Aksi jual ini mencerminkan lenyapnya pendorong permintaan utama yang sebelumnya sudah diperhitungkan oleh para investor.
Analis Morgan Stanley yang dipimpin oleh Sarah Simon menerbitkan catatan klien yang menyatakan bahwa eliminasi dini kedua tim membawa "risiko signifikan" terhadap proyeksi penjualan bir kuartal ketiga . Catatan riset yang dirangkum oleh sejumlah media keuangan pada 6-7 Juli ini menyoroti beberapa dinamika kunci.
Inti dari analisis ini adalah bahwa lonjakan volume penjualan bir justru terkonsentrasi pada pertandingan "deep-run" — yaitu fase gugur yang tidak akan lagi dimainkan oleh Brasil dan Meksiko . Dengan kata lain, lonjakan penjualan terbesar tidak terjadi pada fase grup, melainkan saat keterlibatan nasional mencapai puncaknya di pertandingan-pertandingan eliminasi yang menentukan.
Mengenai eksposur, Morgan Stanley menyoroti AB InBev (produsen Corona dan Skol) sebagai yang paling rentan karena posisi pasarnya yang dominan di Brasil dan Meksiko . Heineken juga disebut memiliki "eksposur signifikan" di kedua pasar tersebut
.
Yang terpenting, Morgan Stanley menilai bahwa eliminasi Brasil lebih berdampak dibandingkan Meksiko. Brasil adalah pasar bir yang lebih besar dan datang ke turnamen dengan ekspektasi yang lebih tinggi, sehingga kepergian dini mereka menjadi beban yang lebih berat bagi para pembuat bir .
Morgan Stanley membingkai dampak ini terutama sebagai kehilangan potensi kenaikan, bukan runtuhnya basis penjualan. Para analis menggambarkannya sebagai "ketiadaan pertumbuhan tambahan yang seharusnya terjadi jika salah satu tim melaju lebih jauh" . Ini menunjukkan bahwa konsumsi dasar tidak runtuh, hanya saja keuntungan yang diharapkan tidak terealisasi.
Tim AS sebagai penyeimbang parsial. Sekitar 20% pendapatan AB InBev berasal dari pasar AS . Kiprah tim nasional AS yang masih bertahan bisa memberikan dorongan kompensasi. Namun, Morgan Stanley mencatat bahwa "mengingat sejarah sepak bola yang lebih pendek di negara itu, manfaat bir dari perjalanan jauh di AS masih belum teruji dengan baik"
. Data historis mengenai penggemar sepak bola Amerika dan konsumsi bir selama turnamen masih terbatas, sehingga menimbulkan ketidakpastian.
Peristiwa ini terjadi di tengah tantangan industri yang lebih luas. CNN menggambarkan Piala Dunia 2026 sebagai momen "make or break" bagi industri alkohol, yang sedang bergulat dengan perlambatan konsumsi dan perubahan kebiasaan minum di pasar-pasar utama . Turnamen yang terdiri dari lebih dari 100 pertandingan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini sebelumnya diharapkan memberikan dorongan jangka pendek bagi penjualan bir, anggur, dan minuman keras
.
Sebelum Piala Dunia, sejumlah analis telah mengeluarkan pandangan optimistis. Analis Jefferies yang dipimpin Edward Mundy menulis bahwa Piala Dunia akan mendongkrak penjualan bir global sekitar satu miliar pint — atau 568 juta liter — yang mewakili peningkatan 0,3% dari total volume industri tahun ini . Jefferies menggambarkan suasana hati sebagai "bir seharusnya lebih baik di tahun 2026" setelah lima tahun berturut-turut penuh gejolak
. Bernstein menyoroti AB InBev sebagai pemenang yang paling siap karena hak eksklusif bir turnamen dan jejaknya yang dalam di pasar yang gila sepak bola seperti Brasil, Meksiko, Kolombia, dan Argentina
. Goldman Sachs menyebut AB InBev, Constellation Brands, Molson Coors, Heineken, dan Carlsberg sebagai saham dengan rating beli yang bisa diuntungkan dari acara ini
.
Pola lonjakan bir akibat Piala Dunia telah terdokumentasi dengan baik di turnamen-turnamen sebelumnya. Selama Piala Dunia Brasil 2014, penjualan AB InBev melonjak sebesar 140 juta liter di Brasil saja, setara dengan 2 juta barel tambahan . Perusahaan melaporkan peningkatan penjualan bir sebesar 7,2% di Brasil, pasar terbesarnya yang kedua, dengan pendapatan keseluruhan naik 5%
. Analisis historis Morgan Stanley sendiri menemukan bahwa volume bir biasanya mendapat dorongan 2-3% di negara tuan rumah selama tahun Piala Dunia
.
Riset industri lainnya menemukan bahwa di negara-negara tuan rumah sebelumnya, volume bir di tempat konsumsi (on-premise) melonjak 2,5-9,9% di atas normal selama periode turnamen . Brasil 2014 mencatat pemulihan 6,1% di kota-kota tuan rumah setelah penurunan 6% sebelum turnamen
. Piala Dunia 2018 melihat pendapatan Budweiser melonjak 10,1% di luar Amerika Serikat
.
Turnamen 2026 menyajikan peluang yang lebih besar lagi: Piala Dunia ini berlangsung di 16 kota di Amerika Utara dengan perkiraan 6,5 juta penonton, kira-kira dua kali lipat dari penonton AS pada 1994 . Produsen-produsen besar termasuk AB InBev, Heineken, Molson Coors, dan raksasa minuman keras Diageo semuanya meningkatkan belanja pemasaran di sekitar acara ini
.
Vonis langsung Morgan Stanley adalah bahwa eliminasi ganda ini secara material menggerogoti dorongan penjualan bir Piala Dunia yang sudah diperhitungkan investor untuk AB InBev dan Heineken. Kerusakan terkonsentrasi pada hilangnya volume tambahan dari babak gugur yang tidak akan lagi dimainkan oleh dua negara konsumen bir utama ini, dengan kepergian Brasil yang dampaknya lebih besar daripada Meksiko. Performa tim AS menjadi satu-satunya variabel yang tidak pasti dan bisa mengompensasi sebagian kekurangan di Amerika Latin.