Bagi tim brand, pertanyaan pentingnya bukan sekadar apakah model gambar AI terbaru bisa membuat visual yang menarik. Yang lebih krusial: apakah ia bisa mempertahankan logo, wordmark, warna merek, tipografi, dan tata letak secara konsisten ketika gambar diedit berulang kali.
Untuk pertanyaan yang spesifik itu, bukti yang tersedia belum cukup untuk menyatakan bahwa GPT Image 2 lebih konsisten menjaga logo atau identitas visual merek dibanding GPT Image 1.5.
Kesimpulan singkat: klaimnya belum terbukti
Sumber paling kuat dalam kumpulan rujukan ini adalah materi resmi OpenAI tentang image generation, vision, prompting, ChatGPT Images, dan GPT Image 1.5. Materi tersebut memang membahas kemampuan gambar dan alur prompting, tetapi tidak memuat benchmark terkontrol yang membandingkan GPT Image 2 dan GPT Image 1.5 untuk tugas menjaga logo, warna brand, tipografi, atau konsistensi sistem identitas visual [12][
13][
19][
24].
Ini perbedaan penting. “Lebih bagus membuat gambar” tidak otomatis berarti “lebih setia menjaga merek”. Sebuah model bisa saja makin baik mengikuti prompt, merender teks, atau menghasilkan gambar yang lebih rapi, tetapi tetap mengubah bentuk logo, salah menulis wordmark, menggeser warna, atau merombak layout bermerek.
Apa yang ditunjukkan sumber resmi OpenAI?
Materi resmi OpenAI yang dikutip di sini mencakup panduan image generation dan prompting, termasuk panduan terkait GPT Image 1.5 [12][
13][
19][
24]. Laman OpenAI tentang ChatGPT Images juga mengarah ke topik seperti edit presisi, peningkatan dan keterbatasan, serta GPT Image 1.5 di API [
19].
Namun, yang tidak tersedia adalah bukti yang dibutuhkan untuk klaim spesifik tadi: perbandingan yang dapat direplikasi antara GPT Image 2 dan GPT Image 1.5, dengan aset logo yang sama, prompt yang sama, instruksi edit yang sama, dan kriteria penilaian yang sama [12][
13][
19][
24].
Panduan prompting GPT Image 1.5 juga perlu dibaca hati-hati. Salah satu contoh yang terlihat memuat batasan seperti “No trademarks”, “No watermarks”, dan “No logos”. Itu bukan bukti bahwa model tersebut mampu mempertahankan logo komersial yang sudah ada secara andal saat proses edit [24].
Mengapa bukti untuk GPT Image 2 belum cukup kuat
Rujukan tentang GPT Image 2 dalam kumpulan ini sebagian besar berasal dari pihak ketiga, bukan benchmark resmi yang stabil. Satu tulisan “facts vs rumors” menyatakan bahwa GPT Image 2 tampaknya masih dalam pengujian dan belum resmi tersedia sebagai model OpenAI bernama publik [1]. Sementara itu, sumber pihak ketiga lain membahas GPT Image 2 sebagai model yang sudah diluncurkan atau direview, menyajikan contoh prompt, atau membingkai perbandingan berdasarkan informasi bocoran dari LM Arena [
5][
8][
9][
31].
Sumber-sumber seperti itu bisa menjadi bahan awal untuk investigasi. Tetapi untuk keputusan produksi—misalnya memakai model dalam workflow desain kemasan, iklan digital, atau aset kampanye—bukti tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa GPT Image 2 lebih aman bagi konsistensi logo dan identitas merek.
Lalu, klaim tentang GPT Image 1.5 berarti apa?
Ada klaim pihak ketiga yang menyebut GPT Image 1.5 dapat menjaga elemen asli saat edit, termasuk wajah, logo, dan pencahayaan [3][
4]. Klaim ini relevan jika Anda sedang mengevaluasi GPT Image 1.5 untuk pekerjaan edit visual bermerek.
Tetapi itu tetap tidak membuktikan GPT Image 2 lebih unggul. Untuk membuktikan keunggulan tersebut, kedua model harus diuji dalam kondisi yang sama, lalu hasilnya dinilai dengan kriteria logo dan brand identity yang sama.
Cara menguji sebelum dipakai untuk produksi brand
Jika akurasi logo penting, jangan hanya mengandalkan contoh viral atau satu-dua hasil yang terlihat bagus. Jalankan uji berdampingan yang bisa diulang. Gunakan file sumber yang sama, prompt yang sama, instruksi edit yang sama, dan jumlah generasi yang sama untuk tiap model.
Saat menilai hasilnya, periksa hal-hal berikut:
- bentuk ikon dan geometri logo
- ejaan wordmark serta akurasi bentuk huruf
- posisi, skala, jarak, dan alignment
- konsistensi warna merek
- tipografi dan hierarki visual
- preservasi layout kemasan, UI, poster, atau materi kampanye
- konsistensi pada edit berulang dan variasi turunan
- perubahan yang tidak diminta, seperti redesign, elemen hilang, teks berubah, atau mark tambahan
Uji yang baik sebaiknya tidak hanya memakai kasus mudah. Sertakan juga kasus yang rawan gagal: logo kecil, kemasan miring, layout UI padat, logo berkontras rendah, edit berulang, dan adegan yang mungkin “menggoda” model untuk memperindah desain alih-alih mempertahankannya.
Akurasi logo bukan berarti izin penggunaan
Ada satu hal lagi yang sering tercampur: kemampuan teknis dan izin penggunaan adalah dua isu berbeda. Sekalipun model AI dapat menyalin atau mengedit logo dengan akurat, bukan berarti pemakaiannya otomatis diperbolehkan. Pedoman merek OpenAI menyatakan bahwa logo OpenAI hanya boleh digunakan ketika berkaitan langsung dengan layanan OpenAI, dan tidak digunakan tanpa izin atau di luar ketentuan OpenAI [21]. Untuk aset merek apa pun, akurasi visual dan izin hak pakai tetap perlu dicek terpisah.
Intinya
Jangan menyatakan sebagai fakta bahwa GPT Image 2 lebih baik menjaga logo atau identitas visual bermerek dibanding GPT Image 1.5. Kesimpulan yang lebih aman dan sesuai bukti adalah: klaim itu masih belum terverifikasi, karena sumber resmi OpenAI yang dikutip di sini tidak menyediakan benchmark terkontrol GPT Image 2 vs GPT Image 1.5 untuk preservasi logo [12][
13][
19][
24].




