Laporan Eropa itu menyoroti beberapa tanda tekanan serius di sektor perbankan Rusia :
Kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) adalah pinjaman yang pembayarannya menunggak atau memiliki risiko tinggi tidak tertagih. Jika jumlahnya membesar, bank harus menambah pencadangan dan kemampuan mereka menyalurkan kredit baru dapat ikut tertekan.
Sejumlah sumber lain juga menunjukkan penurunan kualitas aset perbankan Rusia. Pada awal 2026, porsi aset atau pinjaman bermasalah dalam sistem perbankan Rusia disebut telah melampaui 10%—ambang yang digunakan dalam metodologi Dana Moneter Internasional (IMF) sebagai indikator krisis perbankan sistemik .
Namun, angka tersebut perlu dibaca hati-hati karena definisi dan metode pencatatan dapat berbeda. Data resmi Bank Rusia yang dikutip dalam tinjauan stabilitas keuangan, misalnya, mencatat proporsi pinjaman korporasi yang diklasifikasikan sebagai NPL sebesar 4% pada akhir periode pelaporan 2025 .
Beberapa indikator lain yang menjadi perhatian adalah:
Tekanan tidak hanya terlihat dalam data agregat. Sberbank, salah satu bank terbesar Rusia, menurunkan perkiraan pertumbuhan kredit korporasinya untuk 2026 karena kondisi keuangan para peminjam memburuk. Bank tersebut juga memperkirakan biaya risiko di segmen korporasi meningkat .
Promsvyazbank atau PSB, bank yang memiliki keterkaitan dengan negara dan termasuk lima bank terbesar Rusia berdasarkan aset, membukukan kerugian pada 2025. Bank itu menyisihkan hampir 300 miliar rubel untuk pencadangan kerugian kredit—sekitar tiga kali lipat dibandingkan 2024 . Setidaknya tiga bank besar Rusia juga disebut diam-diam mengeksplorasi opsi memperoleh bantuan penyelamatan apabila semakin banyak debitur gagal membayar .
Laporan intelijen tersebut menilai bank Rusia semakin banyak menyalurkan pembiayaan kepada perusahaan pertahanan, proyek regional yang didukung negara, dan pemilik rumah. Pinjaman seperti ini membantu pemerintah mempertahankan aktivitas ekonomi dalam masa perang, tetapi sekaligus meningkatkan jumlah kredit yang mungkin sulit dikembalikan .
Penilaian lain yang diberitakan Frankfurter Allgemeine Zeitung menggambarkan perekonomian Rusia berada dalam “kondisi eksplosif” setelah diarahkan ke sistem ekonomi perang. Sektor perbankan dinilai sangat rentan, sementara neraca bank disebut “menggelembung secara artifisial” . Perkiraan Swedia yang dikutip dalam laporan tersebut juga menyebut inflasi riil Rusia berada di sekitar 15%, sekitar tiga kali lipat dari angka resmi 5,86% .
Dalam skenario seperti ini, restrukturisasi pinjaman dapat menunda pengakuan kerugian tanpa benar-benar menghilangkan masalah. Jika kondisi peminjam terus memburuk atau nasabah menarik dana secara besar-besaran, tekanan yang selama ini tersembunyi dapat muncul ke permukaan.
Pada Desember 2025, Center for Macroeconomic Analysis and Short-Term Forecasting (CMASF), lembaga kajian yang berafiliasi dengan Kremlin, memperingatkan Rusia dapat menghadapi krisis perbankan sistemik pada Oktober 2026. Syaratnya, aset bermasalah terus meningkat dan deposan mulai menarik dana secara massal .
CMASF kemudian menyatakan bahwa krisis tersebut mulai muncul “secara tersembunyi”, antara lain karena penurunan kualitas aset tertutupi oleh restrukturisasi pinjaman yang menunggak dan dominasi lembaga keuangan milik negara .
Pandangan itu bertentangan dengan pernyataan Filipp Gabunia, wakil gubernur bank sentral Rusia. Ia mengatakan tidak ada indikator krisis perbankan dan restrukturisasi kredit telah membantu menciptakan stabilitas . Perbedaan ini menunjukkan bahwa perdebatan utamanya bukan hanya soal ada atau tidaknya tekanan, melainkan seberapa besar masalah tersebut sudah tercermin dalam angka resmi.
Peringatan mengenai kerentanan perbankan Rusia muncul ketika Uni Eropa menyiapkan paket sanksi ke-21 yang secara khusus menargetkan bank-bank Rusia . Laporan intelijen Eropa juga menilai sektor perbankan Rusia rentan terhadap pembatasan Barat tambahan .
Sanksi baru dapat mempersempit akses bank Rusia terhadap transaksi, pendanaan, dan jaringan keuangan internasional. Dalam situasi ketika kredit bermasalah sudah meningkat dan bank harus menopang ekonomi perang, tekanan eksternal semacam itu berpotensi memperberat masalah yang sebelumnya masih tertahan oleh dukungan negara dan restrukturisasi.
Sejumlah angka dan kebijakan yang disebut dalam pertanyaan awal tidak dimasukkan karena belum dapat dikonfirmasi oleh sumber yang tersedia. Klaim tersebut mencakup kenaikan 17% uang tunai di luar sistem perbankan, perkiraan pertumbuhan PDB Rusia sebesar 0,4% pada 2026, krisis bahan bakar akibat serangan drone Ukraina terhadap kilang minyak, janji Presiden Vladimir Putin untuk mengimpor bensin dari India, serta penilaian spesifik dari Kiel Institute.
Dengan demikian, bukti yang dapat diverifikasi dalam materi ini terutama menunjukkan memburuknya kualitas kredit, lonjakan kebangkrutan pribadi, tekanan pada bank-bank besar, dan peringatan bahwa ekonomi perang dapat menutupi risiko yang lebih dalam. Laporan intelijen Eropa menyebut kondisi itu berpotensi menjadi krisis “eksplosif”, tetapi waktu dan skala krisis sistemik belum dapat dipastikan dari data yang tersedia.