Di sinilah pemangkasan target harga oleh Barclays dan Deutsche Bank menjadi penting. Keduanya tidak benar-benar membaca Nokia dengan cara yang sama: Barclays menilai pertumbuhan AI belum cukup untuk menutup kelemahan bisnis telekomunikasi lama, sementara Deutsche Bank masih melihat transformasi Nokia sebagai peluang jangka panjang.
Hasil Nokia menunjukkan kombinasi kabar baik dan risiko yang masih besar:
Dengan kata lain, Nokia berhasil mengalahkan ekspektasi pada ukuran laba yang disesuaikan, tetapi kualitas pendapatan dan kemampuan mengubah pertumbuhan menjadi kas masih dipertanyakan.
Bagian paling menonjol dari laporan tersebut adalah bisnis yang terkait dengan AI dan cloud. Penjualan Nokia kepada pelanggan di segmen ini meningkat 105% menjadi €446 juta . Penerimaan pesanan AI dan cloud juga mencapai €2,8 miliar .
Bisnis jaringan yang mendukung pembangunan pusat data AI ikut tumbuh kuat. Penjualan Optical Networks naik 20%, sedangkan IP Networks meningkat 16% .
Meski demikian, pertumbuhan pesanan belum otomatis menjadi pendapatan dalam waktu dekat. Manajemen menggambarkan buku pesanan tersebut sebagai “lumpy”, atau tidak merata dari satu periode ke periode lain. Nokia juga memperingatkan adanya keterbatasan pasokan memori yang berpotensi menunda pengakuan pendapatan . Hanya sekitar separuh dari pesanan AI dan cloud senilai €2,8 miliar yang diperkirakan berubah menjadi pendapatan dalam 12 bulan .
Bagi investor bearish, jeda antara besarnya pesanan dan realisasi pendapatan inilah masalah utamanya. Pertumbuhan permintaan terlihat menjanjikan, tetapi belum tentu segera menghasilkan margin dan arus kas yang lebih kuat.
Reaksi Nokia merupakan contoh klasik “sell the news”—saham melemah setelah berita yang sebenarnya cukup baik karena ekspektasi pasar sudah terlalu tinggi. Penurunan 5,35% pada 24 Juli menghapus kenaikan sekitar 5% menjelang publikasi laporan keuangan .
Investor tampaknya lebih fokus pada beberapa risiko berikut:
Pada akhir Juli, American depositary receipt (ADR) Nokia di Bursa New York diperdagangkan sekitar 44% di bawah puncak Juni sebesar US$17,45 . ADR adalah instrumen yang mewakili saham perusahaan asing dan diperdagangkan di bursa Amerika Serikat.
Barclays, melalui analis Simon Coles, memangkas target harga Nokia dari €8,50 menjadi €8,00 dan mempertahankan rekomendasi Underweight/Sell .
Pandangan ini mencerminkan keraguan bahwa lonjakan permintaan AI saja dapat menyelamatkan bisnis peralatan telekomunikasi lama Nokia. Dalam perspektif Barclays, belanja telekomunikasi tradisional menghadapi tekanan struktural. Karena itu, pertumbuhan pesanan dari pelanggan AI dan cloud belum cukup untuk mengimbangi pelemahan bisnis inti di tingkat grup.
Deutsche Bank mengambil posisi yang lebih optimistis. Bank ini mempertahankan rekomendasi Buy, tetapi memangkas target harga dari €13,50 menjadi €11,50 .
Perbedaan tersebut penting: Deutsche Bank tampaknya menilai pergeseran Nokia menuju infrastruktur AI dan cloud dapat mengubah struktur bisnis perusahaan dalam beberapa tahun ke depan. Barclays, sebaliknya, lebih menekankan risiko bahwa transformasi itu membutuhkan waktu terlalu lama dan biaya terlalu besar sebelum manfaatnya terasa bagi pemegang saham.
Perbedaan tersebut bukan hanya terjadi antara Barclays dan Deutsche Bank. Pasar secara keseluruhan menunjukkan perbedaan pandangan yang sangat lebar:
| Kelompok optimistis | Kelompok pesimistis |
|---|---|
| Danske Bank — Buy dengan target €14; menilai Nokia mulai mengurangi ketergantungan pada peralatan telekomunikasi dan beralih ke infrastruktur AI | Barclays — Sell dengan target €8; melihat tekanan struktural pada bisnis telekomunikasi lama |
| SEB — Menaikkan rekomendasi menjadi Buy dengan target €12; memperkirakan momentum pesanan AI tetap kuat | DNB Carnegie — Menurunkan rekomendasi menjadi Sell dengan target €8,40; menilai reli saham berbasis AI sudah terlalu cepat |
| Deutsche Bank — Buy dengan target €11,50 | Landesbank Baden-Württemberg — Sell dengan target €9,75 |
Konsensus target harga berada di sekitar US$12,57 untuk ADR Nokia pada akhir Juli, yang mengimplikasikan potensi penurunan sekitar 8,4% dari harga penutupan 23 Juni sebesar US$13,72 . Sementara itu, jarak antara target tertinggi—€14 dari Danske Bank—dan target terendah—€8 dari Barclays—mencapai 75% .
Rentang sebesar itu menunjukkan bahwa analis belum sepakat apakah Nokia merupakan perusahaan telekomunikasi yang sedang menurun dengan tambahan bisnis AI, atau pemain infrastruktur AI yang sedang tumbuh dari fondasi lamanya.
Penjualan AI dan cloud naik 105% dan pesanan mencapai €2,8 miliar. Namun, segmen tersebut baru menyumbang sekitar 9% dari pendapatan konsolidasi, sehingga belum cukup besar untuk mengubah kinerja grup secara drastis . Investor bearish masih menunggu bukti bahwa pertumbuhan itu dapat menghasilkan margin dan imbal hasil pemegang saham yang lebih tinggi .
Bisnis jaringan telekomunikasi inti masih menyumbang lebih dari 90% pendapatan Nokia dan hanya tumbuh 4% pada kuartal II, menurut salah satu analisis . Pelemahan belanja telekomunikasi tradisional, keterbatasan pasokan memori, dan risiko eksekusi masih membayangi prospek perusahaan .
Selisih target 75% bukanlah perbedaan kecil. Itu menunjukkan bahwa nilai Nokia sangat bergantung pada asumsi tentang kecepatan pertumbuhan AI, margin yang bisa dicapai, dan kemampuan manajemen mengubah pesanan menjadi pendapatan serta kas.
Laba yang lebih baik dari perkiraan kalah oleh kekhawatiran tentang kualitas pendapatan, pembakaran kas, biaya restrukturisasi, dan konversi buku pesanan AI menjadi kas pada paruh kedua 2026 . Pasar kini menilai risiko pelaksanaan strategi—sesuatu yang tidak selalu terlihat dari angka laba komparabel saja.
Pemangkasan target Barclays dan Deutsche Bank sebenarnya tidak saling bertentangan. Keduanya hanya menilai cerita Nokia dari horizon waktu yang berbeda.
Barclays bertaruh bahwa transformasi Nokia akan berjalan terlalu lambat dan membutuhkan biaya terlalu besar, sementara bisnis telekomunikasi lamanya terus tertekan. Deutsche Bank bertaruh bahwa siklus investasi infrastruktur AI akan tumbuh cukup cepat untuk mengangkat Nokia sebelum bisnis inti tersebut menjadi beban yang lebih berat.
Dua kuartal berikutnya akan menjadi ujian penting. Investor perlu memantau apakah pesanan AI benar-benar berubah menjadi pendapatan, apakah arus kas bebas kembali positif, dan apakah pertumbuhan bisnis baru mampu mengimbangi tekanan pada bisnis telekomunikasi tradisional. Ini bukan nasihat investasi, tetapi indikator-indikator tersebut kemungkinan besar akan menentukan apakah pandangan Barclays atau Deutsche Bank yang lebih mendekati kenyataan.