Hubungan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UAE) — yang lama digambarkan sebagai aliansi terkuat di kawasan Teluk — telah memburuk menjadi persaingan terbuka. Perang AS-Iran tahun 2026 tidak menciptakan keretakan ini, tetapi membuatnya mustahil untuk diabaikan. Apa yang dulunya merupakan persaingan diam-diam untuk pengaruh kini telah menjadi pertarungan publik dengan implikasi besar bagi keamanan regional, pasar energi global, dan perusahaan keuangan yang mengelola triliunan dolar kekayaan negara Teluk.
Yaman dan Sudan: Perang proksi mengubah sekutu menjadi lawan.
Titik api yang paling terlihat adalah Yaman. Pada akhir 2025, Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung UAE melakukan pengambilalihan militer atas provinsi Hadhramaut dan Mahra di Yaman. Arab Saudi merespons dengan meluncurkan serangan udara ke apa yang mereka sebut sebagai depot pasokan senjata Uni Emirat Arab di Yaman . Dinamika serupa terjadi di Sudan, di mana kedua kekuatan Teluk mendukung faksi yang berlawanan dalam perang saudara
.
UAE keluar dari OPEC.
Pada April 2026, UAE mengumumkan pengunduran dirinya dari OPEC dan OPEC+, sebuah tantangan langsung terhadap dominasi Arab Saudi selama beberapa dekade atas kebijakan produksi minyak kartel tersebut. Reuters menyebut langkah ini sebagai tanda "keretakan yang semakin dalam seiring pergeseran kekuasaan di Teluk" . UAE sudah lama kesal dengan kuota produksi yang dipaksakan Saudi yang dianggap menghambat ekspansi kapasitasnya
.
Cetak biru ekonomi yang berbeda.
Kedua negara memiliki visi yang berbeda secara fundamental untuk masa depan mereka. UAE memprioritaskan perdagangan terbuka, logistik global, dan pusat bisnis dengan regulasi ringan. Arab Saudi, di bawah Visi 2030 Mohammed bin Salman, secara agresif menarik kantor pusat regional, mandat investasi, dan pengambilan keputusan ke Riyadh — seringkali dengan mengorbankan Abu Dhabi dan Dubai. Institut Studi Keamanan Nasional (INSS) Israel menggambarkan pergeseran ini sebagai "dari persaingan diam-diam menjadi persaingan terbuka atas kepemimpinan, prestise, dan pengaruh regional" .
Perang AS-Israel dengan Iran dimulai pada 28 Februari 2026 dengan serangan udara yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran . Perang ini telah mengkristalkan perpecahan Saudi-UAE dengan cara yang sebelumnya bisa dihindari.
Postur strategis yang berbeda terhadap Iran.
Analisis King's College London dan Chatham House menunjukkan bahwa UAE dan Oman berada di satu ujung spektrum, lebih memilih de-eskalasi dan mempertahankan hubungan komersial dengan Iran . Arab Saudi telah terseret ke dalam konflik langsung: serangan rudal balasan Iran menghantam kilang minyak Saudi, dan pasukan Saudi secara rahasia melakukan serangan udara terhadap Iran
. UAE jauh lebih hati-hati, khawatir eskalasi dapat menghancurkan ekonomi Dubai yang bergantung pada perdagangan. Pakar King's College, Andreas Krieg, mencatat: "Menemukan posisi Teluk yang sama akan sangat sulit"
.
Pusat Soufan melaporkan bahwa perang Iran telah "memperlebar perbedaan antara Arab Saudi, yang lebih menyukai akomodasi dengan Iran dan aktor regional yang didukung Iran, dan Uni Emirat Arab, yang percaya konfrontasi militer dengan Iran dan sekutunya dapat menghasilkan perubahan transformatif" .
Penutupan Selat Hormuz.
Perang Iran menyebabkan penutupan de facto Selat Hormuz untuk sebagian besar pelayaran, menghadirkan "risiko fundamental bagi keamanan dan vitalitas ekonomi" negara-negara GCC . UAE, yang bergantung pada jalur laut terbuka untuk pelabuhan Jebel Ali dan transshipment minyaknya, mengalami gangguan ekonomi yang tidak proporsional — memperdalam frustrasinya dengan postur Riyadh yang lebih hawkish.
Keretakan meluas ke sektor keuangan.
Setidaknya sejak Mei 2026, bank-bank Saudi telah memblokir, menunda, atau mengembalikan pembayaran dari entitas Saudi ke rekening berbasis di UAE — seringkali tanpa penjelasan . Financial Times dan Bloomberg sama-sama melaporkan penundaan ini, dengan bisnis mengatakan transfer yang dulu lancar kini tertahan tanpa batas waktu
. Seorang eksekutif Barat mengatakan tiga pembayaran dari klien lama Saudi telah diblokir dan dikembalikan
. Hal ini memaksa perusahaan untuk merutekan pembayaran melalui Bahrain atau menggunakan metode yang lebih mahal
. Semafor melaporkan bahwa beberapa individu terpaksa bepergian di antara kedua negara Teluk dengan membawa uang tunai dalam jumlah besar
.
Skala taruhannya.
Dana kekayaan negara Teluk — termasuk Dana Investasi Publik (PIF) Arab Saudi (sekitar $925 miliar), ADIA, ADQ, dan Mubadala milik UAE, ditambah QIA Qatar dan KIA Kuwait — mengelola perkiraan gabungan aset sebesar $3 triliun atau lebih . Dana-dana ini adalah salah satu sumber modal terbesar secara global untuk divisi manajemen aset, penasihat, dan perbankan swasta Wall Street
.
Ultimatum kantor pusat Riyadh Arab Saudi.
Arab Saudi secara efektif mewajibkan bank mana pun yang menginginkan mandat pemerintah atau PIF untuk mendirikan kantor pusat regional di Kerajaan. "Tak satu pun dari mereka akan memiliki akses ke mandat pemerintah di Kerajaan tanpa dokumen khusus itu," catat sebuah laporan industri . JPMorgan Chase, Goldman Sachs, dan Morgan Stanley semuanya telah mendapatkan lisensi kantor pusat Riyadh
. Goldman Sachs sendiri telah melipatgandakan jumlah staf di Riyadh menjadi sekitar 60 orang dan meluncurkan manajemen kekayaan swasta di sana
. PIF Saudi juga menjadi jangkar dana baru yang berfokus pada Teluk dengan Goldman Sachs Asset Management
.
Aksi penyeimbangan yang mustahil.
Menurut laporan Bloomberg yang diterbitkan pada 12-13 Juli 2026, berdasarkan wawancara dengan lebih dari selusin bankir Wall Street dan eksekutif ekuitas swasta, keretakan Teluk kini memaksa perusahaan keuangan untuk secara efektif memilih sisi . Sebuah bank yang memperdalam hubungan dengan Riyadh berisiko mengasingkan Abu Dhabi — dan sebaliknya. Sebuah artikel berjudul "The $3 Trillion Saudi-UAE Rift Wall Street Cannot Ignore" menggambarkan percakapan pribadi yang mengungkapkan "kekhawatiran yang lebih tenang namun berdampak luas yang sebagian besar tidak terlihat oleh radar publik"
. Laporan yang sama mencatat bahwa Goldman Sachs, Morgan Stanley, BlackRock, Brookfield, dan KKR telah mulai menyusun rencana kontinjensi jika hubungan antara kedua negara memburuk
.
Pola yang muncul.
Ketiga bank masih mempertahankan operasi di UAE, tetapi lintasannya jelas: Riyadh menuntut keunggulan, dan Wall Street merespons karena Kerajaan mengendalikan kumpulan modal yang lebih besar yang dapat digunakan dan dapat menahan mandat dari perusahaan yang tidak mematuhinya.
Iran secara historis berusaha mengeksploitasi perpecahan di dalam Dewan Kerjasama Teluk. Analisis King's College London dan laporan Brookings Institution sama-sama mencatat bahwa Iran memandang keretakan Saudi-UAE sebagai kerentanan strategis yang dapat dieksploitasi . Serangan balasan Iran telah menghantam tanah Saudi tetapi lebih terkendali terhadap UAE, yang ditafsirkan analis sebagai upaya yang disengaja untuk memperdalam perpecahan Teluk daripada menyatukan Riyadh dan Abu Dhabi melawan musuh bersama
.
Perlu dicatat bahwa sementara pola strategisnya terdokumentasi dengan baik, analisis ini tidak dapat memverifikasi secara independen satu ancaman eksplisit Iran untuk "menghancurkan Emirat" dari sumber yang diambil. Bukti yang tersedia menunjukkan bahwa Iran telah mengkalibrasi respons militernya secara berbeda terhadap setiap negara, konsisten dengan strategi memecah-belah dan memberi tekanan, tetapi belum tentu merupakan ancaman langsung terhadap keberadaan UAE.
Keretakan Saudi-UAE bukan lagi sekadar ketidaksepakatan di belakang pintu tertutup. Ini telah menjadi fitur struktural geopolitik Timur Tengah dengan konsekuensi langsung bagi keuangan global, pasar energi, dan keamanan. Perang Iran memaksa kedua negara untuk menunjukkan kartu mereka, dan Wall Street sekarang diminta untuk memasang taruhan mereka. Bank-bank yang mengelola triliunan dolar Teluk menemukan bahwa dalam perang dingin baru ini, netralitas mungkin bukan lagi pilihan.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Aliansi Saudi UAE yang dulunya kuat kini retak akibat perang proksi di Yaman dan Sudan, kebijakan minyak yang berbeda, serta persaingan kepemimpinan regional.
Aliansi Saudi UAE yang dulunya kuat kini retak akibat perang proksi di Yaman dan Sudan, kebijakan minyak yang berbeda, serta persaingan kepemimpinan regional. Perang AS Iran 2026 memperburuk perpecahan: Saudi terlibat konflik langsung, sementara UAE lebih memilih de eskalasi untuk melindungi ekonominya.
Saudi memblokir atau menunda transfer bank ke rekening di UAE sejak Mei 2026, memaksa perusahaan mencari jalur alternatif seperti Bahrain.