Aranca Research mencatat bahwa total penerbitan hingga Juni 2026 mencapai US$83 miliar, mengalahkan jatuh tempo sebesar US$57 miliar, yang mengindikasikan bahwa pasar tidak hanya tumbuh tetapi juga berhasil membiayai kembali (refinancing) sejumlah besar utang yang jatuh tempo .
Jumlah transaksi turun tajam dari 215 pada H1 2025 menjadi 161 pada H1 2026, atau turun 25% . Penurunan jumlah transaksi di tengah peningkatan volume total ini mengindikasikan kenaikan signifikan pada ukuran rata-rata transaksi. Berdasarkan data Markaz, rata-rata nilai transaksi naik dari sekitar US$430 juta menjadi sekitar US$638 juta . Pergeseran ini didorong oleh penerbitan jumbo dari pemerintah dan perusahaan quasi-pemerintah (BUMN), di mana pemerintah dan entitas besar terkait negara mengkonsolidasikan pinjaman mereka ke dalam jumlah transaksi yang lebih sedikit namun lebih besar.
Laporan Markaz H1 2026 memberikan gambaran rinci per negara :
Tema yang mendefinisikan H1 2026 adalah pergeseran tegas menuju obligasi konvensional dalam dolar AS. Data Kamco Invest menunjukkan penerbitan obligasi konvensional naik sekitar 41% YoY menjadi US$86,4 miliar, sementara penerbitan sukuk turun sekitar 26% menjadi US$30,5 miliar . Ini merupakan pembalikan tajam dari tren H1 2025.
Namun, gambaran ini perlu dicermati. S&P Global Ratings melaporkan bahwa penerbitan sukuk GCC naik 13,1% dalam empat bulan pertama tahun 2026, terutama didorong oleh sukuk lokal Saudi (berdenominasi riyal Saudi), yang diuntungkan oleh pelebaran selisih imbal hasil (yield spread) terhadap acuan dolar AS . Aranca mencatat bahwa sukuk masih mencakup lebih dari 30,5% dari total pasar kredit dolar AS GCC yang beredar, menunjukkan basis yang substansial meskipun terjadi pergeseran dalam penerbitan baru .
Lembaga keuangan menjadi kategori peminjam terbesar pada H1 2026. Bank dan perusahaan keuangan mendominasi penerbitan karena mereka membiayai kembali utang yang jatuh tempo dan mengumpulkan modal untuk ekspansi. Aranca melaporkan bahwa "sektor keuangan memimpin pertumbuhan" di pasar kredit GCC . Penerbitan utama H1 2026 mencakup Emirates NBD, First Abu Dhabi Bank, dan Dukhan Bank .
Pasar mengalami aksi jual tajam pada akhir Februari 2026 setelah konflik Iran-AS pecah. Selisih imbal hasil (yield spreads) melebar secara dramatis, dan menurut data LSEG, pasar GCC "praktis terhenti pada bulan Maret" karena penerbit menunda transaksi . Fitch Ratings mencatat bahwa peminjam "secara efektif membekukan penjualan obligasi dolar AS dan sukuk baru" selama puncak krisis .
Reli lega (relief rally) yang jelas dimulai setelah gencatan senjata Iran-AS pada 8 April 2026, dengan pasar utang GCC pulih secara bertahap . Imbal hasil investasi (investment-grade spreads) kembali ke level pra-perang pada pertengahan Juni . Pemulihan ini menghidupkan kembali aktivitas penerbitan secara tajam — total US$7,5 miliar utang diterbitkan oleh QatarEnergy, AviLease, Emirates NBD, First Abu Dhabi Bank, Dukhan Bank, dan Burjeel Holdings pada pekan terakhir bulan Juni saja .
London terus menjadi tujuan pencatatan internasional yang disukai bagi penerbit obligasi dan sukuk GCC. Fortune melaporkan pada 30 Juni 2026 bahwa sukuk baru senilai US$500 juta dijadwalkan akan dicatatkan di Pasar Sekuritas Internasional Bursa Efek London (London Stock Exchange) pada 1 Juli . Penerbit GCC secara konsisten lebih memilih London karena basis investornya yang dalam, kerangka regulasi internasional, dan infrastruktur pencatatan sukuk yang mapan.
H1 2026 adalah periode dengan kontras yang tajam bagi pasar utang GCC. Total penerbitan tumbuh, tetapi melalui transaksi yang lebih sedikit dan lebih besar yang dipimpin oleh peminjam pemerintah dan sektor keuangan. Pasar menunjukkan ketahanan yang signifikan, mampu menyerap guncangan geopolitik besar dan kembali normal dalam waktu dua bulan setelah gencatan senjata. Data dengan jelas menunjukkan pergeseran struktural: obligasi konvensional dolar AS menjadi instrumen pilihan untuk penerbitan baru, sementara sukuk — meskipun tumbuh di pasar domestik Saudi — kehilangan pangsa di segmen internasional. Pasar utang kawasan yang semakin dalam, kini melebihi US$1,2 triliun total sekuritas yang beredar, terus menarik investor global, dengan London berfungsi sebagai gerbang utamanya.