Keputusan Académie Goncourt mencoret C’était ça ou mourir dari daftar panjang Prix Goncourt 2026 bukan muncul dari satu tuduhan saja. Pada 25 September, akademi menyatakan ingin menjaga integritas penghargaan dan menilai novel debut Thélyson Orélien itu “kemungkinan besar” sebagian besar merupakan hasil kecerdasan buatan (AI). Itu adalah kesimpulan akademi berdasarkan sejumlah analisis, bukan bukti yang dengan sendirinya memastikan siapa yang menulis novel tersebut. Orélien membantah menggunakan AI.
1
10
15
Prix Goncourt adalah salah satu penghargaan sastra paling bergengsi di Prancis. Karena itu, pencoretan dari daftar panjang—daftar awal kandidat sebelum proses seleksi berlanjut—menjadi pukulan besar bagi novel yang sebelumnya mendapat perhatian luas.
Dari mana tuduhan itu berasal?
Pada 21 September, akun anonim X bernama Balance ton Claude mengklaim telah menguji beberapa kutipan novel dengan alat pendeteksi AI dan mendapatkan hasil yang menunjukkan teks itu hampir seluruhnya ditulis oleh AI. Tuduhan tersebut dengan cepat ramai dibicarakan.
17
20
Tak lama kemudian, laporan media menyoroti dugaan penjiplakan dalam tulisan Orélien yang lebih lama. Salah satu contohnya adalah kolom tahun 2013 yang menurut laporan La Presse hampir seluruhnya merupakan terjemahan yang sedikit diubah dari artikel yang terbit lebih dahulu di The Philippine Star. Laporan lain juga mengidentifikasi bagian-bagian yang diduga memiliki kemiripan dengan tulisan terbitan lain. Tuduhan ini menyangkut karya-karya lama; temuan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa novelnya ditulis menggunakan AI atau bahwa novel itu menjiplak.
Apa kata Orélien dan penerbitnya?
Orélien menyangkal menggunakan AI untuk menulis novel. Ia juga menyebut serangan terhadap dirinya rasis dan mengatakan ada upaya untuk membungkamnya.
2
14
Penerbit Prancisnya, Grasset, menyatakan tetap membelanya dan sebelumnya menepis tuduhan berbasis alat pendeteksi sebagai “berita palsu”. Penerbit Quebec, Boréal, mengambil sikap lebih hati-hati: mereka menghentikan sementara kegiatan promosi, menyatakan belum bisa memastikan apakah AI digunakan sebelum naskah diterima, serta menyuarakan keprihatinan atas dugaan plagiarisme dan pesan-pesan kebencian yang ditujukan kepada penulis. Buku itu tetap tersedia untuk dibeli.
2
4
6
Pendeteksi AI bukan vonis kepengarangan
Hasil alat pendeteksi AI tidak selalu memberi jawaban yang konsisten. Ketika sejumlah sistem memeriksa kutipan dari novel tersebut, hasilnya sangat bervariasi—bahkan ada yang menilai bagian tertentu kemungkinan besar ditulis manusia. Karena itu, skor detektor tidak bisa dianggap sebagai bukti final tentang siapa yang menulis teks.
19
Dugaan kemiripan dalam tulisan lama merupakan persoalan yang berbeda: klaim itu dapat diperiksa dengan membandingkan teks yang diterbitkan. Namun, kedua persoalan tersebut perlu dinilai secara terpisah. Tuduhan tentang penggunaan AI tidak otomatis membuktikan plagiarisme, begitu pula dugaan penjiplakan dalam tulisan terdahulu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa novel ini dibuat oleh AI.
Kasus ini mempertemukan pertanyaan tentang orisinalitas sastra dengan persoalan pembuktian dan reputasi. Tuduhan yang belum terverifikasi dapat berdampak cepat pada karier seorang penulis, sementara perhatian pada klaim Orélien tentang serangan rasis tidak berarti pertanyaan mengenai kepengarangan dan dugaan plagiarisme sudah terjawab.
Novel yang sebelumnya menjadi sorotan
Sebelum kontroversi mencuat, C’était ça ou mourir telah terjual lebih dari 35.000 eksemplar dan memenangkan Prix du Roman Fnac. Kisahnya mengikuti seorang guru sejarah Haiti yang melarikan diri dari kekerasan geng di Port-au-Prince dan menempuh perjalanan menuju Kanada.
4
8
13
Kini, perhatian terhadap novel itu tak hanya tertuju pada kisah migrasi yang diangkatnya, tetapi juga pada pertanyaan yang belum terselesaikan: bagaimana memastikan karya sastra benar-benar mencerminkan proses kreatif penulisnya, dan bukti seperti apa yang layak digunakan untuk menjawabnya.