Direktur Utama Rio Tinto, Simon Trott, menyebutkan bahwa semester pertama tahun ini adalah sebuah 'step-change' atau perubahan besar dalam kinerja perusahaan . Lalu, apa saja yang menjadi pendorong utama lonjakan laba ini?
Divisi yang paling bersinar adalah tembaga. EBITDA divisi tembaga melonjak 84% hingga mencapai angka rekor . Hal ini tidak lepas dari terus meningkatnya produksi di tambang bawah tanah Oyu Tolgoi di Mongolia. Produksi tembaga di tambang ini melonjak 31% pada semester pertama tahun ini
.
Total produksi tembaga konsolidasian Rio Tinto mencapai 442.000 ton pada H1 2026, naik 1% dibandingkan tahun lalu . Bahkan, biaya produksi tembaga mereka berhasil ditekan secara drastis. Panduan biaya C1 per pon tembaga dipangkas dari 65–75 sen menjadi hanya 30–50 sen berkat efisiensi operasional dan tingginya harga emas sebagai produk sampingan
.
Meski bukan lagi menjadi satu-satunya andalan, kinerja divisi bijih besi Rio Tinto tetap solid. Produksi di tambang Pilbara, Australia, mencapai level tertinggi kedua untuk kuartal pertama sejak 2018 .
Penjualan bijih besi meningkat 5% secara tahunan menjadi 157,7 juta ton, didukung oleh permintaan stabil dari China . Sebagai pencapaian penting, pengiriman pertama produk bijih besi berkadar tinggi dari proyek Simandou di Guinea juga telah berhasil dikirimkan ke China pada awal 2026
.
Kinerja gemilang ini langsung diterjemahkan ke dalam imbal hasil yang lebih besar bagi para pemegang saham. Rio Tinto mengumumkan kenaikan dividen interim sebesar 43% menjadi US$3,4 miliar (setara 211 sen AS per saham) .
| Metrik | Hasil H1 2026 | Perubahan vs H1 2025 |
|---|---|---|
| Arus kas bebas | US$3,8 miliar | +75% |
| Arus kas operasional | US$9,2 miliar | — |
| Dividen interim | US$3,4 miliar (211 sen/saham) | +43% |
Lonjakan arus kas bebas didorong oleh pendapatan yang lebih tinggi, manajemen modal kerja yang efektif, dan alokasi modal yang disiplin . Saham Rio Tinto pun langsung merespons positif dengan naik hampir 5% pada hari pengumuman
.
Rio Tinto mempertahankan panduan produksi tahun penuh 2026 tidak berubah untuk semua komoditas utama. Ini menandakan keyakinan manajemen terhadap momentum operasional yang ada .
CEO Simon Trott menekankan bahwa investasi perusahaan akan terus difokuskan pada proyek-proyek pertumbuhan di sektor tembaga, litium, dan aluminium . Hal ini sejalan dengan strategi Rio Tinto untuk bertransformasi menjadi pemasok mineral kritis yang terdiversifikasi. Saat ini, kontribusi tembaga, aluminium, dan litium telah melebihi 50% dari total EBITDA inti perusahaan
.
Intinya, hasil semester I 2026 Rio Tinto menunjukkan titik balik yang jelas. Perusahaan tidak lagi bergantung pada bijih besi, melainkan mulai menuai hasil dari investasi di logam-logam yang menjadi tulang punggung transisi energi dan era kecerdasan buatan. Dengan tembaga yang bersinar, biaya yang terkendali, dan dividen yang terus bertumbuh, Rio Tinto berada di jalur yang tepat untuk meraih masa depan yang cerah .