| Aspek | The Odyssey karya Christopher Nolan | Odysseus: The Fall dari Fountain 0 |
|---|---|---|
| Anggaran | Sekitar 250 juta dolar AS, film termahal Nolan sejauh ini | Kategori “mid-five figures”, kira-kira 40.000–70.000 dolar AS—sekitar 0,02% dari anggaran film Nolan |
| Pemain | Matt Damon sebagai Odysseus, Tom Holland sebagai Telemakus, Anne Hathaway sebagai Penelope, Zendaya sebagai Athena, serta Robert Pattinson, Charlize Theron, dan Lupita Nyong’o | Tidak ada aktor manusia; seluruh karakter dibuat dengan AI |
| Teknologi produksi | Direkam sepenuhnya menggunakan film IMAX—disebut sebagai film fitur pertama yang dibuat dengan cara tersebut—di lokasi nyata pada sejumlah benua | 100% dibuat dengan AI; tidak menggunakan kamera, adegan live-action, atau set fisik. Film ini disutradarai Ash Koosha menggunakan sistem AI milik Fountain 0 |
| Durasi | 172 menit | 135 menit |
| Distribusi | Tayang luas di bioskop melalui Universal Pictures mulai 17 Juli 2026 | Distribusi digital langsung melalui watch.fountain0.com. Harga sewanya 9,99 dolar AS dan tanggal pastinya belum diumumkan |
| Sutradara | Christopher Nolan | Ash Koosha, salah satu pendiri sekaligus CEO Fountain 0 |
Fountain 0 tampaknya sengaja menempatkan filmnya di samping proyek Nolan. Jika jedanya berbulan-bulan, perbandingan antara keduanya mungkin tidak akan sekuat sekarang. Dengan mengumumkan Odysseus: The Fall tepat sebelum The Odyssey tayang, Fountain 0 mendorong penonton dan industri untuk menguji apakah film yang dibuat hampir tanpa biaya produksi tradisional dapat berdiri berhadapan dengan salah satu proyek IMAX terbesar dalam sejarah Hollywood .
Strategi ini juga memberi Fountain 0 perhatian besar tanpa harus bersaing memperebutkan layar bioskop. Odysseus: The Fall tidak direncanakan hadir di bioskop atau layanan streaming konvensional, melainkan ditawarkan langsung kepada penonton melalui situs perusahaan .
Dengan anggaran dalam kisaran puluhan ribu dolar AS, Odysseus: The Fall dibuat dengan biaya yang sangat kecil dibandingkan film Nolan yang diperkirakan menelan 250 juta dolar AS . Perbedaan ini menunjukkan potensi AI untuk menurunkan hambatan produksi film panjang, terutama bagi kreator independen yang tidak memiliki akses ke modal dan infrastruktur studio besar.
Namun, biaya produksi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Film tetap harus meyakinkan penonton melalui cerita, karakter, visual, suara, dan pengalaman menonton secara keseluruhan.
Model Fountain 0 melewati studio besar, jaringan bioskop, dan pola distribusi tradisional. Filmnya akan disewakan langsung melalui situs milik perusahaan dengan harga 9,99 dolar AS .
Model seperti ini membuka kemungkinan munculnya ekosistem film langsung ke konsumen. Film berbasis AI mungkin tidak harus berebut tempat di layar IMAX untuk menemukan penontonnya—meski hal itu juga berarti pembuatnya harus membangun kepercayaan dan minat penonton tanpa dukungan kampanye pemasaran studio besar.
Fountain 0 bertaruh bahwa penonton akan menilai film tersebut berdasarkan hasil akhirnya, bukan hanya proses pembuatannya. Sejauh ini, respons awal cenderung skeptis. Kotaku menyebutnya “AI slop”, sementara reaksi di media sosial banyak diwarnai lelucon dan ejekan . The Verge bahkan membahasnya dengan judul “The OdyssAI”, yang mencerminkan sikap kritis terhadap proyek tersebut .
Ujian sesungguhnya baru dimulai ketika film itu tersedia untuk disewa. Apakah penonton bersedia membayar untuk menontonnya, dan apakah mereka akan merekomendasikannya kepada orang lain, akan lebih menentukan daripada perhatian yang muncul dari trailer dan kontroversinya.
Ash Koosha menggambarkan potensi pembuatan film dengan AI seperti dampak perangkat digital terhadap musik: teknologi dapat menurunkan hambatan masuk dan memungkinkan lebih banyak orang membuat karya .
Di sisi lain, The Odyssey karya Nolan memperlihatkan apa yang dapat dicapai melalui kolaborasi manusia dalam skala sangat besar—mulai dari pemain papan atas hingga kru, lokasi, kamera, dan proses produksi IMAX. Jarak antara kedua film ini merangkum pertanyaan utama Hollywood: apakah AI akan menjadi alat yang memperkuat kerja manusia, atau justru menggantikan sebagian besar proses dan tenaga kerja tradisional?
Perbandingan antara film manusia beranggaran 250 juta dolar AS dan film AI berbiaya sekitar 50.000 dolar AS muncul ketika Hollywood masih berupaya merumuskan perlindungan terkait AI setelah aksi mogok kerja dan negosiasi mengenai hak pekerja kreatif.
Bagi aktor, penulis, animator, kru kamera, dan pekerja di balik layar, pertanyaannya bersifat langsung: apakah teknologi ini akan mengurangi jumlah pekerjaan, atau melahirkan peran baru yang belum ada? Odysseus: The Fall tidak menjawab pertanyaan tersebut, tetapi keberadaannya membuat perdebatan itu semakin konkret.
Belum tentu. Kualitas akhir Odysseus: The Fall masih harus dinilai setelah filmnya dirilis, dan perhatian publik yang besar tidak otomatis berarti penerimaan positif. Namun, proyek ini tetap penting karena menghadirkan contoh nyata—lengkap dengan durasi dan kisaran anggaran—tentang seperti apa film panjang yang dibuat sepenuhnya dengan AI.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah AI dapat menghasilkan sebuah film. Pertanyaan yang lebih sulit adalah apakah penonton bersedia membayar untuk menontonnya, apakah mereka menganggapnya sebagai karya sinema, dan bagaimana Hollywood akan menyesuaikan diri jika jawabannya ternyata “ya”.