Pada 10 Juli 2026, mantan Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy menulis opini yang menyebut timnas Prancis bermain 'tanpa orang Prancis', sebuah klaim yang salah secara faktual dan memicu gelombang kecaman diplomatik... Perdana Menteri Spanyol saat ini, Pedro Sánchez, mengecam pernyataan tersebut sebagai 'xenofobia'...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: Search & fact-check with cited sources for What controversy was sparked by former Spanish Prime Minister Mariano Rajoy's column questioning. Article summary: On July 10, 2026, former Spanish Prime Minister Mariano Rajoy published an op-ed in the online newspaper *El Debate* ahead of the World Cup semifinal between Spain and France, writing that France's squad "does not have a. Topic tags: general, news, general web, user generated. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts wi
Pada 10 Juli 2026, mantan Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy menerbitkan sebuah opini di surat kabar online El Debate menjelang semifinal Piala Dunia antara Spanyol dan Prancis. Dalam tulisannya, ia menyatakan bahwa skuad Prancis "tidak memiliki pemain Prancis" dan bermain "tanpa orang Prancis" . Pernyataan ini langsung memicu kecaman luas di kedua negara, dengan para pemimpin Spanyol dan Prancis melabelinya sebagai rasis dan xenofobia. Insiden ini juga membuka kembali perdebatan panjang di Prancis mengenai identitas nasional dan representasi multietnis dalam tim nasional
.
Kolom Rajoy yang berjudul Hoy llegó el desquite ("Hari Ini Pembalasan Tiba") pada awalnya merayakan kemenangan Spanyol atas Belgia di perempat final dan melihat ke depan ke semifinal melawan Prancis. Ia menulis: "Perlu diingat bahwa Prancis telah menjadi juara dunia dua kali dan menjadi finalis di Piala Dunia terakhir. Mereka memenangkan setiap pertandingan yang mereka mainkan di Piala Dunia ini dan saat ini berada di peringkat No. 1 peringkat FIFA. Mereka juga memiliki skuad level atas. Namun, mereka tidak memiliki pemain Prancis. Dan mereka bermain sangat baik. Mereka akan menjadi lawan yang tangguh" . Frasa kunci dalam bahasa Spanyol, "eso sí, sin franceses" ("artinya, tanpa orang Prancis"), menjadi inti kontroversi
.
Klaim Rajoy jelas-jelas keliru secara faktual: setiap pemain di tim nasional putra Prancis adalah warga negara Prancis, banyak yang lahir di Prancis, dan semuanya mewakili Prancis berdasarkan aturan kelayakan FIFA. Kedutaan Besar Prancis di Spanyol mengeluarkan tanggapan tegas, dengan mencatat bahwa 23 dari 26 pemain di skuad lahir di Prancis dan tiga lainnya memiliki kewarganegaraan Prancis melalui ikatan keluarga . Kedutaan tersebut menyebut pernyataan Rajoy sebagai "lelucon yang buruk atau pernyataan serius yang lebih buruk"
. Komentar Rajoy tampaknya merujuk pada kenyataan bahwa banyak pemain memiliki latar belakang imigran atau berasal dari bekas koloni Prancis, tetapi ini tidak meniadakan kewarganegaraan Prancis mereka
.
Perdana Menteri Spanyol saat ini, Pedro Sánchez, mengeluarkan kecaman keras di X (sebelumnya Twitter). Ia menulis: "Ada yang masih mengukur rasa memiliki dari nama belakang, tempat lahir, atau warna kulit. Yang lain mengukurnya dari akar kita di suatu negara dan kemauan kita untuk berkontribusi di dalamnya. Bermain sepak bola. Merawat orang tua kita. Atau membuka usaha. Spanyol milik mereka yang mencintainya dan bekerja untuknya. Bukan milik mereka yang mempermalukannya dengan pernyataan xenofobia" . Spanyol secara resmi meminta maaf atas kolom Rajoy melalui Menteri Luar Negeri Jose Manuel Albares, yang menyebut pernyataan itu "tidak dapat ditoleransi" dan memberi tahu mitranya dari Prancis bahwa pernyataan itu tidak mencerminkan pandangan pemerintah atau rakyat Spanyol
. Rajoy sendiri kemudian bersikeras bahwa kata-katanya telah diambil di luar konteks
.
Para pejabat dan partai politik Prancis dengan keras mengutuk komentar Rajoy. Kementerian Luar Negeri Prancis dan perwakilan pemerintah lainnya mengecam pernyataan tersebut sebagai diskriminatif . Menteri Dalam Negeri Prancis, Lauren Nuñez, menggambarkan pernyataan itu sebagai sesuatu yang memalukan
. Federasi Sepak Bola Prancis juga mengkritik pernyataan tersebut
.
Lamine Yamal, bintang muda Spanyol berusia 19 tahun yang lahir di Spanyol dari orang tua asal Maroko dan Guinea Khatulistiwa, menggunakan konferensi pers pra-pertandingannya untuk menyampaikan pesan persatuan yang kuat. Ditanya tentang kolom Rajoy, ia menghindari polemik langsung dan berkata: "Kami menghadapi salah satu pertandingan terpenting dalam sepak bola, tidak ada ruang untuk hal-hal ini. Tapi saya dapat mengatakan bahwa jika sepak bola berguna untuk sesuatu, itu adalah untuk mengintegrasikan masyarakat, dan Prancis serta Spanyol adalah contoh yang baik untuk itu. Inilah gunanya sepak bola" . Yamal sebelumnya juga telah mengatakan bahwa Spanyol harus menghadapi Prancis "tanpa rasa takut"
.
Pau Cubarsí, bek Barcelona, juga angkat bicara saat ditanya oleh stasiun radio Catalunya RAC1. Ia berkata: "Jika mereka bermain untuk tim nasional Prancis, pada akhirnya mereka adalah orang Prancis, terlepas dari warna kulit mereka, karena pada akhirnya kita harus toleran terhadap semua orang" .
Insiden ini secara langsung terhubung dengan perdebatan sosial selama puluhan tahun di Prancis tentang identitas nasional dan representasi multietnis, sebuah percakapan yang paling terkenal mengkristal setelah kemenangan Piala Dunia 1998 . Tim pemenang "black-blanc-beur" (Hitam, Putih, Arab) saat itu—yang menampilkan bintang-bintang seperti Zinedine Zidane, Lilian Thuram, dan Patrick Vieira—dirakitkan sebagai simbol ideal multikultural Prancis, tetapi juga memicu argumen politik berulang tentang imigrasi, asimilasi, dan apa artinya menjadi orang Prancis
. Kolom Rajoy membuka kembali luka lama itu, dengan para pengamat mencatat bahwa hal itu "memicu kembali argumen lama Prancis tentang imigrasi dan identitas nasional"
dan menggeser persaingan pra-pertandingan menjadi debat sipil tentang rasa memiliki dan kewarganegaraan
.
Pernyataan Rajoy menggambarkan bagaimana komposisi tim nasional dalam sepak bola internasional telah menjadi pemicu perdebatan sosial yang lebih luas tentang kewarganegaraan, imigrasi, dan apa yang constitutes identitas nasional yang "autentik". Kontroversi ini juga menunjukkan seberapa cepat opini pribadi seorang mantan kepala negara dapat menimbulkan dampak diplomatik internasional, yang memaksa pemerintah aktif untuk meminta maaf secara resmi atas namanya. Bagi Prancis, insiden ini menjadi pengingat bahwa cita-cita "black-blanc-beur", meskipun dirayakan secara global, masih diperdebatkan di dalam negeri lebih dari seperempat abad setelah kemenangan tahun 1998.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Pada 10 Juli 2026, mantan Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy menulis opini yang menyebut timnas Prancis bermain 'tanpa orang Prancis', sebuah klaim yang salah secara faktual dan memicu gelombang kecaman diplomatik...
Pada 10 Juli 2026, mantan Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy menulis opini yang menyebut timnas Prancis bermain 'tanpa orang Prancis', sebuah klaim yang salah secara faktual dan memicu gelombang kecaman diplomatik... Perdana Menteri Spanyol saat ini, Pedro Sánchez, mengecam pernyataan tersebut sebagai 'xenofobia', Kedutaan Besar Prancis merespons dengan menegaskan bahwa seluruh 26 pemain Prancis adalah warga negara Prancis (23 lah...