Spesifikasi utamanya meliputi:
Secara sederhana, pembangkit surya akan menghasilkan listrik dalam jumlah sangat besar pada siang hari. Sebagian energi kemudian disimpan dalam baterai untuk digunakan setelah matahari terbenam atau ketika produksi surya menurun. Dengan konfigurasi ini, listrik terbarukan tidak hanya tersedia ketika cuaca mendukung, tetapi dapat dijadwalkan untuk memasok jaringan secara lebih konsisten.
Pembangunan resmi proyek tersebut dimulai pada Juni 2026 dan disaksikan Sheikh Theyab bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan . Namun, pemasangan panel surya awal telah dilaporkan berlangsung sejak Oktober 2025 . Proyek ini juga dikaitkan dengan meningkatnya kebutuhan listrik Abu Dhabi, termasuk permintaan dari pusat data yang mendukung pengembangan kecerdasan buatan (AI) .
BYD menandatangani kesepakatan dengan Masdar pada Juli 2026. Angka 11,275 GWh merupakan kapasitas spesifik yang dilaporkan oleh sejumlah media energi dan keuangan berbahasa Mandarin—sedikit di bawah angka pembulatan 11,3 GWh yang kerap muncul dalam pemberitaan .
Ruang lingkupnya mencakup penyediaan peralatan BESS untuk porsi BYD dari total kebutuhan penyimpanan proyek RTC. Dengan kapasitas tersebut, BYD menjadi salah satu pemasok utama sistem penyimpanan untuk proyek energi surya berskala gigawatt ini .
Komposisi pemasok proyek RTC berubah seiring perkembangan pengadaan. CATL sebelumnya diumumkan sebagai pemasok BESS pilihan ketika proyek diperkenalkan pada Januari 2025 . Kemudian, Sungrow dilaporkan memenangkan pesanan penyimpanan sebesar 7,5 GWh pada Mei 2026 .
| Pemasok | Porsi kapasitas yang dilaporkan | Status |
|---|---|---|
| BYD | sekitar 11,275 GWh | Kesepakatan ditandatangani Juli 2026 |
| Sungrow | 7,5 GWh | Pesanan diperoleh Mei 2026 |
| CATL | Sebelumnya ditunjuk sebagai pemasok pilihan | Pengumuman Januari 2025 |
Jika kapasitas BYD dan Sungrow dijumlahkan, hasilnya mencapai 18,775 GWh—sangat dekat dengan total kebutuhan 19 GWh. Meski demikian, sumber yang tersedia belum menjelaskan secara pasti apakah CATL telah digantikan, apakah perannya dikurangi, atau apakah ketiga perusahaan akan terlibat dalam susunan akhir yang berbeda. Karena itu, posisi final CATL dalam proyek tersebut masih belum sepenuhnya jelas.
Kontrak Masdar memperlihatkan bahwa BYD tidak hanya mengandalkan bisnis baterai kendaraan listrik. Perusahaan asal China itu juga sedang memperluas bisnis penyimpanan energi stasioner—sistem baterai yang dipasang di jaringan listrik, pembangkit, dan fasilitas industri—sebagai sumber pertumbuhan baru .
Pada awal 2025, BYD Energy Storage menandatangani kontrak dengan Saudi Electricity Company (SEC) untuk menyediakan BESS skala jaringan dengan kapasitas 12,5 GWh . Proyek ini mencakup lima lokasi: Riyadh, Qaisumah, Dawadmi, Al Jouf, dan Rabigh. Masing-masing dirancang sebagai instalasi berkapasitas 500 MW/2.500 MWh .
Jika digabungkan dengan proyek sebelumnya sebesar 2,6 GWh, total kerja sama BYD dan SEC mencapai 15,1 GWh . Pengiriman peralatan untuk proyek tersebut dimulai pada April 2025 dari Pelabuhan Teluk Beibu di Guangxi, China , sementara pengoperasian komersial ditargetkan berlangsung pada 2027–2028 .
Ekspansi BYD di sektor ini didukung oleh sistem penyimpanan generasi baru bernama Haohan, yang diluncurkan pada September 2025 . Sistem tersebut menggunakan Blade Battery khusus penyimpanan energi dengan kapasitas 2.710 Ah. Menurut spesifikasi yang dipublikasikan, kapasitas ini lebih dari 300% lebih tinggi dibandingkan baterai penyimpanan konvensional .
Beberapa spesifikasi Haohan yang dilaporkan meliputi:
Kapasitas unit yang besar dapat membantu mengurangi jumlah unit, kabel, serta kebutuhan lahan dalam proyek penyimpanan skala jaringan. Namun, performa akhir di lapangan tetap akan bergantung pada desain proyek, kondisi lingkungan gurun, integrasi ke jaringan, dan pengoperasian sistem secara keseluruhan.
Proyek Abu Dhabi menunjukkan arah baru dalam pengembangan energi terbarukan: bukan hanya membangun pembangkit surya berkapasitas besar, tetapi juga menambahkan penyimpanan yang cukup untuk membuat pasokannya lebih dapat dikendalikan.
Bagi BYD, kontrak 11,275 GWh di Masdar memperkuat jejak perusahaan di pasar Timur Tengah sekaligus mempertegas pergeseran fokus dari baterai kendaraan listrik menuju penyimpanan energi stasioner. Jika target operasi 2027 tercapai, proyek RTC akan menjadi demonstrasi penting bahwa energi surya dan baterai dapat dipadukan untuk menyediakan daya bersih secara terus-menerus dalam skala gigawatt.
Spesifikasi utamanya meliputi:
Secara sederhana, pembangkit surya akan menghasilkan listrik dalam jumlah sangat besar pada siang hari. Sebagian energi kemudian disimpan dalam baterai untuk digunakan setelah matahari terbenam atau ketika produksi surya menurun. Dengan konfigurasi ini, listrik terbarukan tidak hanya tersedia ketika cuaca mendukung, tetapi dapat dijadwalkan untuk memasok jaringan secara lebih konsisten.
Pembangunan resmi proyek tersebut dimulai pada Juni 2026 dan disaksikan Sheikh Theyab bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan . Namun, pemasangan panel surya awal telah dilaporkan berlangsung sejak Oktober 2025 . Proyek ini juga dikaitkan dengan meningkatnya kebutuhan listrik Abu Dhabi, termasuk permintaan dari pusat data yang mendukung pengembangan kecerdasan buatan (AI) .
BYD menandatangani kesepakatan dengan Masdar pada Juli 2026. Angka 11,275 GWh merupakan kapasitas spesifik yang dilaporkan oleh sejumlah media energi dan keuangan berbahasa Mandarin—sedikit di bawah angka pembulatan 11,3 GWh yang kerap muncul dalam pemberitaan .
Ruang lingkupnya mencakup penyediaan peralatan BESS untuk porsi BYD dari total kebutuhan penyimpanan proyek RTC. Dengan kapasitas tersebut, BYD menjadi salah satu pemasok utama sistem penyimpanan untuk proyek energi surya berskala gigawatt ini .
Komposisi pemasok proyek RTC berubah seiring perkembangan pengadaan. CATL sebelumnya diumumkan sebagai pemasok BESS pilihan ketika proyek diperkenalkan pada Januari 2025 . Kemudian, Sungrow dilaporkan memenangkan pesanan penyimpanan sebesar 7,5 GWh pada Mei 2026 .
| Pemasok | Porsi kapasitas yang dilaporkan | Status |
|---|---|---|
| BYD | sekitar 11,275 GWh | Kesepakatan ditandatangani Juli 2026 |
| Sungrow | 7,5 GWh | Pesanan diperoleh Mei 2026 |
| CATL | Sebelumnya ditunjuk sebagai pemasok pilihan | Pengumuman Januari 2025 |
Jika kapasitas BYD dan Sungrow dijumlahkan, hasilnya mencapai 18,775 GWh—sangat dekat dengan total kebutuhan 19 GWh. Meski demikian, sumber yang tersedia belum menjelaskan secara pasti apakah CATL telah digantikan, apakah perannya dikurangi, atau apakah ketiga perusahaan akan terlibat dalam susunan akhir yang berbeda. Karena itu, posisi final CATL dalam proyek tersebut masih belum sepenuhnya jelas.
Kontrak Masdar memperlihatkan bahwa BYD tidak hanya mengandalkan bisnis baterai kendaraan listrik. Perusahaan asal China itu juga sedang memperluas bisnis penyimpanan energi stasioner—sistem baterai yang dipasang di jaringan listrik, pembangkit, dan fasilitas industri—sebagai sumber pertumbuhan baru .
Pada awal 2025, BYD Energy Storage menandatangani kontrak dengan Saudi Electricity Company (SEC) untuk menyediakan BESS skala jaringan dengan kapasitas 12,5 GWh . Proyek ini mencakup lima lokasi: Riyadh, Qaisumah, Dawadmi, Al Jouf, dan Rabigh. Masing-masing dirancang sebagai instalasi berkapasitas 500 MW/2.500 MWh .
Jika digabungkan dengan proyek sebelumnya sebesar 2,6 GWh, total kerja sama BYD dan SEC mencapai 15,1 GWh . Pengiriman peralatan untuk proyek tersebut dimulai pada April 2025 dari Pelabuhan Teluk Beibu di Guangxi, China , sementara pengoperasian komersial ditargetkan berlangsung pada 2027–2028 .
Ekspansi BYD di sektor ini didukung oleh sistem penyimpanan generasi baru bernama Haohan, yang diluncurkan pada September 2025 . Sistem tersebut menggunakan Blade Battery khusus penyimpanan energi dengan kapasitas 2.710 Ah. Menurut spesifikasi yang dipublikasikan, kapasitas ini lebih dari 300% lebih tinggi dibandingkan baterai penyimpanan konvensional .
Beberapa spesifikasi Haohan yang dilaporkan meliputi:
Kapasitas unit yang besar dapat membantu mengurangi jumlah unit, kabel, serta kebutuhan lahan dalam proyek penyimpanan skala jaringan. Namun, performa akhir di lapangan tetap akan bergantung pada desain proyek, kondisi lingkungan gurun, integrasi ke jaringan, dan pengoperasian sistem secara keseluruhan.
Proyek Abu Dhabi menunjukkan arah baru dalam pengembangan energi terbarukan: bukan hanya membangun pembangkit surya berkapasitas besar, tetapi juga menambahkan penyimpanan yang cukup untuk membuat pasokannya lebih dapat dikendalikan.
Bagi BYD, kontrak 11,275 GWh di Masdar memperkuat jejak perusahaan di pasar Timur Tengah sekaligus mempertegas pergeseran fokus dari baterai kendaraan listrik menuju penyimpanan energi stasioner. Jika target operasi 2027 tercapai, proyek RTC akan menjadi demonstrasi penting bahwa energi surya dan baterai dapat dipadukan untuk menyediakan daya bersih secara terus-menerus dalam skala gigawatt.