Saudi Arabia kembali memuat minyak mentah di Yanbu, pelabuhan di pesisir Laut Merah, setelah memperbaiki sebagian dan mengoperasikan lagi East-West Pipeline. Dimulainya kembali pemuatan mengakhiri penghentian selama 17 hari, tetapi belum berarti jalur tersebut pulih sepenuhnya.
9
12
Seberapa besar kapasitas yang masih terganggu?
Laporan pada 28 September menyebut aliran pipa berada di sekitar 3,5 juta barel per hari. Angka itu kira-kira setengah dari kapasitas nominal 7 juta barel per hari yang disebut dalam laporan lain. Namun, laporan tersebut juga menyebut hanya sejumlah terbatas kapal tanker yang terlihat memuat minyak di Yanbu, dan sebagian produksi dialokasikan untuk kilang domestik. Karena itu, angka kapasitas pipa tidak sama dengan jumlah minyak yang siap diekspor.
6
15
Bukti yang tersedia belum memastikan berapa kapasitas yang masih tidak dapat digunakan setelah pemuatan di Yanbu dimulai lagi. Jadi, kabar pemulihan sebaiknya dibaca sebagai kembalinya aliran dan ekspor secara terbatas, bukan pemulihan penuh.
Dampak pada pembeli Eropa
Saat jalur Yanbu terganggu, Saudi membatalkan sebagian kargo untuk pelanggan Eropa. Kilang Polandia, Orlen, mencari pasokan pengganti, sementara Aramco dilaporkan memberi tahu setidaknya dua kilang Eropa bahwa mereka tidak akan menerima minyak mentah pada Oktober. Dimulainya kembali pemuatan di Yanbu belum mengonfirmasi bahwa pasokan tersebut akan dipulihkan.
13
1
Harga minyak bergerak mengikuti kabar pasokan
Kekhawatiran bahwa gangguan ekspor akan berlangsung lama mendorong harga minyak naik sekitar US$3 pada 15 September. Harga kemudian melemah ketika operasi pipa mulai pulih dan lebih banyak kapal bergerak melalui Selat Hormuz. Serangan baru terhadap Saudi dan ketidakpastian mengenai lalu lintas di selat itu kembali memicu kekhawatiran pasokan dan mendorong harga naik.
10
3
4
Yanbu dan Selat Hormuz: dua jalur yang sama-sama penting
East-West Pipeline menghubungkan kawasan penghasil minyak di timur Saudi dengan Yanbu di Laut Merah. Jalur ini memungkinkan Saudi mengekspor minyak tanpa melewati Selat Hormuz, jalur pelayaran penting yang tetap rentan terhadap gangguan.
Ketika Yanbu tidak dapat digunakan, Saudi meningkatkan pemuatan di terminal-terminal Teluk. Pada satu hari, sekitar 14 juta barel dimuat ke tujuh kapal supertanker. Peralihan itu membuat lebih banyak ekspor bergantung pada rute melalui Hormuz. Kembalinya Yanbu membuka lagi jalur yang melewati selat tersebut, sementara peningkatan pengiriman Saudi memberi tanda bahwa arus minyak kawasan mulai membaik—meski belum sepenuhnya aman atau normal.
11
3
9
Apa yang belum bisa disimpulkan soal Brent dan tembaga?
Kabar yang tersedia menunjukkan premi risiko di pasar minyak berubah-ubah: pedagang menimbang kembalinya pasokan dengan kemungkinan serangan lanjutan dan terbatasnya lalu lintas Hormuz. Namun, bukti yang diberikan tidak menunjukkan perubahan spesifik dalam posisi perdagangan pada kontrak Brent ataupun tembaga.
Pembicaraan Amerika Serikat–Iran belum menghasilkan terobosan yang memastikan keamanan jalur pelayaran. Karena itu, perkembangan perbaikan pipa dan keamanan rute ekspor melalui Yanbu maupun Hormuz masih menjadi faktor utama yang perlu dipantau.
4
14