Lima raksasa minyak barat (ExxonMobil, Chevron, Shell, BP, TotalEnergies) diproyeksikan membukukan laba gabungan kuartal II 2026 sebesar US$35 40 miliar atau lebih—salah satu rekor laba kuartalan tertinggi sepanjang s... Penyebab utama ledakan laba adalah perang AS Israel melawan Iran yang dimulai akhir Februari 202...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: Search & fact-check with cited sources for What combined quarterly profit are the five Western oil supermajors (ExxonMobil, Chevron, Shell,. Article summary: **Note:** The evidence available covers most of your questions but has gaps on specific actual reported figures for Shell, BP, Equinor (Q2), and Trump administration political scrutiny. Below is what is supported by sour. Topic tags: general, news, general web, user generated. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts wi
Lima perusahaan minyak raksasa Barat—ExxonMobil, Chevron, Shell, BP, dan TotalEnergies—diproyeksikan membukukan laba gabungan kuartal II (April-Juni) 2026 sebesar US$35-40 miliar. Jumlah ini setara dengan sekitar Rp 560-640 triliun (kurs Rp 16.000/US$) dan merupakan salah satu laba kuartalan tertinggi yang pernah tercatat. Pendapatan fantastis ini hampir sepenuhnya dipicu oleh perang AS-Israel dengan Iran yang dimulai akhir Februari 2026 dan penutupan Selat Hormuz, jalur laut yang menjadi lintasan 20% minyak dan LNG dunia .
Namun perlu dicatat, angka ini masih berupa proyeksi. Chevron baru akan mengumumkan laporan keuangannya pada 31 Juli, sementara Shell dan BP juga belum merilis angka final Q2 2026. Berikut rincian data yang sudah terkumpul.
TotalEnergies menjadi perusahaan pertama yang melaporkan laba kuartal II. Perusahaan asal Prancis ini mencatat laba bersih yang disesuaikan (adjusted net income) sebesar US$6,03 miliar—melonjak 68% dibandingkan tahun lalu (year-on-year / YoY) dan menjadi laba kuartalan tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir . Penjualan mencapai US$61,77 miliar. Perusahaan menyebut kenaikan harga minyak, margin kilang yang lebih kuat, dan hasil perdagangan minyak (petroleum trading) sebagai pendorong utama kinerja ini
.
ExxonMobil memberi sinyal pada 7 Juli melalui dokumen ke SEC bahwa laba Q2 2026 akan sekitar US$5 miliar lebih tinggi dari Q1. Para analis memperkirakan laba bersih yang disesuaikan mencapai US$15,7-15,9 miliar . Dalam laporan berbeda, Exxon mengumumkan laba GAAP sebesar US$7,1 miliar dari pendapatan US$84 miliar
. Perbedaan angka ini karena ukuran laba yang berbeda—analis fokus pada laba yang disesuaikan (non-GAAP) yang tidak termasuk item-item satu kali.
Chevron disebut "siap mengalahkan" ekspektasi laba Q2 berkat melonjaknya pendapatan minyak mentah dan margin kilang yang lebih baik, menurut UBS Securities . UBS menaikkan estimasi laba per saham (EPS) Q2 Chevron menjadi US$5,70 dari sebelumnya US$3,82. Chevron akan mengumumkan hasil resmi pada 31 Juli
.
Shell dan BP belum menerbitkan hasil Q2. Equinor juga belum merilis data laba Q2 di sumber yang terkumpul .
Ada tiga faktor yang saling terkait:
Pergerakan harga minyak mentah Brent sepanjang Q2 2026 sungguh dramatis:
Volatilitas dramatis ini menjadi lahan basah bagi meja perdagangan (trading desk) minyak yang untung besar dari fluktuasi harga.
Kinerja gemilang TotalEnergies menunjukkan keunggulan perusahaan Eropa yang memiliki divisi perdagangan minyak skala besar. Perusahaan secara eksplisit menyebut "hasil perdagangan minyak" sebagai pendorong utama, bersama dengan harga minyak yang lebih tinggi dan margin kilang yang lebih kuat . Hasil hilir (downstream) dan arus kas "meningkat tajam" dibanding Q1
.
Tren ini sudah terlihat sejak Q1 2026: lima perusahaan Eropa (BP, Repsol, TotalEnergies, Eni, Equinor) membukukan laba gabungan US$21,7 miliar, naik 43% YoY, didorong oleh volatilitas akibat perang yang sama .
Sumber yang terkumpul tidak menyertakan artikel spesifik yang mengulas respons pemerintahan Trump terhadap laba besar ini, seperti potensi pajak keuntungan tak terduga (windfall profit tax) atau tindakan politik yang menargetkan Big Oil menjelang pemilu paruh waktu November 2026. Konteks yang lebih luas—laba besar terjadi di tengah perang yang melibatkan AS dan hanya beberapa bulan sebelum pemilu—sangat mengindikasikan sensitivitas politik, namun pernyataan atau tindakan konkret pemerintah tidak terdokumentasi dalam data yang terkumpul.
Lima perusahaan minyak raksasa dunia di jalur untuk membukukan laba gabungan Q2 2026 diperkirakan mencapai US$35-40 miliar, dengan TotalEnergies (naik 68%) dan ExxonMobil (berpotensi tiga kali lipat laba Q1) memimpin. Perang AS-Israel melawan Iran dan penutupan total Selat Hormuz menjadi pendorong utama, menciptakan guncangan pasar minyak yang disebut Bank Dunia sebagai "terbesar dalam sejarah." Perusahaan Eropa dengan meja perdagangan besar—khususnya TotalEnergies—diuntungkan secara tidak proporsional dari volatilitas ini. Namun, Shell, BP, dan Chevron belum melaporkan angka final hingga akhir Juli, sehingga gambaran utuh masih belum lengkap. Sorotan politik dari pemerintahan Trump, meski sangat diantisipasi mengingat momentum pemilu, tidak tercatat dalam sumber yang ada.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Lima raksasa minyak barat (ExxonMobil, Chevron, Shell, BP, TotalEnergies) diproyeksikan membukukan laba gabungan kuartal II 2026 sebesar US$35 40 miliar atau lebih—salah satu rekor laba kuartalan tertinggi sepanjang s...
Lima raksasa minyak barat (ExxonMobil, Chevron, Shell, BP, TotalEnergies) diproyeksikan membukukan laba gabungan kuartal II 2026 sebesar US$35 40 miliar atau lebih—salah satu rekor laba kuartalan tertinggi sepanjang s... Penyebab utama ledakan laba adalah perang AS Israel melawan Iran yang dimulai akhir Februari 2026 dan penutupan total Selat Hormuz, jalur transit 20% minyak dan LNG dunia.
TotalEnergies menjadi yang pertama melaporkan laba dengan lonjakan 68% (YoY) menjadi US$6,03 miliar, berkat pendapatan dari perdagangan minyak, margin kilang yang kuat, dan harga minyak yang tinggi.