Lionel Messi menepis tudingan FIFA favoritisme usai kemenangan comeback 2 1 Argentina atas Inggris di semifinal. Tudingan bias memuncak setelah Piala Dunia 2026 setelah Mesir secara resmi mengajukan protes ke FIFA usai kalah 3 2 dari Argentina di babak 16 besar, dan Kroasia juga protes soal VAR.
Kapten Argentina, Lionel Messi, akhirnya memecah kebisuannya soal tudingan bias yang menghantui timnya di Piala Dunia 2026. Setelah kemenangan comeback dramatis 2-1 atas Inggris di semifinal, ia melontarkan bantahan keras. Inti pesannya: "Tidak ada yang diberikan gratis kepada kami" . Ia bersikukuh bahwa langkah Argentina ke final kedua berturut-turut adalah hasil dari kualitas, kerja keras, dan konsistensi mereka sendiri, bukan karena pengaruh dari luar
.
Berikut pernyataan lengkap Messi:
"Tidak ada yang memberi kami apa pun. Kami adalah yang terbaik selama empat tahun terakhir. Kami mencapai final lain karena usaha kami sendiri, bukan karena orang lain."
Ia secara khusus menyoroti kemampuan Argentina untuk membalikkan keadaan di akhir pertandingan — melawan Mesir di babak 16 besar (3-2) dan Inggris di semifinal (2-1) — sebagai bukti karakter dan prestasi tim .
Tudingan favoritisme ini tidak dimulai saat melawan Inggris. Tuduhan ini meningkat setelah serangkaian pertandingan kontroversial.
Protes resmi Mesir (Babak 16 Besar): Usai kekalahan 3-2 dari Argentina, Asosiasi Sepak Bola Mesir (EFA) secara resmi mengajukan protes ke FIFA, menuduh wasit asal Prancis, François Letexier, dan tim ofisialnya melakukan "diskriminasi yang jelas" dan bias terhadap Argentina . Pelatih Mesir, Hossam Hassan, dan beberapa pemain secara terbuka mengatakan mereka "tidak bisa diam saja mengenai keputusan wasit"
. Mesir juga secara resmi meminta FIFA untuk mengeluarkan wasit tersebut dari turnamen
.
Protes Kroasia sebelumnya: Federasi Sepak Bola Kroasia (HNS) sebelumnya juga telah mengajukan protes resmi ke FIFA di turnamen ini, menyatakan "ketidakpuasan" dengan penerapan VAR dan kepemimpinan wasit dalam pertandingan mereka melawan Argentina .
Sorotan Statistik: Para kritikus menunjukkan ketimpangan disiplin — data menunjukkan Argentina menerima kartu kuning rata-rata setiap 19,7 pelanggaran, jauh lebih rendah dibandingkan semifinalis lainnya . Teori konspirasi di media sosial bahkan menjuluki Messi "'Putri' FIFA"
.
Pembelaan FIFA: Kepala wasit FIFA, Pierluigi Collina, merilis pernyataan yang dengan tegas menolak tuduhan tersebut, dengan mengatakan "tidak ada yang bisa mengklaim bahwa perwasitan FIFA bisa dipengaruhi oleh siapa pun, bahkan oleh presiden FIFA sekalipun" .
Pertandingan berlangsung pada Rabu, 15 Juli 2026, di Mercedes-Benz Stadium di Atlanta yang disaksikan 68.239 penonton .
Lionel Messi mengasisi kedua gol tersebut . Inggris hanya berjarak lima menit dari final Piala Dunia putra pertama mereka sejak 1966 sebelum kebangkitan dramatis Argentina
.
Argentina berusaha menjadi negara pertama yang memenangkan Piala Dunia secara berturut-turut sejak Brasil pada tahun 1962 . Ini akan menjadi gelar keempat mereka secara keseluruhan
. Pertandingan ini juga memiliki beban narasi ekstra karena bisa menjadi penampilan terakhir Messi di Piala Dunia di usia 39 tahun
.
| Detail | Info |
|---|---|
| Pertandingan | Spanyol vs. Argentina — Final Piala Dunia FIFA 2026 |
| Tanggal | Minggu, 19 Juli 2026 |
| Waktu Kickoff | 15:00 ET / 20:00 BST |
| Stadion | MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey |
| Taruhan | Argentina berusaha juara berturut-turut; Spanyol mengincar gelar kedua mereka |
Dengan kontroversi yang melingkupi mereka, Argentina akan menghadapi Spanyol di final yang mempertemukan juara dunia bertahan melawan juara Eropa bertahan. Pesan Messi jelas: tidak peduli apa kata kritikus, timnya telah membuktikan tempat mereka.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Lionel Messi menepis tudingan FIFA favoritisme usai kemenangan comeback 2 1 Argentina atas Inggris di semifinal.
Lionel Messi menepis tudingan FIFA favoritisme usai kemenangan comeback 2 1 Argentina atas Inggris di semifinal. Tudingan bias memuncak setelah Piala Dunia 2026 setelah Mesir secara resmi mengajukan protes ke FIFA usai kalah 3 2 dari Argentina di babak 16 besar, dan Kroasia juga protes soal VAR.