Gartner memproyeksikan biaya alat AI coding per developer akan melampaui rata rata gaji software developer pada 2028, didorong oleh konsumsi token yang melonjak dan peralihan ke tarif berbasis pemakaian.[1][2][4] Uber menghabiskan seluruh anggaran AI coding 2026 hanya dalam empat bulan dan kemudian menetapkan batas...
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: Search & fact-check with cited sources for According to a June 2026 Gartner report, why are AI coding costs projected to surpass the average. Article summary: Here is the fully sourced fact-check on the Gartner forecast and the surrounding evidence.. Topic tags: general, general web, user generated, news. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers, clickbait thumbnails, icons, and tiny thumbnail layouts. Make it useful as an illustrative visual, not as factua
Asisten AI untuk coding semula dipasarkan sebagai mesin produktivitas. Namun, bagi banyak perusahaan, peningkatan pemakaian justru lebih dulu menghadirkan persoalan baru: tagihan yang sulit diprediksi.
Gartner memproyeksikan bahwa pada 2028, biaya alat AI coding per developer akan melampaui rata-rata gaji software developer. Prediksi ini dimuat dalam catatan riset Gartner pada 24 Juni 2026, How to Optimize Token Consumption for AI Coding.
Perlu dicatat, angka tersebut merupakan proyeksi berdasarkan asumsi yang dinyatakan Gartner, bukan kepastian. Meski demikian, sejumlah kasus di perusahaan besar menunjukkan bahwa tekanan biaya tersebut sudah mulai terlihat.
Ada dua tren yang bergerak bersamaan.
Tyagi juga memperingatkan bahwa biaya AI coding berpotensi terus meningkat karena investasi infrastruktur dan persoalan profitabilitas dapat mendorong kenaikan harga model.
Kasus Uber menjadi salah satu contoh paling jelas. Perusahaan tersebut menghabiskan seluruh anggaran AI coding untuk 2026 hanya dalam empat bulan, yakni hingga April 2026.
Sebagai respons, Uber menetapkan batas US$1.500 per bulan untuk setiap alat, per karyawan, pada platform coding berbasis agen seperti Claude Code milik Anthropic dan Cursor.
Sebelum pembatasan diberlakukan, biaya per engineer berkisar antara US$500 hingga US$2.000 per bulan. Pada Maret 2026, sekitar 84% engineer Uber telah menggunakan Claude Code, naik dari 32% pada akhir 2025.
COO Uber juga dikutip mengatakan, “Hubungan antara belanja AI dan nilai bagi pelanggan belum terlihat.” Pernyataan itu merangkum persoalan utama perusahaan: penggunaan AI memang meningkat, tetapi manfaat bisnisnya belum selalu dapat diukur dengan jelas.
Uber bukan satu-satunya perusahaan yang mulai mengerem penggunaan AI coding.
Kasus Accenture menunjukkan bahwa sumber pembengkakan token tidak selalu berasal dari tim engineering. Menurut rekaman audio yang bocor dan pemberitaan terkait, karyawan non-engineer justru menjadi pengguna token terbesar ketika memakai AI untuk mengubah PDF menjadi slide presentasi.
Accenture disebut berencana meluncurkan Token IQ, sebuah produk yang dirancang untuk membantu pimpinan melihat apakah pengeluaran AI menghasilkan imbal balik yang memadai.
Masalah biaya AI bukan hanya soal harga token. Banyak perusahaan juga belum memiliki alat untuk memantau konsumsi secara menyeluruh.
Survei KPMG Q2 2026 Global AI Pulse, yang mencakup lebih dari 2.100 pemimpin senior di 20 negara, menemukan bahwa hanya 26% organisasi yang memiliki visibilitas real-time terhadap biaya penggunaan AI.
Rinciannya:
Steve Chase, kepala AI global KPMG, menyebut situasi ini sebagai risiko kurangnya transparansi finansial. Sejumlah klien, katanya, telah menghabiskan anggaran token dan cloud tahunan hanya dalam hitungan bulan. Dalam satu kasus, penggunaan token meningkat enam kali lipat.
Sistem penagihan berbasis token membuat pengeluaran AI lebih sulit dikendalikan melalui mekanisme keuangan TI tradisional. Perusahaan dapat memiliki dashboard penggunaan atau proses persetujuan, tetapi tetap kesulitan menghubungkan setiap token dengan hasil bisnis yang dihasilkan.
Gartner mendorong perusahaan membangun model operasional yang disiplin, bukan menghentikan penggunaan AI. Beberapa langkah yang disarankan meliputi:
Gartner juga membedakan jenis pekerjaan yang benar-benar memperoleh manfaat besar dari AI. Produktivitas meningkat secara berarti pada tugas yang ruang lingkupnya jelas, seperti penulisan pengujian, refactoring, scaffolding, dokumentasi, dan perbaikan bug sederhana. Sebaliknya, peningkatan pada keputusan arsitektur, debugging yang benar-benar baru, dan penalaran lintas sistem cenderung lebih terbatas.
Karena itu, perusahaan perlu menghitung berapa porsi pekerjaan tim yang masuk kategori berdampak tinggi, lalu memusatkan penggunaan AI pada bagian tersebut.
Era penggunaan AI coding tanpa batas tampaknya mulai berakhir. Alat-alat ini memang dapat meningkatkan produktivitas pada pekerjaan yang terdefinisi dengan baik, tetapi biaya dapat tumbuh lebih cepat daripada manfaat yang dihasilkan jika tidak diawasi.
Pelajaran dari Uber dan temuan KPMG menunjukkan bahwa perusahaan tidak cukup hanya menyediakan akses ke AI. Mereka juga harus mengetahui siapa yang menggunakan AI, untuk tugas apa, berapa token yang terpakai, dan apakah hasilnya sepadan dengan biaya.
Rekomendasi Gartner bukan berarti perusahaan harus mundur dari AI. Pesannya adalah memperlakukan AI sebagai pusat biaya sungguhan—dengan visibilitas, pemilihan model, pengendalian penggunaan, dan batas pengeluaran yang jelas.
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Gartner memproyeksikan biaya alat AI coding per developer akan melampaui rata rata gaji software developer pada 2028, didorong oleh konsumsi token yang melonjak dan peralihan ke tarif berbasis pemakaian.[1][2][4]
Gartner memproyeksikan biaya alat AI coding per developer akan melampaui rata rata gaji software developer pada 2028, didorong oleh konsumsi token yang melonjak dan peralihan ke tarif berbasis pemakaian.[1][2][4] Uber menghabiskan seluruh anggaran AI coding 2026 hanya dalam empat bulan dan kemudian menetapkan batas US$1.500 per bulan untuk setiap alat coding berbasis agen.[1][5][41]
KPMG menemukan hanya 26% organisasi yang memiliki visibilitas biaya AI secara real time, sehingga perusahaan membutuhkan pemantauan, anggaran per pengguna, serta tata kelola khusus.[25][26][27]