Proyek ini diprediksi menghasilkan komitmen kontrak pembelian (offtake agreements) senilai $25–$30 miliar (sekitar Rp 400–450 triliun) dalam enam tahun pertama operasinya. Kampus ini menjadi langkah besar ekspansi internasional Firmus dan menandai babak baru investasi AI di Indonesia .
Kampus ini akan dibangun di Pulau Batam, yang secara geografis hanya berjarak dua jam perjalanan feri dari Singapura. Keunggulan Batam terletak pada biaya listrik dan lahan yang lebih kompetitif dibandingkan Singapura, menjadikannya lokasi ideal untuk infrastruktur AI berskala raksasa . Fasilitas ini dirancang sebagai AI Factory berpendingin cair (liquid-cooled) Nvidia DSX (atau DGX) yang mampu menampung GPU dari beberapa generasi .
Pengiriman GPU (Graphics Processing Units) dijadwalkan mulai dari Q1 2027 hingga awal 2028, dan kampus ini ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027 . Perjanjian kemitraan ini berlaku hingga tahun 2034 . Sebanyak 170.000 chip akselerator AI Nvidia akan dikirim, mencakup generasi Grace Blackwell, Vera Rubin, dan Vera . Firmus bahkan dinobatkan sebagai mitra peluncuran (launch partner) untuk platform Vera Rubin di ajang Nvidia GTC Taipei .
Yang menarik, keterlibatan Nvidia tidak terbatas pada penjualan chip saja. Kesepakatan ini mencakup pendapatan produk dari penjualan perangkat keras dan bagian dari pendapatan cloud yang dihasilkan oleh fasilitas tersebut . Dengan kata lain, Firmus membeli infrastruktur Nvidia, lalu menjual layanan cloud bertenaga Nvidia kepada pelanggan "AI Native" dan pengguna lainnya. Nvidia pun mendapat untung ganda: dari penjualan chip dan dari royalti layanan cloud .
Firmus mencapai valuasi $5,5 miliar setelah pendanaan pasca-investasi pada April 2026. Putaran pendanaan sebesar $505 juta ini dipimpin oleh Coatue Management dengan partisipasi dari Nvidia . Ini adalah penggalangan ekuitas ketiga dalam enam bulan, sehingga total modal yang terkumpul mencapai $1,35 miliar . Perusahaan juga menargetkan IPO senilai $2 miliar di Bursa Efek Australia (ASX) pada Juni atau Juli 2026, yang didukung oleh fasilitas utang senilai $10 miliar dari Blackstone yang diperoleh pada Februari 2026 .
Fasilitas di Batam adalah pusat data pertama Firmus di luar Australia. Di dalam negeri, Firmus sudah lebih dulu menggarap Project Southgate, yaitu pembangunan pusat data AI bertenaga energi terbarukan. Beberapa lokasi sedang dibangun di Melbourne dan Tasmania (St Leonards dan Launceston), sebagai bagian dari program senilai A$4,5 miliar (~$2,9 miliar) yang bertujuan menerapkan 1,6 GW pusat data AI berpendingin cair pada tahun 2028 . Situs di Tasmania sepenuhnya ditenagai oleh energi terbarukan dan disebut sebagai Zona Pabrik AI pertama di dunia yang didukung pemerintah .