Pergerakan intraday bahkan lebih dramatis. Apple sempat menyentuh valuasi mendekati $5 triliun sebelum kedua perusahaan saling bertukar posisi lagi, dengan Nvidia sempat turun ke sekitar $4,83 triliun pada satu titik . Saham Nvidia sempat turun hingga 3,9% hingga 4% di awal sesi, sementara saham Apple hanya turun kurang dari 0,1% . Pada akhir hari, Nvidia berhasil memulihkan sebagian kerugiannya dan ditutup di sekitar $4,91 triliun, tetapi Apple tetap memegang mahkota — ini pertama kalinya Apple berada di puncak sejak April 2025 .
Saham Apple telah melonjak sekitar 23% year-to-date pada tahun 2026, menjadikannya yang berkinerja terbaik di antara kelompok saham "Magnificent 7" . Motor utama di balik ini adalah strategi belanja modal AI yang sengaja dibuat rendah oleh Apple.
Apple diproyeksikan hanya akan menghabiskan sekitar $14 miliar untuk belanja modal hingga fiskal 2026, jumlah yang sangat kecil dibandingkan dengan ~$650+ miliar yang secara kolektif diinvestasikan Amazon, Microsoft, Meta, dan Alphabet untuk infrastruktur AI . Alih-alih membangun pusat data AI raksasa sendiri, Apple mengandalkan model pihak ketiga (termasuk Gemini dari Google) dan mitra cloud — bahkan menjalankan model AI frontier miliknya sendiri, FM Cloud, di GPU Nvidia melalui Google Cloud .
Investor pun memberi imbalan atas pendekatan "capex-light" ini. Di tengah kekhawatiran yang berkembang tentang apakah belanja AI besar-besaran oleh perusahaan hyperscaler akan menghasilkan keuntungan yang proporsional, strategi disiplin Apple semakin terlihat sebagai langkah cerdas, bukan kelemahan . Sementara itu, investasi R&D Apple memang naik di atas 10% dari pendapatan, tetapi intensitas modalnya tetap rendah .
Nvidia telah menjadi saham dengan performa terburuk di Indeks Semikonduktor PHLX (SOX) pada tahun 2026 — berada di peringkat paling buncit year-to-date di antara 30 saham dalam indeks tersebut, yang mana indeksnya sendiri nilainya hampir dua kali lipat .
Bahkan perkiraan pendapatan yang optimis — termasuk proyeksi Nvidia sendiri tentang pendapatan jangka panjang yang menembus $1 triliun — gagal mengangkat sahamnya dari keterpurukan di tahun 2026, memperkuat teori di Wall Street bahwa skala perusahaan yang sangat besar kini menjadi tantangan terbesarnya .
Investor sedang mengamati dua katalis utama yang bisa menentukan apakah Apple (distribusi/AI konsumen) atau Nvidia (infrastruktur/perangkat keras) yang akan memimpin selanjutnya.
Dengan Alphabet, Amazon, Meta, dan Microsoft yang semuanya akan melaporkan hasil keuangan, pertanyaan utamanya adalah apakah belanja AI mulai menghasilkan pertumbuhan pendapatan dan margin. Tanda-tanda pendapatan terkait AI yang mengecewakan dapat semakin menekan Nvidia dan sektor chip secara lebih luas, sementara monetisasi AI yang kuat di sisi konsumen akan menguntungkan model Apple .
The Fed menahan suku bunga di 3,5%–3,75% pada pertemuannya di bulan Juni, dan permintaan yang didorong AI kini secara resmi masuk dalam daftar pantauan inflasi The Fed, mempersulit jalur menuju pemotongan suku bunga . Pasar secara luas memperkirakan tidak akan ada perubahan pada 29 Juli . Sikap hawkish (cenderung menaikkan suku bunga) akan membebani saham teknologi dengan valuasi tinggi (termasuk Nvidia), sementara sinyal dovish (cenderung melonggar) — atau tanda-tanda bahwa inflasi belanja AI sudah mencapai puncak — akan mengangkat kedua nama tersebut, tetapi bisa jadi lebih menguntungkan cerita valuasi Apple yang lebih stabil .
Inti perdebatannya: Akankah dominasi infrastruktur Nvidia bisa berakselerasi kembali seiring berlanjutnya pembangunan AI, atau akankah strategi AI "distribusi-dulu, irit-belanja-modal" dari Apple terus menang ketika pasar beralih dari euforia belanja ke pengawasan profitabilitas?