Lalu, bagaimana mungkin kemampuan ofensif Rusia mendekati nol jika mereka masih bisa melancarkan serangan semacam itu? Jawabannya terletak pada perbedaan mendasar antara perang manuver darat dan pemboman jarak jauh. Data menunjukkan bahwa di darat, mesin perang Rusia benar-benar tersendat.
Institute for the Study of War (ISW), sebuah lembaga think tank di Washington yang menganalisis data geolokasi, mencatat perlambatan dramatis dalam kemajuan darat Rusia:
Laporan Al Jazeera pada 3 Juli 2026 bahkan menyebutkan jumlah tentara Rusia yang tewas pada Juni 2026 mencapai 40.000 orang . Laporan tersebut menyimpulkan bahwa tingkat kemajuan Rusia ambruk dari rata-rata 16,6 km persegi per hari di awal 2025 menjadi hanya 1,03 km persegi per hari di tahun 2026
.
Panglima Angkatan Bersenjata Ukraina, Jenderal Oleksandr Syrskyi, dalam wawancara pada 30 Juni 2026 dengan TSN Ukraina, menyatakan bahwa pasukannya sedang bersiap menghadapi kemungkinan serangan baru Rusia dari utara, tetapi menilai bahwa upaya untuk maju ke Kyiv sangat tidak mungkin . Sebelumnya, pada Maret 2026, Syrskyi melaporkan bahwa ofensif besar Rusia selama empat hari (17-20 Maret) telah "gagal total dengan kerugian yang sangat besar"
. Jenderal Syrskyi juga pernah mengatakan bahwa kerugian tentara Rusia telah melampaui tingkat rekrutmen mereka, membuat operasi ofensif berkelanjutan menjadi tidak berkelanjutan
.
Lantas, apa artinya semua ini? Data mendukung pernyataan Vance bahwa kemampuan ofensif darat Rusia memang hampir habis. Kerugian besar, perlambatan kemajuan, dan ketidakmampuan untuk mencapai tujuan strategis menunjukkan bahwa pasukan darat Rusia sudah kehabisan napas.
Namun, serangan ke Kyiv pada 2 Juli membuktikan bahwa Rusia masih memiliki kemampuan serangan jarak jauh yang mematikan. Mereka dapat meneror warga sipil dan menghancurkan infrastruktur kota meskipun kewalahan di medan perang.
Pesan Vance lebih merupakan penilaian politik dan militer untuk menunjukkan bahwa Ukraina memiliki peluang untuk menang di darat, yang bisa menjadi dasar untuk negosiasi perdamaian. Sementara itu, tindakan Kremlin menunjukkan bahwa Rusia masih percaya diri dan tidak akan menyerah tanpa perlawanan, terutama melalui teror udara.
Catatan: Kutipan langsung dari wawancara Vance diambil dari laporan outlet Ukraina (Ukrainska Pravda dan RBC Ukraine) yang mengutip European Pravda. Transkrip lengkap dari The Sunday Times belum dirilis secara luas, namun substansinya konsisten .