahnya bukan hanya “ada cairan atau tidak”, tetapi juga dari mana cairan itu berasal dan apakah akan berulang.
Apa yang biasanya dilakukan klinik IVF?
Pendekatan yang cukup umum adalah observasi dengan USG berulang sampai hari transfer. Bila cairan menghilang sebelum transfer, transfer dapat dipertimbangkan untuk dilanjutkan. Bila cairan tetap terlihat pada hari transfer, banyak klinik memilih membatalkan transfer pada siklus itu.[3][
4]
Alasan penundaan ini sederhana: daripada menempatkan embrio ke lingkungan rahim yang mungkin kurang reseptif, embrio dapat dibekukan dan transfer dilakukan pada siklus berikutnya setelah rongga rahim tampak bersih. Pada siklus transfer embrio beku atau frozen embryo transfer (FET), studi menunjukkan bahwa bila ECF sudah menghilang sebelum transfer, angka kelahiran hidup dapat serupa dengan pasien yang sejak awal tidak memiliki ECF.[3]
Apakah selalu harus batal?
Tidak selalu, tetapi kehati-hatian tetap penting. Ada beberapa keadaan yang dapat mengubah keputusan:
- Cairan hanya sangat sedikit dan hilang saat USG ulang. Dalam situasi ini, transfer mungkin masih dipertimbangkan oleh dokter.[
3][
4]
- Cairan menetap sampai hari transfer. Ini yang paling sering membuat dokter menyarankan pembatalan atau penundaan transfer.[
2][
4][
5]
- Cairan dapat diaspirasi atau disedot sebelum transfer. Ada studi prospektif berpasangan yang melaporkan aspirasi cairan endometrium tepat sebelum transfer tidak memperburuk luaran IVF atau transfer embrio beku, bahkan mungkin memperbaiki angka implantasi blastokista beku-cair; tetapi penulisnya tetap menyatakan uji acak terkontrol masih diperlukan untuk memastikan hasil tersebut.[
8]
Jadi, aspirasi cairan bukan solusi otomatis untuk semua pasien. Keputusan ini sangat bergantung pada jumlah cairan, penyebab yang dicurigai, kualitas dan jumlah embrio, riwayat kegagalan implantasi, serta kebijakan klinik.
Informasi yang perlu dipastikan hari ini
Sebelum memutuskan transfer, pasien sebaiknya meminta tim IVF menjawab beberapa hal berikut:
- Apakah benar cairan berada di rongga endometrium, bukan artefak gambar atau struktur lain?
- Berapa ukurannya? Apakah hanya trace atau kantong cairan yang jelas?
- Apakah cairan baru muncul, sudah ada sejak awal pemantauan, atau bertambah?
- Apakah ini transfer embrio segar atau transfer embrio beku?
- Berapa ketebalan endometrium dan bagaimana polanya di USG?
- Apakah ada riwayat hidrosalping, PCOS, infeksi rahim, polip, atau temuan histeroskopi sebelumnya?
- Apakah dokter mempertimbangkan pembekuan semua embrio dan menjadwalkan FET pada siklus berikutnya?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena istilah “cairan” di USG tidak selalu berarti risiko yang sama pada setiap pasien.
Bila transfer ditunda, apa langkah berikutnya?
Bila dokter memutuskan transfer dibatalkan, langkah berikutnya biasanya adalah mencari penyebab dan merencanakan siklus yang lebih aman. Evaluasi dapat mencakup penilaian kemungkinan hidrosalping, faktor rongga rahim, PCOS, atau infeksi subklinis.[2]
Untuk FET berikutnya, dokter dapat memilih persiapan endometrium sesuai kondisi pasien, misalnya siklus natural, natural termodifikasi, atau siklus dengan hormon pengganti. Literatur mengenai persiapan endometrium untuk FET membahas perbedaan waktu transfer berdasarkan awal progesteron, lonjakan LH, atau pemberian hCG sesuai jenis protokol.[7]
Kesimpulan praktis
Bila USG hari ini benar-benar menunjukkan cairan di rongga endometrium dan cairan itu masih menetap, pilihan yang lebih aman secara klinis biasanya adalah menunda atau membatalkan transfer hari ini, lalu mengevaluasi penyebabnya.[2][
4][
5] Bila cairan ternyata sudah menghilang saat pemeriksaan ulang, transfer dapat dipertimbangkan dan data FET menunjukkan peluang kelahiran hidup bisa mendekati pasien yang tidak pernah memiliki ECF.[
3]
Ini bukan nasihat medis personal. Keputusan akhir harus dibuat oleh dokter fertilitas yang melihat USG secara langsung dan memahami seluruh riwayat pasien. Bila Anda berada di klinik hari ini, segera minta dokter menjelaskan: “Apakah cairan masih ada sekarang, berapa ukurannya, dan apakah lebih baik embrio dibekukan untuk transfer berikutnya?”



