2. Pemungutan suara pleno CLARITY Act tertunda. Rancangan undang-undang ini lolos dari Komite Perbankan Senat pada 14 Mei dan sempat mendorong XRP menembus $1,55. Namun, pemungutan suara di tingkat pleno terhenti pada Juni, sehingga optimisme regulasi yang sebelumnya menopang harga ikut berbalik .
3. Pelepasan escrow Ripple pada 1 Juni. Pelepasan XRP dari rekening escrow yang telah dijadwalkan menambah pasokan beredar dan memberikan tekanan jual tambahan di pasar .
4. Tekanan jual dari whale. Kepemilikan whale turun dari sekitar 3,82 miliar XRP menjadi 3,77 miliar XRP antara 13 dan 17 Juni. Perubahan ini mengindikasikan adanya distribusi oleh pemegang besar, meski pergerakan whale tidak selalu berarti sinyal jual yang pasti .
5. Arus dana ETF kehilangan daya dorong. ETF spot XRP telah mencatat arus dana kumulatif sekitar $1,5 miliar hingga pertengahan Juni. Namun, harga tidak lagi merespons data pasokan yang semestinya positif tersebut, yang mengisyaratkan bahwa tambahan permintaan mulai memberikan dampak marginal yang lebih kecil .
6. Leverage mencapai level tertinggi pada 2026. Leverage yang meningkat ketika aktivitas on-chain cenderung datar menciptakan kondisi rapuh. Dalam situasi seperti ini, pergerakan turun dapat diperkuat oleh likuidasi posisi berleverage .
Data on-chain pada akhir Juni 2026 tidak memberikan satu kesimpulan sederhana. Pergerakan harga terlihat bearish, tetapi sejumlah metrik yang mendasarinya justru menunjukkan tanda-tanda akumulasi dan pemulihan aktivitas.
Dengan demikian, terdapat divergensi yang jelas: harga menunjukkan tekanan, sementara sebagian metrik jaringan mulai membaik. Divergensi semacam ini dapat menjadi awal pemulihan, tetapi juga bisa bertahan cukup lama jika Bitcoin dan pasar aset berisiko belum stabil.
CLARITY Act. Ini merupakan katalis legislasi paling penting bagi XRP. Jika disahkan, rancangan tersebut akan mengabadikan klasifikasi XRP sebagai komoditas digital dalam undang-undang federal Amerika Serikat. RUU ini telah lolos dari Komite Perbankan Senat pada 14 Mei, tetapi pemungutan suara pleno yang tertunda menjadi salah satu sumber kekecewaan pasar pada Juni . Jadwal pemungutan suara dan kemungkinan pengesahan menjadi katalis kenaikan jangka pendek yang paling besar untuk diperhatikan .
Panduan bersama SEC dan CFTC pada 17 Maret 2026. Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) serta Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (CFTC) menerbitkan interpretasi bersama yang disebut sebagai langkah pertama kedua lembaga dalam mengklasifikasikan XRP sebagai komoditas digital, bukan sekuritas . Perubahan ini berpotensi mengurangi ketidakpastian regulasi yang selama bertahun-tahun membebani XRP dan membuka ruang lebih besar bagi partisipasi institusional.
MOU SEC-CFTC pada 11 Maret 2026. Memorandum of Understanding tersebut membentuk kerangka koordinasi pengawasan aset kripto antara kedua lembaga AS. Koordinasi ini ditujukan untuk mengurangi perselisihan kewenangan dan menciptakan pendekatan regulasi yang lebih terpadu .
GENIUS Act. Undang-undang ini disebut sebagai kerangka federal komprehensif pertama AS untuk stablecoin pembayaran. Dampaknya terhadap XRP bersifat tidak langsung, tetapi kerangka stablecoin yang lebih jelas dapat mendukung RLUSD milik Ripple dan adopsi ekosistem yang lebih luas .
Momentum ETF spot XRP. ETF spot XRP telah mengumpulkan sekitar $1,43–$1,5 miliar arus dana sejak diluncurkan pada November 2025. Mei mencatat rekor arus dana bulanan sekitar $1,31 miliar, bahkan ketika aset kripto berkapitalisasi lebih besar mengalami arus keluar . Jika produk-produk ini terus berkembang dan menarik dana, ETF dapat menjadi sumber permintaan struktural bagi XRP .
Penurunan XRP ke $1,01 merupakan aksi jual yang dipicu oleh tekanan makro dan diperparah oleh tertundanya CLARITY Act, distribusi whale, pelepasan escrow, melemahnya respons terhadap arus dana ETF, serta leverage yang tinggi.
Di sisi lain, data on-chain menunjukkan gambaran yang tidak sepenuhnya bearish. RSI bulanan 27,5, akumulasi whale dalam jumlah besar, penarikan XRP dari bursa, lonjakan aktivitas jaringan, dan Spot Taker CVD yang kembali dominan beli menjadi sinyal kontrarian yang patut diperhatikan.
Untuk menentukan apakah sinyal tersebut benar-benar berkembang menjadi reli, pasar perlu memantau dua hal utama: perkembangan pemungutan suara CLARITY Act dan keberlanjutan arus dana ETF spot XRP. Keduanya dapat menjadi pemicu perubahan arah, tetapi tidak menghapus risiko volatilitas tinggi pada aset kripto.
2. Pemungutan suara pleno CLARITY Act tertunda. Rancangan undang-undang ini lolos dari Komite Perbankan Senat pada 14 Mei dan sempat mendorong XRP menembus $1,55. Namun, pemungutan suara di tingkat pleno terhenti pada Juni, sehingga optimisme regulasi yang sebelumnya menopang harga ikut berbalik .
3. Pelepasan escrow Ripple pada 1 Juni. Pelepasan XRP dari rekening escrow yang telah dijadwalkan menambah pasokan beredar dan memberikan tekanan jual tambahan di pasar .
4. Tekanan jual dari whale. Kepemilikan whale turun dari sekitar 3,82 miliar XRP menjadi 3,77 miliar XRP antara 13 dan 17 Juni. Perubahan ini mengindikasikan adanya distribusi oleh pemegang besar, meski pergerakan whale tidak selalu berarti sinyal jual yang pasti .
5. Arus dana ETF kehilangan daya dorong. ETF spot XRP telah mencatat arus dana kumulatif sekitar $1,5 miliar hingga pertengahan Juni. Namun, harga tidak lagi merespons data pasokan yang semestinya positif tersebut, yang mengisyaratkan bahwa tambahan permintaan mulai memberikan dampak marginal yang lebih kecil .
6. Leverage mencapai level tertinggi pada 2026. Leverage yang meningkat ketika aktivitas on-chain cenderung datar menciptakan kondisi rapuh. Dalam situasi seperti ini, pergerakan turun dapat diperkuat oleh likuidasi posisi berleverage .
Data on-chain pada akhir Juni 2026 tidak memberikan satu kesimpulan sederhana. Pergerakan harga terlihat bearish, tetapi sejumlah metrik yang mendasarinya justru menunjukkan tanda-tanda akumulasi dan pemulihan aktivitas.
Dengan demikian, terdapat divergensi yang jelas: harga menunjukkan tekanan, sementara sebagian metrik jaringan mulai membaik. Divergensi semacam ini dapat menjadi awal pemulihan, tetapi juga bisa bertahan cukup lama jika Bitcoin dan pasar aset berisiko belum stabil.
CLARITY Act. Ini merupakan katalis legislasi paling penting bagi XRP. Jika disahkan, rancangan tersebut akan mengabadikan klasifikasi XRP sebagai komoditas digital dalam undang-undang federal Amerika Serikat. RUU ini telah lolos dari Komite Perbankan Senat pada 14 Mei, tetapi pemungutan suara pleno yang tertunda menjadi salah satu sumber kekecewaan pasar pada Juni . Jadwal pemungutan suara dan kemungkinan pengesahan menjadi katalis kenaikan jangka pendek yang paling besar untuk diperhatikan .
Panduan bersama SEC dan CFTC pada 17 Maret 2026. Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) serta Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (CFTC) menerbitkan interpretasi bersama yang disebut sebagai langkah pertama kedua lembaga dalam mengklasifikasikan XRP sebagai komoditas digital, bukan sekuritas . Perubahan ini berpotensi mengurangi ketidakpastian regulasi yang selama bertahun-tahun membebani XRP dan membuka ruang lebih besar bagi partisipasi institusional.
MOU SEC-CFTC pada 11 Maret 2026. Memorandum of Understanding tersebut membentuk kerangka koordinasi pengawasan aset kripto antara kedua lembaga AS. Koordinasi ini ditujukan untuk mengurangi perselisihan kewenangan dan menciptakan pendekatan regulasi yang lebih terpadu .
GENIUS Act. Undang-undang ini disebut sebagai kerangka federal komprehensif pertama AS untuk stablecoin pembayaran. Dampaknya terhadap XRP bersifat tidak langsung, tetapi kerangka stablecoin yang lebih jelas dapat mendukung RLUSD milik Ripple dan adopsi ekosistem yang lebih luas .
Momentum ETF spot XRP. ETF spot XRP telah mengumpulkan sekitar $1,43–$1,5 miliar arus dana sejak diluncurkan pada November 2025. Mei mencatat rekor arus dana bulanan sekitar $1,31 miliar, bahkan ketika aset kripto berkapitalisasi lebih besar mengalami arus keluar . Jika produk-produk ini terus berkembang dan menarik dana, ETF dapat menjadi sumber permintaan struktural bagi XRP .
Penurunan XRP ke $1,01 merupakan aksi jual yang dipicu oleh tekanan makro dan diperparah oleh tertundanya CLARITY Act, distribusi whale, pelepasan escrow, melemahnya respons terhadap arus dana ETF, serta leverage yang tinggi.
Di sisi lain, data on-chain menunjukkan gambaran yang tidak sepenuhnya bearish. RSI bulanan 27,5, akumulasi whale dalam jumlah besar, penarikan XRP dari bursa, lonjakan aktivitas jaringan, dan Spot Taker CVD yang kembali dominan beli menjadi sinyal kontrarian yang patut diperhatikan.
Untuk menentukan apakah sinyal tersebut benar-benar berkembang menjadi reli, pasar perlu memantau dua hal utama: perkembangan pemungutan suara CLARITY Act dan keberlanjutan arus dana ETF spot XRP. Keduanya dapat menjadi pemicu perubahan arah, tetapi tidak menghapus risiko volatilitas tinggi pada aset kripto.