Huawei memamerkan strategi terpadu Service-Network-Compute, yang menggabungkan kecerdasan di lapisan layanan, jaringan yang dioptimalkan untuk AI, serta penyimpanan dan komputasi berperforma tinggi . Tujuannya adalah membantu operator memperoleh nilai dari dua jenis kebutuhan sekaligus: lalu lintas data konvensional dan beban kerja AI.
Sejumlah pengumuman penting Huawei meliputi:
Eksekutif Huawei Yang Chaobin mengusulkan formula “5G-A × AI” sebagai jalur peningkatan strategis bagi operator. Dengan pendekatan ini, operator diharapkan tidak hanya memperoleh pendapatan dari lalu lintas dan kualitas pengalaman jaringan, tetapi juga dari layanan AI itu sendiri .
ZTE memamerkan AIR Core, inti jaringan yang dirancang secara native dengan AI dan kini mendukung kemampuan AI agentik. Pendekatan ini menanamkan kecerdasan langsung ke dalam inti jaringan, sehingga sistem dapat membantu menjalankan operasi secara lebih otonom sekaligus mengantarkan beban kerja AI .
Bagi operator, inti jaringan berbasis AI berpotensi menjadi fondasi untuk otomatisasi operasional dan pengelolaan layanan AI. Dengan demikian, AI tidak hanya berjalan di atas jaringan, tetapi juga menjadi bagian dari cara jaringan tersebut mengatur dan mengoptimalkan dirinya.
Salah satu tren penting lain di MWC Shanghai adalah penguatan Open Telco AI, inisiatif GSMA yang pertama kali diluncurkan di MWC Barcelona pada 2 Maret 2026 dengan AT&T dan AMD sebagai pendukung pendiri. Program ini menyediakan fondasi terbuka untuk apa yang disebut GSMA sebagai “Telco-Grade AI”, termasuk dataset bersama, model AI khusus telekomunikasi, serta portal komunitas untuk kolaborasi industri .
Di Shanghai, GSMA menggelar AI Leaders Roundtable dan menyebut Open Telco AI telah berkembang menjadi 46 organisasi anggota di 35 negara . Perusahaan evaluasi data AI asal Korea Selatan, Selectstar, juga bergabung sebagai mitra resmi untuk evaluasi data .
Kebutuhan akan model khusus telekomunikasi terlihat dari kesenjangan antara biaya operasi dan penerapan AI. Operasi jaringan menyumbang 34% dari OpEx operator, tetapi baru 16% penerapan GenAI yang diarahkan ke area tersebut . Angka ini menunjukkan bahwa model AI umum belum otomatis mampu menangani kebutuhan seperti diagnosis jaringan, interpretasi standar, dan pengelolaan performa secara optimal.
Pembahasan di MWC Shanghai juga berlangsung di tengah perubahan cepat dalam ekonomi AI. DeepSeek merilis model V4 pada April 2026, model Mixture-of-Experts dengan 1,6 triliun parameter yang dilatih sepenuhnya menggunakan chip Huawei Ascend dan Cambricon buatan domestik, tanpa ketergantungan pada Nvidia CUDA . Model tersebut disebut kompetitif dari sisi biaya dengan model tertutup unggulan dari OpenAI dan Google DeepMind .
Secara lebih luas, model AI China pada kuartal II 2026 umumnya menawarkan harga per token tiga hingga sepuluh kali lebih rendah dibandingkan model AI frontier dari Amerika Serikat . Sebagai contoh, Step 3.5 Flash ditawarkan dengan harga 0,10 dolar AS per satu juta token input dan 0,30 dolar AS per satu juta token output—sekitar 25 kali lebih murah daripada GPT-4o dengan kemampuan penalaran matematika yang sebanding . Laboratorium AI China juga menempati empat dari lima posisi teratas dalam sejumlah papan peringkat AI open-weight .
Tekanan harga ini mendorong operator global untuk meninjau ulang kemitraan infrastruktur AI, pilihan model, serta perhitungan biaya setiap permintaan AI. Bagi operator, model yang lebih murah dapat memperluas penggunaan AI, tetapi sekaligus menekan harga layanan yang mungkin mereka tawarkan kepada pelanggan.
Nokia mengumumkan sejumlah langkah di MWC Shanghai dan acara DTW26 yang berlangsung bersamaan. Fokusnya adalah menjadikan agen AI sebagai bagian dari operasi jaringan dan layanan broadband.
Berbagai pengumuman di MWC Shanghai 2026 menunjukkan sejumlah arah yang mulai disepakati industri.
Pertama, monetisasi harus melampaui konektivitas. Konsep ekonomi token Huawei, inti jaringan agentik ZTE, dan portofolio jaringan otonom Nokia sama-sama menunjukkan bahwa operator perlu memperoleh nilai dari pemrosesan AI, bukan sekadar mengirimkan data.
Kedua, kolaborasi terbuka menjadi semakin penting. Inisiatif Open Telco AI dari GSMA mencerminkan pengakuan bahwa kebutuhan jaringan telekomunikasi terlalu spesifik dan kompleks untuk diselesaikan oleh satu operator atau vendor saja. Dataset, model, dan tolok ukur bersama dapat membantu mempercepat pengembangan AI yang benar-benar siap digunakan di jaringan.
Ketiga, biaya model China mengubah perhitungan investasi. Model yang lebih murah dan tetap kompetitif membuka peluang bagi operator untuk memperluas layanan AI. Namun, hal itu juga menciptakan tekanan baru terhadap margin, pilihan pemasok, dan strategi infrastruktur.
Keempat, AI agentik menjadi tahap berikutnya. Huawei dan Nokia sama-sama menempatkan agen AI sebagai sarana untuk mengelola jaringan, menangani pengalaman pelanggan, dan menghadirkan layanan baru dengan lebih sedikit intervensi manusia.
Pesan MWC Shanghai 2026 cukup jelas: operator telekomunikasi perlu bergerak dari sekadar menjual akses jaringan menuju penyediaan infrastruktur dan layanan yang memahami AI. Dalam model bisnis baru ini, token, agen, jaringan cerdas, dan komputasi akan menjadi bagian dari sumber pendapatan—bukan hanya biaya tambahan.
Huawei memamerkan strategi terpadu Service-Network-Compute, yang menggabungkan kecerdasan di lapisan layanan, jaringan yang dioptimalkan untuk AI, serta penyimpanan dan komputasi berperforma tinggi . Tujuannya adalah membantu operator memperoleh nilai dari dua jenis kebutuhan sekaligus: lalu lintas data konvensional dan beban kerja AI.
Sejumlah pengumuman penting Huawei meliputi:
Eksekutif Huawei Yang Chaobin mengusulkan formula “5G-A × AI” sebagai jalur peningkatan strategis bagi operator. Dengan pendekatan ini, operator diharapkan tidak hanya memperoleh pendapatan dari lalu lintas dan kualitas pengalaman jaringan, tetapi juga dari layanan AI itu sendiri .
ZTE memamerkan AIR Core, inti jaringan yang dirancang secara native dengan AI dan kini mendukung kemampuan AI agentik. Pendekatan ini menanamkan kecerdasan langsung ke dalam inti jaringan, sehingga sistem dapat membantu menjalankan operasi secara lebih otonom sekaligus mengantarkan beban kerja AI .
Bagi operator, inti jaringan berbasis AI berpotensi menjadi fondasi untuk otomatisasi operasional dan pengelolaan layanan AI. Dengan demikian, AI tidak hanya berjalan di atas jaringan, tetapi juga menjadi bagian dari cara jaringan tersebut mengatur dan mengoptimalkan dirinya.
Salah satu tren penting lain di MWC Shanghai adalah penguatan Open Telco AI, inisiatif GSMA yang pertama kali diluncurkan di MWC Barcelona pada 2 Maret 2026 dengan AT&T dan AMD sebagai pendukung pendiri. Program ini menyediakan fondasi terbuka untuk apa yang disebut GSMA sebagai “Telco-Grade AI”, termasuk dataset bersama, model AI khusus telekomunikasi, serta portal komunitas untuk kolaborasi industri .
Di Shanghai, GSMA menggelar AI Leaders Roundtable dan menyebut Open Telco AI telah berkembang menjadi 46 organisasi anggota di 35 negara . Perusahaan evaluasi data AI asal Korea Selatan, Selectstar, juga bergabung sebagai mitra resmi untuk evaluasi data .
Kebutuhan akan model khusus telekomunikasi terlihat dari kesenjangan antara biaya operasi dan penerapan AI. Operasi jaringan menyumbang 34% dari OpEx operator, tetapi baru 16% penerapan GenAI yang diarahkan ke area tersebut . Angka ini menunjukkan bahwa model AI umum belum otomatis mampu menangani kebutuhan seperti diagnosis jaringan, interpretasi standar, dan pengelolaan performa secara optimal.
Pembahasan di MWC Shanghai juga berlangsung di tengah perubahan cepat dalam ekonomi AI. DeepSeek merilis model V4 pada April 2026, model Mixture-of-Experts dengan 1,6 triliun parameter yang dilatih sepenuhnya menggunakan chip Huawei Ascend dan Cambricon buatan domestik, tanpa ketergantungan pada Nvidia CUDA . Model tersebut disebut kompetitif dari sisi biaya dengan model tertutup unggulan dari OpenAI dan Google DeepMind .
Secara lebih luas, model AI China pada kuartal II 2026 umumnya menawarkan harga per token tiga hingga sepuluh kali lebih rendah dibandingkan model AI frontier dari Amerika Serikat . Sebagai contoh, Step 3.5 Flash ditawarkan dengan harga 0,10 dolar AS per satu juta token input dan 0,30 dolar AS per satu juta token output—sekitar 25 kali lebih murah daripada GPT-4o dengan kemampuan penalaran matematika yang sebanding . Laboratorium AI China juga menempati empat dari lima posisi teratas dalam sejumlah papan peringkat AI open-weight .
Tekanan harga ini mendorong operator global untuk meninjau ulang kemitraan infrastruktur AI, pilihan model, serta perhitungan biaya setiap permintaan AI. Bagi operator, model yang lebih murah dapat memperluas penggunaan AI, tetapi sekaligus menekan harga layanan yang mungkin mereka tawarkan kepada pelanggan.
Nokia mengumumkan sejumlah langkah di MWC Shanghai dan acara DTW26 yang berlangsung bersamaan. Fokusnya adalah menjadikan agen AI sebagai bagian dari operasi jaringan dan layanan broadband.
Berbagai pengumuman di MWC Shanghai 2026 menunjukkan sejumlah arah yang mulai disepakati industri.
Pertama, monetisasi harus melampaui konektivitas. Konsep ekonomi token Huawei, inti jaringan agentik ZTE, dan portofolio jaringan otonom Nokia sama-sama menunjukkan bahwa operator perlu memperoleh nilai dari pemrosesan AI, bukan sekadar mengirimkan data.
Kedua, kolaborasi terbuka menjadi semakin penting. Inisiatif Open Telco AI dari GSMA mencerminkan pengakuan bahwa kebutuhan jaringan telekomunikasi terlalu spesifik dan kompleks untuk diselesaikan oleh satu operator atau vendor saja. Dataset, model, dan tolok ukur bersama dapat membantu mempercepat pengembangan AI yang benar-benar siap digunakan di jaringan.
Ketiga, biaya model China mengubah perhitungan investasi. Model yang lebih murah dan tetap kompetitif membuka peluang bagi operator untuk memperluas layanan AI. Namun, hal itu juga menciptakan tekanan baru terhadap margin, pilihan pemasok, dan strategi infrastruktur.
Keempat, AI agentik menjadi tahap berikutnya. Huawei dan Nokia sama-sama menempatkan agen AI sebagai sarana untuk mengelola jaringan, menangani pengalaman pelanggan, dan menghadirkan layanan baru dengan lebih sedikit intervensi manusia.
Pesan MWC Shanghai 2026 cukup jelas: operator telekomunikasi perlu bergerak dari sekadar menjual akses jaringan menuju penyediaan infrastruktur dan layanan yang memahami AI. Dalam model bisnis baru ini, token, agen, jaringan cerdas, dan komputasi akan menjadi bagian dari sumber pendapatan—bukan hanya biaya tambahan.