Laporan lain memperkirakan negara tersebut telah menambah sekitar 1.633 BTC sejak awal 2026, sehingga total kepemilikannya mencapai 7.638 BTC pada saat laporan itu diterbitkan . Angka-angka ini menunjukkan bahwa strategi akumulasi El Salvador bukan sekadar mempertahankan kepemilikan lama, melainkan terus menambah eksposur terhadap Bitcoin.
Sejak November 2022, Bukele mempertahankan kebijakan membeli satu Bitcoin setiap hari. Strategi ini dikenal sebagai dollar-cost averaging (DCA), yaitu pembelian aset secara berkala tanpa mencoba menebak titik harga terendah atau tertinggi .
Secara teori, pendekatan tersebut membantu meratakan harga pembelian dalam jangka panjang karena pembelian dilakukan saat pasar sedang naik maupun turun. Namun, strategi ini juga berarti pemerintah tetap membeli ketika nilai portofolionya sedang tertekan.
Contoh paling mencolok terjadi ketika pasar kripto melemah pada November 2025. Dalam satu minggu, El Salvador membeli sekitar 1.098 BTC, termasuk satu transaksi pembelian 1.091 BTC yang nilainya hampir US$100 juta . Pada Desember 2025, total kepemilikan negara itu diperkirakan telah mencapai sekitar 7.509 BTC .
Kebijakan pembelian harian tersebut terus dilaporkan berjalan pada 2026, meski nilai portofolio sempat jatuh dari puncaknya. Sekitar Oktober 2025, nilai portofolio Bitcoin El Salvador pernah mendekati US$800 juta. Pada Februari 2026, nilainya dilaporkan turun sekitar US$300 juta dari level tersebut, tetapi pemerintah tidak menghentikan pembelian .
Pada Desember 2024, El Salvador menyepakati paket pinjaman IMF senilai US$1,4 miliar. Kesepakatan itu secara resmi disetujui Dewan Eksekutif IMF pada 26 Februari 2025 . Sebagai bagian dari persyaratan program tersebut, pemerintah El Salvador berkomitmen untuk mengurangi keterlibatan negara dalam ekosistem Bitcoin.
Beberapa perubahan kebijakan yang disepakati meliputi:
Di atas kertas, persyaratan tersebut seharusnya membuat pemerintah lebih berhati-hati dalam menambah cadangan Bitcoin. Namun, sepanjang 2025 dan 2026, pemerintahan Bukele tetap dilaporkan melakukan pembelian harian dan pembelian besar saat harga turun . Kantor Bitcoin El Salvador juga masih mengumumkan pembelian baru melalui media sosial . Pada awal 2026, kantor tersebut bahkan menyatakan bahwa negara itu akan “all in” pada Bitcoin dan kecerdasan buatan .
Kontradiksi ini semakin rumit karena laporan IMF pada pertengahan 2025 menyatakan bahwa El Salvador tidak melakukan pembelian Bitcoin baru pada 2025. Menurut laporan tersebut, kenaikan saldo yang dilaporkan pemerintah mungkin hanya merupakan perpindahan antar-dompet internal. Dalam konsultasi Pasal IV, IMF menyebut bahwa “jumlah keseluruhan Bitcoin tetap tidak berubah” setelah fasilitas pembiayaan EFF disetujui .
Di sisi lain, pelacak independen dan pengumuman resmi pada 2026 menunjukkan adanya penambahan kepemilikan . Perbedaan ini bisa berasal dari definisi IMF yang secara khusus menghitung pembelian baru oleh sektor publik, sementara transaksi melalui badan usaha milik negara atau Kantor Bitcoin mungkin dicatat dengan cara berbeda. Kemungkinan lainnya, pola pembelian pemerintah berubah setelah tinjauan awal program pinjaman IMF selesai.
Eksperimen Bitcoin negara itu berlangsung dalam beberapa tahap penting:
Pemerintah juga dilaporkan mulai melakukan diversifikasi dengan membeli emas senilai sekitar US$50 juta pada awal 2026 sebagai bagian dari strategi “dua aset” yang menggabungkan Bitcoin dan aset lindung nilai tradisional .
Jumlah Bitcoin dan nilai dolarnya tidak bersifat tetap. Saldo dapat berubah karena pembelian baru, sedangkan nilai portofolio berubah mengikuti harga Bitcoin secara langsung. Karena itu, angka 7.474 BTC dari satu pelacak dan 7.696 BTC dari pelacak lain tidak selalu berarti salah satu pihak keliru; keduanya bisa menggunakan waktu pembaruan dan metode pencatatan yang berbeda .
Total biaya akuisisi El Salvador diperkirakan sekitar US$622 juta, tetapi keuntungan atau kerugian yang belum direalisasikan dapat berubah besar seiring pergerakan pasar . Dengan demikian, inti strategi Bukele bukanlah menghindari volatilitas, melainkan mempertahankan keyakinan bahwa pembelian rutin dalam jangka panjang akan menguntungkan—meski pendekatan tersebut terus menempatkan kebijakan fiskal negara dalam ketegangan dengan persyaratan IMF.