Pemilihan Munich sebagai lokasi debut bukanlah sekadar simbolis. SUV ini sudah tertangkap kamera sedang menjalani uji coba jalan di ibu kota Bavaria tersebut, dan Xpeng bergerak cepat membangun kehadirannya di Eropa . Acara peluncuran global dijadwalkan pada pukul 13:00 waktu setempat .
Xpeng berencana menawarkan Mona L03 di 64 negara dan wilayah mulai akhir tahun 2026 . Rencana ini dibangun di atas pertumbuhan yang luar biasa: pada tahun 2025 saja, Xpeng menggandakan jangkauan globalnya dari 30 menjadi 60 pasar . Eropa menjadi pusat strategi internasional mereka, dengan 290 dari 380 toko luar negeri kini berlokasi di 28 negara Eropa . Perusahaan ini juga baru saja masuk ke lima pasar Eropa tambahan — Swiss, Austria, Hungaria, Slovenia, dan Kroasia — pada akhir 2025, serta membuka pusat R&D Eropa pertama mereka di Munich .
Xpeng memposisikan diri sebagai pesaing langsung Tesla di Eropa, tetapi tidak dengan cara perang harga. Wakil Ketua Brian Gu mengatakan kepada The Guardian pada Juni 2026 bahwa perusahaan akan bersaing dalam hal kualitas, bukan pemotongan harga agresif, di UE dan Inggris .
Sebagai gantinya, Xpeng mengandalkan teknologi. Mona L03 mengklaim pengisian daya lebih cepat dari Tesla — nilai jual utama di Eropa — dan perusahaan berencana membawa teknologi mengemudi otonom canggihnya ke pasar luar negeri sebagai pembeda melawan rival asal AS tersebut . Brian Gu mengungkapkan keyakinan bahwa perusahaannya bisa bersaing head-to-head dengan Tesla, sambil mengakui bahwa Tesla memiliki keunggulan sebagai pemain awal di beberapa pasar Eropa .
Strategi mengemudi otonom Xpeng bertumpu pada dua pilar: program robotaxi dan sistem VLA 2.0 generasi terbaru.
Robotaxi produksi massal pertama Xpeng meluncur dari jalur perakitan di Guangzhou pada 18 Mei 2026 — menandai pertama kalinya pabrikan mobil China mencapai produksi massal robotaxi melalui pengembangan internal penuh .
Pada Maret 2026, Xpeng mengumumkan percepatan penerapan global sistem mengemudi cerdas Vision-Language-Action (VLA) 2.0 generasi kedua .
VLA 2.0 menghilangkan lapisan bahasa perantara yang ditemukan pada sistem sebelumnya, menerjemahkan input visual langsung menjadi aksi mengemudi untuk respons yang lebih cepat dan pengambilan keputusan yang lebih mirip manusia . Uji coba awal di lingkungan perkotaan yang padat menunjukkan peningkatan efisiensi mengemudi sebesar 23% .
Mona L03 mewakili lompatan teknologi yang signifikan untuk segmen harganya. Berikut spesifikasi yang terverifikasi dari berbagai sumber:
| Spesifikasi | Detail |
|---|---|
| Opsi Powertrain | BEV (baterai-listrik) dan EREV (extended-range electric vehicle) — pertama untuk lini Mona |
| Jarak tempuh BEV | 525 km atau 625 km (CLTC) tergantung paket baterai |
| Jarak tempuh kombinasi EREV | Hingga 1.330 km total (CLTC) |
| Daya komputasi (Ultra SE) | 1.500 TOPS melalui dual chip Turing AI buatan sendiri |
| Daya komputasi (Max) | 750 TOPS melalui single chip Turing |
| Sistem mengemudi otonom | VLA (Vision-Language-Action) generasi kedua — standar di semua varian |
| 0-100 km/jam (BEV) | 6,6 detik |
| Pengisian daya | 3C fast-charging, 10-80% dalam ~19 menit |
| Dimensi | 4.650 mm (P) x 1.920 mm (L) x 1.600 mm (T), jarak sumbu roda 2.850 mm |
| Interior | Layar sentuh 15,6 inci 2.5K, W-HUD 26,8 inci |
| Desain | Dipimpin oleh mantan kepala desain eksterior Ferrari, Juanma Lopez |
| Harga pra-penjualan China | Mulai dari 143.800 yuan (~Rp309 juta) |
Catatan varian: Angka 1.500 TOPS berlaku untuk versi Ultra SE dengan dual chip Turing; varian dasar Max memberikan 750 TOPS melalui satu chip . Xpeng mengklaim ini 12–18 kali lipat daya komputasi pesaing utama di segmen harga yang sama .
Xpeng Mona L03 adalah taruhan terukur pada ekspansi global yang dipimpin oleh teknologi. Dengan meluncur di Munich dan menjanjikan komputasi AI setara mobil flagship di harga sekitar Rp309 juta, Xpeng secara langsung menantang posisi Tesla di Eropa sambil memajukan peta jalan mengemudi otonomnya. Target tahun 2027 untuk operasi robotaxi tanpa pengemudi dan pengiriman global VLA 2.0 menetapkan garis waktu yang jelas untuk ambisi perusahaan. Dengan Volkswagen sebagai pelanggan pertama VLA 2.0 dan jaringan penjualan Eropa yang berkembang pesat, Xpeng memposisikan dirinya bukan sekadar pabrikan EV China lainnya — melainkan pemimpin teknologi global dalam mobilitas.
Pemilihan Munich sebagai lokasi debut bukanlah sekadar simbolis. SUV ini sudah tertangkap kamera sedang menjalani uji coba jalan di ibu kota Bavaria tersebut, dan Xpeng bergerak cepat membangun kehadirannya di Eropa . Acara peluncuran global dijadwalkan pada pukul 13:00 waktu setempat .
Xpeng berencana menawarkan Mona L03 di 64 negara dan wilayah mulai akhir tahun 2026 . Rencana ini dibangun di atas pertumbuhan yang luar biasa: pada tahun 2025 saja, Xpeng menggandakan jangkauan globalnya dari 30 menjadi 60 pasar . Eropa menjadi pusat strategi internasional mereka, dengan 290 dari 380 toko luar negeri kini berlokasi di 28 negara Eropa . Perusahaan ini juga baru saja masuk ke lima pasar Eropa tambahan — Swiss, Austria, Hungaria, Slovenia, dan Kroasia — pada akhir 2025, serta membuka pusat R&D Eropa pertama mereka di Munich .
Xpeng memposisikan diri sebagai pesaing langsung Tesla di Eropa, tetapi tidak dengan cara perang harga. Wakil Ketua Brian Gu mengatakan kepada The Guardian pada Juni 2026 bahwa perusahaan akan bersaing dalam hal kualitas, bukan pemotongan harga agresif, di UE dan Inggris .
Sebagai gantinya, Xpeng mengandalkan teknologi. Mona L03 mengklaim pengisian daya lebih cepat dari Tesla — nilai jual utama di Eropa — dan perusahaan berencana membawa teknologi mengemudi otonom canggihnya ke pasar luar negeri sebagai pembeda melawan rival asal AS tersebut . Brian Gu mengungkapkan keyakinan bahwa perusahaannya bisa bersaing head-to-head dengan Tesla, sambil mengakui bahwa Tesla memiliki keunggulan sebagai pemain awal di beberapa pasar Eropa .
Strategi mengemudi otonom Xpeng bertumpu pada dua pilar: program robotaxi dan sistem VLA 2.0 generasi terbaru.
Robotaxi produksi massal pertama Xpeng meluncur dari jalur perakitan di Guangzhou pada 18 Mei 2026 — menandai pertama kalinya pabrikan mobil China mencapai produksi massal robotaxi melalui pengembangan internal penuh .
Pada Maret 2026, Xpeng mengumumkan percepatan penerapan global sistem mengemudi cerdas Vision-Language-Action (VLA) 2.0 generasi kedua .
VLA 2.0 menghilangkan lapisan bahasa perantara yang ditemukan pada sistem sebelumnya, menerjemahkan input visual langsung menjadi aksi mengemudi untuk respons yang lebih cepat dan pengambilan keputusan yang lebih mirip manusia . Uji coba awal di lingkungan perkotaan yang padat menunjukkan peningkatan efisiensi mengemudi sebesar 23% .
Mona L03 mewakili lompatan teknologi yang signifikan untuk segmen harganya. Berikut spesifikasi yang terverifikasi dari berbagai sumber:
| Spesifikasi | Detail |
|---|---|
| Opsi Powertrain | BEV (baterai-listrik) dan EREV (extended-range electric vehicle) — pertama untuk lini Mona |
| Jarak tempuh BEV | 525 km atau 625 km (CLTC) tergantung paket baterai |
| Jarak tempuh kombinasi EREV | Hingga 1.330 km total (CLTC) |
| Daya komputasi (Ultra SE) | 1.500 TOPS melalui dual chip Turing AI buatan sendiri |
| Daya komputasi (Max) | 750 TOPS melalui single chip Turing |
| Sistem mengemudi otonom | VLA (Vision-Language-Action) generasi kedua — standar di semua varian |
| 0-100 km/jam (BEV) | 6,6 detik |
| Pengisian daya | 3C fast-charging, 10-80% dalam ~19 menit |
| Dimensi | 4.650 mm (P) x 1.920 mm (L) x 1.600 mm (T), jarak sumbu roda 2.850 mm |
| Interior | Layar sentuh 15,6 inci 2.5K, W-HUD 26,8 inci |
| Desain | Dipimpin oleh mantan kepala desain eksterior Ferrari, Juanma Lopez |
| Harga pra-penjualan China | Mulai dari 143.800 yuan (~Rp309 juta) |
Catatan varian: Angka 1.500 TOPS berlaku untuk versi Ultra SE dengan dual chip Turing; varian dasar Max memberikan 750 TOPS melalui satu chip . Xpeng mengklaim ini 12–18 kali lipat daya komputasi pesaing utama di segmen harga yang sama .
Xpeng Mona L03 adalah taruhan terukur pada ekspansi global yang dipimpin oleh teknologi. Dengan meluncur di Munich dan menjanjikan komputasi AI setara mobil flagship di harga sekitar Rp309 juta, Xpeng secara langsung menantang posisi Tesla di Eropa sambil memajukan peta jalan mengemudi otonomnya. Target tahun 2027 untuk operasi robotaxi tanpa pengemudi dan pengiriman global VLA 2.0 menetapkan garis waktu yang jelas untuk ambisi perusahaan. Dengan Volkswagen sebagai pelanggan pertama VLA 2.0 dan jaringan penjualan Eropa yang berkembang pesat, Xpeng memposisikan dirinya bukan sekadar pabrikan EV China lainnya — melainkan pemimpin teknologi global dalam mobilitas.