ExxonMobil memberi sinyal pada 7 Juli melalui dokumen ke SEC bahwa laba Q2 2026 akan sekitar US$5 miliar lebih tinggi dari Q1. Para analis memperkirakan laba bersih yang disesuaikan mencapai US$15,7-15,9 miliar . Dalam laporan berbeda, Exxon mengumumkan laba GAAP sebesar US$7,1 miliar dari pendapatan US$84 miliar . Perbedaan angka ini karena ukuran laba yang berbeda—analis fokus pada laba yang disesuaikan (non-GAAP) yang tidak termasuk item-item satu kali.
Chevron disebut "siap mengalahkan" ekspektasi laba Q2 berkat melonjaknya pendapatan minyak mentah dan margin kilang yang lebih baik, menurut UBS Securities . UBS menaikkan estimasi laba per saham (EPS) Q2 Chevron menjadi US$5,70 dari sebelumnya US$3,82. Chevron akan mengumumkan hasil resmi pada 31 Juli .
Shell dan BP belum menerbitkan hasil Q2. Equinor juga belum merilis data laba Q2 di sumber yang terkumpul .
Ada tiga faktor yang saling terkait:
Pergerakan harga minyak mentah Brent sepanjang Q2 2026 sungguh dramatis:
Volatilitas dramatis ini menjadi lahan basah bagi meja perdagangan (trading desk) minyak yang untung besar dari fluktuasi harga.
Kinerja gemilang TotalEnergies menunjukkan keunggulan perusahaan Eropa yang memiliki divisi perdagangan minyak skala besar. Perusahaan secara eksplisit menyebut "hasil perdagangan minyak" sebagai pendorong utama, bersama dengan harga minyak yang lebih tinggi dan margin kilang yang lebih kuat . Hasil hilir (downstream) dan arus kas "meningkat tajam" dibanding Q1 .
Tren ini sudah terlihat sejak Q1 2026: lima perusahaan Eropa (BP, Repsol, TotalEnergies, Eni, Equinor) membukukan laba gabungan US$21,7 miliar, naik 43% YoY, didorong oleh volatilitas akibat perang yang sama .
Sumber yang terkumpul tidak menyertakan artikel spesifik yang mengulas respons pemerintahan Trump terhadap laba besar ini, seperti potensi pajak keuntungan tak terduga (windfall profit tax) atau tindakan politik yang menargetkan Big Oil menjelang pemilu paruh waktu November 2026. Konteks yang lebih luas—laba besar terjadi di tengah perang yang melibatkan AS dan hanya beberapa bulan sebelum pemilu—sangat mengindikasikan sensitivitas politik, namun pernyataan atau tindakan konkret pemerintah tidak terdokumentasi dalam data yang terkumpul.
Lima perusahaan minyak raksasa dunia di jalur untuk membukukan laba gabungan Q2 2026 diperkirakan mencapai US$35-40 miliar, dengan TotalEnergies (naik 68%) dan ExxonMobil (berpotensi tiga kali lipat laba Q1) memimpin. Perang AS-Israel melawan Iran dan penutupan total Selat Hormuz menjadi pendorong utama, menciptakan guncangan pasar minyak yang disebut Bank Dunia sebagai "terbesar dalam sejarah." Perusahaan Eropa dengan meja perdagangan besar—khususnya TotalEnergies—diuntungkan secara tidak proporsional dari volatilitas ini. Namun, Shell, BP, dan Chevron belum melaporkan angka final hingga akhir Juli, sehingga gambaran utuh masih belum lengkap. Sorotan politik dari pemerintahan Trump, meski sangat diantisipasi mengingat momentum pemilu, tidak tercatat dalam sumber yang ada.