Angka yang paling menarik perhatian pasar adalah laba inti per saham sebesar US$2,63. Hasil tersebut mengungguli konsensus analis sebesar US$2,48, atau lebih tinggi US$0,15 per saham . Laba per saham yang dilaporkan tercatat US$1,61, sementara laba bersih mencapai US$2,51 miliar . Pendapatan sedikit berada di bawah perkiraan pasar, tetapi capaian labanya jelas lebih kuat dari ekspektasi .
Untuk enam bulan pertama 2026, pendapatan AstraZeneca mencapai US$30,7 miliar, naik 6% berdasarkan CER. Laba inti per saham meningkat 11% secara tahunan menjadi US$5,21 . Penjualan produk mencapai US$28,9 miliar, sedangkan pendapatan aliansi—yang didorong oleh kenaikan bagi hasil dari obat hasil kemitraan seperti Enhertu—melonjak 29% berdasarkan CER menjadi US$1,7 miliar .
Margin kotor inti berada di level 83%, dan perusahaan menaikkan dividen interim sebesar US$0,03 menjadi US$1,06 per saham .
Segmen Onkologi dan Rare Disease atau penyakit langka menjadi penopang pertumbuhan, mengimbangi penurunan di segmen BioPharmaceuticals akibat persaingan obat generik untuk Farxiga dan Brilinta .
Permintaan kuat terhadap obat kanker Imfinzi dan Enhertu menjadi penggerak utama kinerja kuartal ini . AstraZeneca juga kembali mempertahankan panduan 2026: pertumbuhan laba inti per saham pada kisaran rendah dua digit serta pertumbuhan pendapatan pada kisaran menengah hingga tinggi satu digit, berdasarkan CER .
Kinerja komersial yang kuat bukan satu-satunya kabar positif. AstraZeneca juga mencatat kemajuan penting dalam pengembangan obat kanker melalui sonesitatug vedotin (soniV), obat konjugat antibodi atau antibody-drug conjugate (ADC) pertama yang sepenuhnya dimiliki perusahaan.
SoniV mencapai hasil positif terkait kelangsungan hidup dalam pengujian untuk kanker lambung. Manajemen memperkirakan potensi penjualan puncaknya berada di kisaran US$3–5 miliar .
ADC dirancang untuk mengantarkan obat secara lebih terarah ke sel kanker dengan memanfaatkan antibodi. Bagi AstraZeneca, hasil ini menjadi validasi penting atas kemampuan internal perusahaan dalam mengembangkan platform tersebut—bidang yang telah mendapat investasi besar.
Obat-obatan onkologi yang sudah dipasarkan, termasuk Imfinzi dan Enhertu, juga terus mencatat permintaan kuat. Secara keseluruhan, pendapatan segmen onkologi tumbuh sekitar 15–16% berdasarkan CER . Manajemen menekankan bahwa luasnya pipeline onkologi dapat membantu perusahaan menyerap dampak kegagalan program di area lain .
Kabar buruk datang dari program Wainua (eplontersen). Pada 9 Juli 2026, AstraZeneca dan Ionis Pharmaceuticals mengumumkan bahwa uji fase III CARDIO-TTRansform tidak memenuhi titik akhir efikasi utamanya pada pasien dengan kardiomiopati amiloid yang dimediasi transtiretin atau ATTR-CM .
Titik akhir tersebut menggabungkan kematian akibat penyakit kardiovaskular dan kejadian klinis kardiovaskular berulang hingga 140 minggu dibandingkan dengan plasebo. Wainua secara umum dapat ditoleransi dengan baik, tetapi penambahannya ke terapi standar tidak menghasilkan manfaat yang signifikan secara statistik .
Kegagalan ini sempat menekan saham AstraZeneca dan mengalihkan perhatian investor ke pipeline di luar bisnis onkologi . Namun, dampak finansial langsungnya dinilai terbatas. Sejumlah analis memperkirakan kegagalan uji tersebut hanya mengurangi sekitar 2–4% dari model valuasi mereka, karena Wainua sebelumnya tidak diperkirakan menjadi salah satu produk terbesar AstraZeneca .
Dalam paparan hasil kuartal kedua, perusahaan berupaya menunjukkan bahwa diversifikasi pipeline dapat menjadi penyangga ketika sebuah kandidat obat gagal. Keberhasilan soniV di kanker lambung menjadi salah satu bukti yang diangkat manajemen .
AstraZeneca kembali menegaskan target pendapatan tahunan US$80 miliar pada 2030, yang pertama kali ditetapkan pada 2024 . Direktur Keuangan Aradhana Sarin mengatakan kepada Bloomberg bahwa perusahaan berada “sangat tepat di jalur” untuk mencapai target tersebut .
CEO Pascal Soriot juga menggunakan hasil Q2 yang kuat untuk menepis anggapan bahwa kegagalan Wainua telah mengubah perhitungan jangka panjang perusahaan .
Target tersebut bergantung pada beberapa sumber pertumbuhan:
Manajemen mengakui bahwa 2026 merupakan tahun transisi. AstraZeneca menghadapi hilangnya eksklusivitas sejumlah obat lama, termasuk Farxiga dan Brilinta, serta kemungkinan dampak regulasi harga obat di Amerika Serikat . Meski demikian, perusahaan mengandalkan momentum pipeline dan peluncuran produk baru untuk menjaga laju pertumbuhan.
Analis JPMorgan menilai target US$80 miliar tersebut masih dapat dicapai setelah AstraZeneca melaporkan hasil kuartal kedua .
Hasil Q2 2026 memperlihatkan dua sisi AstraZeneca. Di satu sisi, laba mengungguli ekspektasi dan bisnis onkologi terus tumbuh berkat Imfinzi, Enhertu, serta keberhasilan awal ADC soniV. Di sisi lain, kegagalan Wainua mengingatkan investor bahwa pipeline obat tetap penuh ketidakpastian.
Untuk saat ini, manajemen masih meyakini bahwa skala dan diversifikasi portofolionya cukup kuat untuk menyerap kemunduran tersebut. Karena itu, target pendapatan US$80 miliar pada 2030 tetap dipertahankan—meski pencapaiannya akan sangat bergantung pada keberhasilan peluncuran obat baru dan kemampuan perusahaan mengatasi tekanan obat generik.