Negara-negara Teluk secara mendesak memperluas pipa yang sudah ada dan mengembangkan rute ekspor darat baru untuk membypass Selat Hormuz setelah gangguan pengiriman akibat konflik selama berbulan-bulan. Gencatan senjata AS-Iran pada 18 Juni 2026 memang membuka kembali jalur air tersebut secara resmi, tetapi kepercayaan masih rapuh—pengirim barang waspada, pasar asuransi butuh waktu untuk menyesuaikan, dan investasi infrastruktur terus berakselerasi terlepas dari gencatan senjata .
Gencatan senjata 18 Juni telah membuka kembali Selat Hormuz secara resmi dan memungkinkan transit kapal tanker awal, tetapi kepercayaan pengiriman dan asuransi akan membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk pulih. Sementara itu, negara-negara Teluk terus melanjutkan ekspansi pipa senilai miliaran dolar—peningkatan Petroline Arab Saudi, pipa Fujairah UEA yang hampir 50% selesai, dan pembicaraan koridor awal Irak—memperlakukan gencatan senjata sebagai jeda sementara, bukan alasan untuk menghentikan diversifikasi rute ekspor jangka panjang .
Kapasitas: Pipa East-West, juga dikenal sebagai Petroline, membentang sekitar 1.200 kilometer melintasi Arab Saudi, menghubungkan ladang minyak Provinsi Timur ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Setelah peningkatan baru-baru ini, pipa ini memiliki kapasitas sekitar 7 juta barel per hari (bph) . Selama krisis, pipa ini menjadi rute ekspor alternatif utama Arab Saudi, beroperasi pada kapasitas penuh dengan ekspor Yanbu mencapai sekitar 5 juta bph
.
Status: Sudah beroperasi, Petroline adalah aset penting yang dibangun pada 1980-an untuk mengatasi gangguan sebelumnya. Namun, pipa ini hanya dapat menutupi sekitar dua pertiga dari volume transit Hormuz biasa kerajaan .
Ekspansi: Saudi Aramco secara aktif mempelajari peningkatan kapasitas besar-besaran untuk mendorong pipa melampaui batas saat ini, dengan mengkaji peningkatan kapasitas dan perluasan terminal untuk secara efektif mengatasi kemacetan ekspor .
Kapasitas: Pipa Minyak Mentah Abu Dhabi (ADCOP), juga disebut sebagai Pipa Habshan-Fujairah, membentang sepanjang 380 kilometer dari ladang minyak Habshan ke pelabuhan timur Fujairah di Teluk Oman, sepenuhnya membypass Selat Hormuz. Kapasitas saat ini sekitar 1,5 juta bph . UEA juga telah membangun penyimpanan bawah tanah sebesar 42 juta barel di Fujairah
.
Ekspansi Baru: Pada Mei 2026, Putra Mahkota Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed mengumumkan percepatan ekspansi inisiatif Pipa West-East untuk menjawab "tuntutan global", dengan target menggandakan kapasitas ekspor Fujairah pada 2027 . CEO ADNOC Sultan Al Jaber mengonfirmasi dalam sebuah wawancara dengan Atlantic Council bahwa proyek tersebut sudah hampir 50% selesai, dengan menyatakan "Saat ini, sebagian besar pasokan energi global melintasi sejumlah kecil titik kemacetan"
.
Pipa Produk Olahan: UEA juga sedang menyelesaikan pipa produk olahan pertamanya yang didedikasikan ke Fujairah, diumumkan pada awal Juni 2026. Pipa darat ini akan mengekspor bensin, solar, dan minyak tanah penerbangan, mengatasi kemacetan ekspor produk olahan yang disebabkan oleh terbatasnya navigasi di Selat .
Infrastruktur yang ada: Pipa Irak–Turki (via Kirkuk–Ceyhan) menawarkan kapasitas bypass yang terbatas tetapi sering terganggu oleh masalah politik dan keamanan .
Usulan baru: Pembicaraan terus maju mengenai pipa dari Irak melalui Arab Saudi dan Yordania ke pelabuhan Aqaba di Laut Merah, serta jaringan pipa yang lebih luas dari Irak ke Oman melalui negara-negara Teluk . Sebuah jaringan pipa dari Irak ke Oman melalui negara-negara Teluk untuk membypass Selat Hormuz dan Bab el Mandeb diperkirakan menghabiskan biaya hingga $55 juta
.
Hambatan utama: Opsi bypass Irak adalah yang paling tidak berkembang di antara tiga produsen Teluk utama. Pipa baru apa pun menghadapi hambatan politik, keamanan, dan pendanaan yang signifikan, dan para ahli memperingatkan bahwa rencana Irak masih jauh dari realisasi .
Apa yang terjadi pada 18 Juni:
Kepercayaan dibangun kembali secara perlahan:
Investasi infrastruktur jangka panjang terus berlanjut:
Intinya: Gencatan senjata 18 Juni telah membuka kembali Selat Hormuz secara resmi dan memungkinkan transit kapal tanker awal, tetapi kepercayaan pengiriman dan asuransi akan membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk pulih. Sementara itu, negara-negara Teluk terus melanjutkan ekspansi pipa senilai miliaran dolar—peningkatan Petroline Arab Saudi, pipa Fujairah UEA yang hampir 50% selesai, dan pembicaraan koridor awal Irak—memperlakukan gencatan senjata sebagai jeda sementara, bukan alasan untuk menghentikan diversifikasi rute ekspor jangka panjang.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Negara negara Teluk mempercepat pembangunan pipa jalur darat untuk membypass Selat Hormuz pasca gangguan pengiriman selama berbulan bulan akibat konflik.
Negara negara Teluk mempercepat pembangunan pipa jalur darat untuk membypass Selat Hormuz pasca gangguan pengiriman selama berbulan bulan akibat konflik. Pipa East West (Petroline) milik Arab Saudi dan Pipa ADCOP milik UEA adalah dua jalur alternatif utama yang sudah beroperasi.
Gencatan senjata 18 Juni 2026 memungkinkan kapal tanker Saudi pertama dalam berbulan bulan melintasi selat, membawa sekitar 10 juta barel minyak.
Loading comments...
Comments
0 comments