Industri teknologi sedang menghadapi lonjakan permintaan chip memori yang dipicu oleh perkembangan kecerdasan buatan. Kondisi ini sering disebut sebagai “RAMpocalypse” karena ikut mendorong naiknya biaya berbagai perangkat elektronik.
Nintendo awalnya menjual Switch 2 dengan harga US$449,99. Namun, perusahaan mengumumkan kenaikan US$50 di Amerika Serikat, menjadi US$499,99 mulai September 2026. Wilayah lain, termasuk Kanada, Eropa, dan Jepang, juga mengalami penyesuaian harga, dengan kekurangan memori disebut sebagai salah satu alasannya .
Mengganti LCD dengan OLED akan menambah biaya material konsol. Tantangannya semakin besar karena harga model dasar Switch 2 sendiri sudah naik. Presiden Nintendo Shuntaro Furukawa sebelumnya mengatakan perusahaan akan “mempertimbangkan dengan cermat” kemungkinan kenaikan harga sambil memantau tingkat adopsi, tren penjualan, biaya, profitabilitas, dan kondisi pasar .
Pada akhir 2025, Nintendo sempat menyatakan bahwa Switch 2 masih dapat menghasilkan keuntungan meski biaya sejumlah komponen meningkat . Akan tetapi, kondisi pasar kemudian memburuk. Kenaikan harga memori membuat ruang bagi Nintendo untuk menghadirkan peningkatan premium tanpa menaikkan harga semakin sempit.
Pada generasi pertama, model OLED hanya berharga US$50 lebih mahal daripada Switch standar. Untuk Switch 2, situasinya berbeda. Harga dasar yang sudah mencapai US$499,99 membuat model OLED berpotensi menembus US$549,99 atau lebih. Bagi konsumen, selisih tersebut bisa menjadi pertimbangan besar—terutama jika peningkatannya hanya berfokus pada kualitas layar dan kapasitas penyimpanan.
Terlepas dari rumor OLED, Nintendo dikabarkan sedang mengembangkan revisi panel LCD untuk mengatasi ghosting, yaitu bayangan atau jejak gambar yang tertinggal sesaat ketika objek bergerak cepat di layar.
Panel LCD Switch 2 generasi awal yang dirakit oleh Innolux disebut memiliki waktu respons piksel sekitar 50 persen lebih lambat dibandingkan layar Nintendo Switch pertama. Akibatnya, gerakan cepat dalam sejumlah gim dapat terlihat lebih buram dan meninggalkan jejak gambar .
Layar tersebut juga tidak menggunakan teknik seperti black frame insertion atau overdrive untuk mengurangi efek tersebut—kemungkinan demi menghemat daya baterai .
Panel dengan nomor model LS079T1SX10P muncul di situs jual-beli ulang di China . Ukurannya masih 7,9 inci dengan resolusi 1.920 × 1.080, tetapi panel itu disebut diproduksi dan dirakit oleh Sharp. Perbedaan pada papan sirkuit, konektor, dan kabel menunjukkan bahwa ini mungkin bukan sekadar perubahan kecil pada lini produksi
.
Sejumlah laporan menyebut tujuan revisi tersebut adalah meningkatkan waktu respons dan mengurangi, atau bahkan menghilangkan, ghosting . Namun, Nintendo belum mengonfirmasi keberadaan panel baru itu. Jika perubahan dilakukan secara diam-diam, unit ritel mungkin tidak memiliki perbedaan tampilan luar atau label baru
.
Yang perlu digarisbawahi: panel tersebut bukan OLED. Beberapa sumber secara eksplisit menyatakan bahwa layar baru itu masih menggunakan teknologi LCD .
Switch 2 OLED memang sedang dipertimbangkan, tetapi belum menjadi produk yang pasti akan dirilis. Jika laporan tersebut akurat, pengembangan baru dapat dimulai pada akhir 2026 dan produksi massal paling cepat berlangsung pada akhir 2027 hingga awal 2028 . Artinya, versi OLED masih mungkin berjarak sekitar 1,5 hingga 2 tahun.
Sementara itu, Nintendo tampaknya memilih menyelesaikan masalah yang lebih mendesak terlebih dahulu: ghosting pada layar LCD. Revisi panel Sharp yang beredar dapat menjadi solusi untuk keluhan tersebut, tetapi statusnya masih berupa rumor dan belum mendapat konfirmasi resmi. Bagi calon pembeli, kabar ini berarti satu hal penting: Switch 2 dengan layar baru yang beredar saat ini belum tentu Switch 2 OLED yang dinantikan.