Selain pabrik baru, pengembangan teknologi chip generasi terbaru (proses 2 nanometer) juga ikut membebani margin laba. Kabar ini membuat saham TSMC di Taipei anjlok NT$180 (7,29%) dalam sehari, dan kapitalisasi pasarnya jeblok di bawah NT$60 triliun.
Sebelum laporan laba dirilis, pasar sudah mengantisipasi kinerja yang sangat baik berkat ledakan AI. Ketika hasilnya keluar dan hanya sekedar memenuhi ekspektasi, bukan melampauinya secara spektakuler, tidak ada alasan baru bagi investor untuk menahan saham. Mereka pun mengambil untung (profit taking).
Seperti yang dikatakan seorang analis, "Ketika harga saham sudah sempurna dan mendekati rekor tertingginya, 'laba rekor ditambah belanja lebih tinggi' bukanlah sinyal beli secara otomatis."
Kejatuhan TSMC bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Saat itu, terjadi aksi jual besar-besaran di seluruh saham AI dan semikonduktor global. Kekhawatiran akan tarif impor AS, kemunculan model AI dari China yang potensial, dan valuasi saham yang sudah terlalu mahal ikut memperburuk situasi. Indeks Taiex di Taiwan mengalami penurunan poin harian terbesar dalam sejarah, yaitu 2.953,71 poin (6,47%), yang dipimpin oleh ambrolnya saham TSMC.
Laba rekor TSMC gagal menyelamatkan harga sahamnya karena investor lebih fokus pada