Pada 15 Juli 2026, South China Morning Post melaporkan bahwa Altman menyatakan OpenAI siap memangkas biaya model AI terbarunya hingga 75% untuk menghadapi kemajuan Anthropic dan alternatif berbiaya rendah dari China .
Dalam unggahan di media sosial, Altman mengatakan GPT-5.6 Sol sudah memiliki harga “setengah” dari Claude Fable 5. Ia bahkan menambahkan bahwa OpenAI “dengan senang hati” akan menawarkan layanan tersebut dengan harga seperempat dari pesaingnya .
Pernyataan itu menunjukkan bahwa harga kini menjadi senjata utama dalam persaingan model AI. Altman mengklaim Sol mampu memberikan hasil yang serupa dengan Fable 5 dengan biaya lebih rendah dan menggunakan token yang jauh lebih sedikit .
Token adalah unit yang digunakan penyedia AI untuk menghitung pemakaian—baik teks yang dikirim pengguna maupun jawaban yang dihasilkan model. Bagi perusahaan yang menjalankan jutaan permintaan API, selisih harga per 1 juta token dapat berdampak besar pada biaya operasional.
| Metrik | GPT-5.6 Sol | Claude Fable 5 |
|---|---|---|
| Input per 1 juta token | $5 | $10 |
| Output per 1 juta token | $30 | $50 |
| Biaya per tugas, penalaran maksimum | Sekitar $1,04 | Sekitar $3,12, atau kira-kira tiga kali lipat |
| Jendela konteks | 1.050.000 token | 1.000.000 token |
| Ketersediaan umum | 9 Juli 2026 | 9 Juni 2026 |
Pada harga resmi per token, Sol tepat dua kali lebih murah untuk input maupun output dibandingkan Fable 5 . Dalam pengujian Artificial Analysis pada tingkat penalaran maksimum, biaya Sol per tugas jadi sekitar sepertiga Fable 5, dengan tingkat kecerdasan yang dinilai serupa .
Sebagian penyedia bahkan mencantumkan tarif yang lebih rendah: GPTProto melaporkan harga Sol sebesar $4/$24 dan Fable 5 sebesar $8/$40 per 1 juta token input/output . Namun, harga yang dibayar pelanggan dapat berbeda bergantung pada penyedia, cache, volume pemakaian, dan jenis pemrosesan.
Dari sisi pemrograman, Sol juga mencatat skor 88,8% pada TerminalBench 2.1, lebih tinggi dibandingkan 83,4% milik Fable 5 . OpenAI turut melaporkan peningkatan efisiensi token sekitar 10–15% dibandingkan GPT-5.5, meski klaim tersebut berasal dari perusahaan dan memperlebar kesenjangan biaya efektif menurut perhitungan OpenAI .
Kedua perusahaan sedang mempersiapkan kemungkinan penawaran saham perdana atau IPO. Anthropic mengajukan dokumen secara rahasia sekitar sepekan sebelum OpenAI, sementara keduanya berupaya menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang dapat meyakinkan investor publik .
OpenAI sudah berada dalam kondisi sangat merugi. Jika harga model unggulannya dipotong 75%, perusahaan perlu meningkatkan volume pemakaian secara drastis hanya untuk mempertahankan pendapatan pada tingkat yang sama. Jika pertumbuhan volume tidak memadai, kerugian bisa semakin besar menjelang IPO .
Anthropic memiliki ruang finansial yang relatif lebih baik untuk bertahan. Perusahaan baru memproyeksikan kuartal operasional yang menguntungkan dan membakar kas dengan laju sekitar sepertiga OpenAI. Namun, jika Anthropic ikut memangkas harga secara agresif, profitabilitas yang baru dicapai itu bisa menghilang .
Investor pasar publik tidak hanya melihat pertumbuhan pendapatan, tetapi juga margin dan kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas. Perang harga yang menurunkan pendapatan per token dapat membuat penjamin emisi lebih berhati-hati, menekan valuasi, atau mendorong kedua IPO ke 2027 .
CNBC melaporkan bahwa pengguna korporasi mulai meninggalkan pola “tokenmaxxing”—menggunakan token sebanyak mungkin untuk mengejar hasil terbaik—dan semakin menuntut pengembalian investasi yang jelas .
Bagi pelanggan, harga yang lebih rendah tentu menarik. Namun, bagi penyedia AI, tren ini dapat memicu perlombaan menurunkan harga tanpa kepastian bahwa pendapatan dan margin akan tetap sehat.
Sikap agresif Altman mengisyaratkan bahwa OpenAI mungkin ingin memanfaatkan basis pelanggannya yang lebih besar dan struktur biaya per token yang lebih rendah untuk menekan Anthropic: memangkas margin atau kehilangan pangsa pasar .
Masalahnya, struktur biaya OpenAI secara keseluruhan juga lebih berat. Dalam perang yang berlangsung lama, OpenAI berisiko menghabiskan kas lebih cepat daripada Anthropic. Karena itu, harga murah bisa menjadi keunggulan kompetitif sekaligus memperbesar tekanan finansial.
Jika OpenAI benar-benar menerapkan potongan besar dan Anthropic merespons, dampak pertama kemungkinan dirasakan pengembang dan perusahaan yang menggunakan API AI. Biaya membangun chatbot, agen pemrograman, dan sistem otomatisasi dapat turun.
Namun, harga bukan satu-satunya ukuran. Perusahaan tetap perlu membandingkan akurasi, kecepatan, panjang konteks, efisiensi token, keandalan, serta biaya menyelesaikan satu tugas secara utuh. Model yang lebih murah per token belum tentu menghasilkan biaya total yang lebih rendah untuk setiap alur kerja.
Pada akhirnya, perang harga ini akan menguji apakah dua perusahaan AI terbesar tersebut mampu mengubah pertumbuhan penggunaan menjadi keuntungan. Bagi OpenAI dan Anthropic, pertarungannya bukan sekadar soal siapa yang menawarkan tarif paling rendah, melainkan siapa yang dapat bertahan sampai pasar AI memasuki fase yang lebih matang.