Makalah tersebut memperingatkan bahwa "respons yang dihasilkan GenAI mungkin terdengar percaya diri tetapi masih bisa tidak lengkap, menyesatkan, atau salah," dan bahwa keluaran yang "suboptimal" atau bias menimbulkan pertanyaan "tentang konsistensi dan keadilan dari rekomendasi yang dihasilkan GenAI" .
Temuan akademis ini bukanlah kasus yang terisolasi. Selama dua tahun terakhir, beberapa lembaga pemerintah AS telah mengeluarkan peringatan paralel tentang risiko AI di sektor jasa keuangan.
Departemen Keuangan AS (Treasury) – Juni 2026: Dalam sebuah laporan komprehensif, Treasury merekomendasikan penyelarasan definisi AI antar regulator keuangan, memberikan klarifikasi tambahan tentang standar privasi dan keamanan data, serta mencatat bahwa model AI dapat memperkuat risiko terkait bias, kemampuan menjelaskan, dan penyedia pihak ketiga .
Pernyataan Bersama FTC, EEOC, CFPB, dan DOJ – Juni 2026: Keempat badan ini secara bersama-sama memperingatkan bahwa penggunaan AI "berpotensi melanggengkan bias ilegal, mengotomatiskan diskriminasi ilegal, dan menghasilkan hasil berbahaya lainnya" di bidang keuangan konsumen dan mengumumkan upaya penegakan hukum yang terkoordinasi .
Laporan GAO – Mei 2025: Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS (GAO) mengidentifikasi tujuh kategori risiko AI di jasa keuangan: bias pinjaman yang adil, perlindungan investor, privasi, perlindungan konsumen, risiko operasional/siber, risiko model, dan risiko kepatuhan. GAO merekomendasikan agar regulator federal mengeluarkan panduan yang diperbarui untuk mengatasi bias dalam sistem AI lembaga keuangan .
Kesaksian di Komite Jasa Keuangan DPR AS – 2024: Seorang saksi bersaksi bahwa AI menyimpan "bahaya besar untuk melanggengkan bias, menyebarkan misinformasi, mengecualikan orang dari layanan yang diperlukan, dan menghasilkan bahaya lainnya" .
Laporan Treasury Desember 2024: Setelah Permintaan Informasi (RFI) tahun 2024, Treasury menyoroti kekhawatiran tentang model AI yang memperkuat bias dalam data historis, kurangnya kemampuan menjelaskan dalam keputusan AI, dan risiko halusinasi yang unik pada AI generatif .
Di luar laporan resmi, para pakar independen juga angkat bicara. Profesor MIT Andrew Lo memperingatkan pada Maret 2026 bahwa LLM akan "selalu kembali dengan jawaban yang terdengar otoritatif, meskipun tidak," dan untuk "perhitungan yang sangat, sangat spesifik dari situasi pribadi Anda," AI tidak bisa dipercaya sebagai otoritas final .
Studi terpisah tahun 2025 yang diterbitkan di PLOS ONE berjudul "Biased echoes: Large language models reinforce investment biases and increase portfolio risks of private investors" menemukan bahwa LLM tidak hanya membantu keputusan investasi—mereka secara aktif dapat membuat portofolio lebih berisiko dengan memperkuat bias manusia seperti mengejar tren dan konsentrasi berlebihan .
Banyak sumber menunjukkan adanya kesenjangan penegakan hukum. GAO menemukan bahwa regulator keuangan utama kekurangan alat pengawasan yang penting untuk AI . Komisaris CFTC Kristin Johnson mencatat bahwa GAO mengidentifikasi enam kasus penggunaan AI yang berkembang di jasa keuangan—perdagangan otomatis, deteksi penipuan, underwriting kredit, layanan pelanggan, kepatuhan, dan manajemen risiko—yang menuntut kerangka regulasi yang diperbarui .
Kelompok konsumen, termasuk Consumer Federation of America dan Consumer Reports, telah menyerukan "kejelasan dan kepastian regulasi" bahwa lembaga keuangan harus secara aktif mencari dan menerapkan algoritma yang tidak terlalu diskriminatif sebelum menggunakan sistem AI .
Laporan Treasury 2026 secara khusus merekomendasikan penyelarasan definisi AI dan klarifikasi standar untuk privasi, keamanan, dan kualitas data di semua regulator keuangan .
Untuk saat ini, pesan dari akademisi dan regulator jelas: jangan andalkan AI sebagai sumber utama Anda untuk keputusan keuangan pribadi. Alat-alat ini belum cukup konsisten, dan risiko saran yang bias atau bahkan salah begitu besar. Para profesional keuangan memiliki tanggung jawab untuk memverifikasi keluaran AI, dan CFP Board telah menyatakan bahwa perencana tetap bertanggung jawab atas semua saran dan panduan yang dihasilkan oleh AI .
Intinya: studi Journal of Financial Planning memberikan bukti empiris terbaru bahwa saran keuangan yang dihasilkan AI tidak konsisten dan mengandung bias rasial serta gender. Temuan ini sangat diperkuat oleh banyak lembaga regulator AS, yang semuanya telah memperingatkan pada tahun 2024–2026 bahwa AI yang tidak diatur di sektor jasa keuangan berisiko merugikan konsumen, melanggengkan diskriminasi, dan kerapuhan sistemik—serta menyerukan aturan yang lebih jelas, penegakan hukum yang terkoordinasi, dan pengujian bias yang wajib dilakukan.
Makalah tersebut memperingatkan bahwa "respons yang dihasilkan GenAI mungkin terdengar percaya diri tetapi masih bisa tidak lengkap, menyesatkan, atau salah," dan bahwa keluaran yang "suboptimal" atau bias menimbulkan pertanyaan "tentang konsistensi dan keadilan dari rekomendasi yang dihasilkan GenAI" .
Temuan akademis ini bukanlah kasus yang terisolasi. Selama dua tahun terakhir, beberapa lembaga pemerintah AS telah mengeluarkan peringatan paralel tentang risiko AI di sektor jasa keuangan.
Departemen Keuangan AS (Treasury) – Juni 2026: Dalam sebuah laporan komprehensif, Treasury merekomendasikan penyelarasan definisi AI antar regulator keuangan, memberikan klarifikasi tambahan tentang standar privasi dan keamanan data, serta mencatat bahwa model AI dapat memperkuat risiko terkait bias, kemampuan menjelaskan, dan penyedia pihak ketiga .
Pernyataan Bersama FTC, EEOC, CFPB, dan DOJ – Juni 2026: Keempat badan ini secara bersama-sama memperingatkan bahwa penggunaan AI "berpotensi melanggengkan bias ilegal, mengotomatiskan diskriminasi ilegal, dan menghasilkan hasil berbahaya lainnya" di bidang keuangan konsumen dan mengumumkan upaya penegakan hukum yang terkoordinasi .
Laporan GAO – Mei 2025: Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS (GAO) mengidentifikasi tujuh kategori risiko AI di jasa keuangan: bias pinjaman yang adil, perlindungan investor, privasi, perlindungan konsumen, risiko operasional/siber, risiko model, dan risiko kepatuhan. GAO merekomendasikan agar regulator federal mengeluarkan panduan yang diperbarui untuk mengatasi bias dalam sistem AI lembaga keuangan .
Kesaksian di Komite Jasa Keuangan DPR AS – 2024: Seorang saksi bersaksi bahwa AI menyimpan "bahaya besar untuk melanggengkan bias, menyebarkan misinformasi, mengecualikan orang dari layanan yang diperlukan, dan menghasilkan bahaya lainnya" .
Laporan Treasury Desember 2024: Setelah Permintaan Informasi (RFI) tahun 2024, Treasury menyoroti kekhawatiran tentang model AI yang memperkuat bias dalam data historis, kurangnya kemampuan menjelaskan dalam keputusan AI, dan risiko halusinasi yang unik pada AI generatif .
Di luar laporan resmi, para pakar independen juga angkat bicara. Profesor MIT Andrew Lo memperingatkan pada Maret 2026 bahwa LLM akan "selalu kembali dengan jawaban yang terdengar otoritatif, meskipun tidak," dan untuk "perhitungan yang sangat, sangat spesifik dari situasi pribadi Anda," AI tidak bisa dipercaya sebagai otoritas final .
Studi terpisah tahun 2025 yang diterbitkan di PLOS ONE berjudul "Biased echoes: Large language models reinforce investment biases and increase portfolio risks of private investors" menemukan bahwa LLM tidak hanya membantu keputusan investasi—mereka secara aktif dapat membuat portofolio lebih berisiko dengan memperkuat bias manusia seperti mengejar tren dan konsentrasi berlebihan .
Banyak sumber menunjukkan adanya kesenjangan penegakan hukum. GAO menemukan bahwa regulator keuangan utama kekurangan alat pengawasan yang penting untuk AI . Komisaris CFTC Kristin Johnson mencatat bahwa GAO mengidentifikasi enam kasus penggunaan AI yang berkembang di jasa keuangan—perdagangan otomatis, deteksi penipuan, underwriting kredit, layanan pelanggan, kepatuhan, dan manajemen risiko—yang menuntut kerangka regulasi yang diperbarui .
Kelompok konsumen, termasuk Consumer Federation of America dan Consumer Reports, telah menyerukan "kejelasan dan kepastian regulasi" bahwa lembaga keuangan harus secara aktif mencari dan menerapkan algoritma yang tidak terlalu diskriminatif sebelum menggunakan sistem AI .
Laporan Treasury 2026 secara khusus merekomendasikan penyelarasan definisi AI dan klarifikasi standar untuk privasi, keamanan, dan kualitas data di semua regulator keuangan .
Untuk saat ini, pesan dari akademisi dan regulator jelas: jangan andalkan AI sebagai sumber utama Anda untuk keputusan keuangan pribadi. Alat-alat ini belum cukup konsisten, dan risiko saran yang bias atau bahkan salah begitu besar. Para profesional keuangan memiliki tanggung jawab untuk memverifikasi keluaran AI, dan CFP Board telah menyatakan bahwa perencana tetap bertanggung jawab atas semua saran dan panduan yang dihasilkan oleh AI .
Intinya: studi Journal of Financial Planning memberikan bukti empiris terbaru bahwa saran keuangan yang dihasilkan AI tidak konsisten dan mengandung bias rasial serta gender. Temuan ini sangat diperkuat oleh banyak lembaga regulator AS, yang semuanya telah memperingatkan pada tahun 2024–2026 bahwa AI yang tidak diatur di sektor jasa keuangan berisiko merugikan konsumen, melanggengkan diskriminasi, dan kerapuhan sistemik—serta menyerukan aturan yang lebih jelas, penegakan hukum yang terkoordinasi, dan pengujian bias yang wajib dilakukan.