Perusahaan di seluruh dunia berlomba membeli alat kecerdasan buatan (AI). Sebuah studi global oleh CambrianEdge.ai menemukan bahwa 88% perusahaan telah mengadopsi AI di setidaknya satu fungsi . Namun, sebagian besar penggunaan itu masih sangat dangkal. Faktanya, 37% organisasi menerapkan AI tanpa perubahan berarti pada proses bisnis yang mendasarinya. Survei terhadap 775 pengguna AI di 104 organisasi bahkan mengungkapkan bahwa 55% profesional melihat penggunaan AI yang terfragmentasi dan ketiadaan alur kerja manusia-AI yang terstruktur sebagai hambatan terbesar dalam adopsi AI
.
Teknologi bukanlah hambatannya; sisi manusialah yang menjadi masalah. Inilah inti tesis dari Atheni AI, sebuah startup yang berbasis di London, yang baru saja mengamankan dana sebesar £350.000 (sekitar $440.000) dalam putaran pendanaan pre-seed untuk menjembatani kesenjangan antara membeli AI dan benar-benar menggunakannya secara efektif .
Louise Ballard, salah satu pendiri Atheni AI, menggambarkan kondisi adopsi AI di perusahaan saat ini dengan gamblang: "Orang-orang punya alatnya, tapi stuck di permukaan. Bukan karena mereka tidak mampu, tapi karena jarang ada orang yang benar-benar bisa menggunakan AI dengan baik hanya dengan mengerjakan tugas-tugas dasar" . Dalam sebuah acara puncak Tech.eu, dia mengatakannya dengan lebih tajam: organisasi memiliki "Ferrari yang dipakai orang untuk pergi ke pasar" — teknologi canggih yang digunakan untuk pekerjaan sepele dan bernilai rendah
.
Pendekatan Atheni AI bukanlah membangun model AI baru. Sebaliknya, perusahaan ini berfokus pada perubahan perilaku. Platform mereka bertindak sebagai "pelatih digital" yang menyematkan panduan yang dipersonalisasi dan sesuai dengan peran tertentu langsung ke dalam alur kerja sehari-hari. Platform ini juga tidak terikat pada satu vendor tertentu, artinya bisa bekerja dengan ChatGPT, Claude, Copilot, dan alat lainnya tanpa mengunci pengguna dalam satu ekosistem . Tujuannya adalah untuk mendorong karyawan melampaui tugas dasar seperti meringkas dokumen dan menulis email, menuju pekerjaan baru yang benar-benar bernilai lebih tinggi.
Ballard berargumen bahwa pelatihan korporat konvensional gagal karena tiga alasan yang saling terkait:
Pelatihan itu generik dan cepat usang. "Pelatihan terlalu generik dan langsung ketinggalan zaman begitu diluncurkan," kata Ballard dalam sebuah unggahan LinkedIn . Dalam wawancara podcast, ia mencatat bahwa video pelatihan tradisional dibuat sekali lalu cepat menjadi tidak relevan karena alat AI berubah begitu cepat
.
Volume penggunaan tidak sama dengan kemampuan. Perusahaan sering mengukur frekuensi — berapa jam karyawan menggunakan alat AI — dan keliru menganggapnya sebagai kemajuan. Ballard membandingkannya dengan fokus pada kedalaman: "Seseorang yang menggunakan AI empat jam sehari mungkin hanya melakukan tugas-tugas sepele, sementara 20 menit kerja tingkat tinggi bisa memberikan nilai yang jauh lebih besar" .
Sesi satu kali tidak mengubah perilaku. "Mereka mengadakan workshop dan menganggap pekerjaan selesai. Les piano sekali dan mereka mengharapkan konser," kata Ballard . Masalah yang lebih dalam adalah bahwa AI pada dasarnya berbeda dari teknologi tempat kerja sebelumnya. AI tidak memiliki "batas tetap" — alih-alih tugas dan alur kerja yang jelas, AI menawarkan kemungkinan tak terbatas. Kebanyakan orang pada akhirnya kembali ke tugas bernilai rendah yang sudah mereka kenal .
Solusi Atheni adalah pembinaan berkelanjutan yang disesuaikan, yang mengukur apakah seorang karyawan benar-benar dapat melakukan pekerjaan baru yang bernilai, bukan hanya seberapa sering mereka mengeklik .
Ballard dan rekan pendirinya, Mackenzie Howe, menghabiskan waktu dua tahun membangun metodologi Atheni melalui konsultasi langsung dengan klien sebelum menulis satu baris kode pun untuk platform mereka . Ballard memiliki pengalaman tiga dekade di bidang komunikasi korporat dan telah menjual agensi PR-nya. Howe adalah konsultan investasi institusional. Tak satu pun dari mereka yang cocok dengan cetakan tipikal pendiri AI yang diharapkan investor.
"Kami datang dari sisi orang, bukan sisi teknologi," kata Ballard, menggambarkan tantangan untuk dianggap serius meskipun memiliki pengalaman gabungan puluhan tahun .
Bias yang mereka hadapi mencerminkan masalah sistemik. Sebuah laporan House of Commons Inggris tahun 2025 menemukan bahwa tim pendiri yang semuanya perempuan hanya menerima 2% dari investasi ekuitas pada tahun 2024, sementara tim pria menguasai lebih dari 80% modal . Polanya bahkan lebih tajam di sektor AI: antara 2012 dan 2022, tim pria mengumpulkan 80% dari total modal ventura di AI, sementara tim wanita hanya mengumpulkan 0,3%
.
Ballard sendiri menyoroti di LinkedIn bahwa pada tahun 2025, hanya 1,75% investasi ekuitas Inggris yang masuk ke tim pendiri wanita .
Meskipun menghadapi angin sakal, Atheni AI berhasil menutup putaran pendanaan pre-seed sebesar £350.000 pada bulan Mei 2026. Putaran ini didukung oleh investor malaikat termasuk pengusaha serial Alex Chesterman OBE (pendiri Zoopla, Cazoo, dan LoveFilm) serta mendapat dukungan dari Innovate UK . Chesterman adalah salah satu yang pertama percaya, memberi tahu para pendiri bahwa mereka telah "melihat dua tahun lalu apa yang baru sekarang menjadi jelas"
. Putaran ini relatif sederhana — mencerminkan perjuangan berat yang masih dihadapi pendiri wanita bahkan dengan daya tarik pelanggan yang kuat dan celah pasar yang jelas.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Startup Athena AI, yang berbasis di London, Inggris, baru saja mengamankan pendanaan awal sebesar £350.000 (sekitar $440.000) untuk mengatasi masalah adopsi AI di perusahaan.
Startup Athena AI, yang berbasis di London, Inggris, baru saja mengamankan pendanaan awal sebesar £350.000 (sekitar $440.000) untuk mengatasi masalah adopsi AI di perusahaan. Alih alih membuat model AI baru, Atheni mengembangkan platform 'pelatih digital' yang memberikan panduan personal sesuai peran pekerjaan dan terintegrasi langsung ke alur kerja sehari hari.
Pendiri Atheni, Louise Ballard, mengkritik pelatihan AI konvensional yang dianggap terlalu generik dan cepat usang, seperti 'belajar piano sekali lalu diharapkan bisa main konser'.