Pusat data AI memerlukan pasokan listrik yang besar dan andal, kapasitas komputasi, akses data, tenaga terampil, serta modal. Kebutuhan listrik seluruh pusat data di dunia diproyeksikan naik dari sekitar 485 TWh pada 2025 menjadi sekitar 950 TWh pada 2030; AI menjadi pendorong utamanya.
Diterbitkan olehGambar dibuat dengan GPT Image 2
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: Why does World Bank Group President Ajay Banga believe data centers are unlikely to expand significantly into emerging markets, given their. Article summary: Ajay Banga’s point is that an AI data center needs more than a building: it needs dependable, abundant power alongside computing equipment, data access, skilled workers and capital.. Topic tags: general web, ai, privacy, growth, video. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers, clickbait thumbnails, ico
Ajay Banga, Presiden Grup Bank Dunia, melihat satu hambatan mendasar: pusat data AI tidak cukup hanya dibangun—ia harus terus ditenagai. Fasilitas semacam itu memerlukan listrik yang berlimpah dan andal, selain perangkat komputasi, akses serta aliran data, pekerja terampil, dan modal. Di negara berkembang yang pasokan listriknya masih terbatas, Banga meragukan pusat data akan bertambah dalam skala besar. Ia juga mempertanyakan alasan untuk mendahulukan kebutuhan listrik AI dibanding kebutuhan pembangunan lainnya. 1
Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan konsumsi listrik seluruh pusat data, bukan hanya fasilitas AI, naik dari sekitar 485 terawatt-jam (TWh) pada 2025 menjadi sekitar 950 TWh pada 2030—setara kira-kira 3% permintaan listrik dunia. AI merupakan pendorong utama kenaikan tersebut. 13
14
Pemakaian listrik pusat data juga sudah terkonsentrasi. Menurut IEA, Amerika Serikat, China, dan Eropa mencakup sekitar 85% konsumsi listrik pusat data pada 2024. Angka itu menunjukkan kondisi saat ini, bukan kepastian bahwa semua fasilitas baru hingga 2030 akan dibangun di wilayah yang sama. 16
Jika investasi komputasi terus mengikuti jaringan listrik, keterampilan, dan modal yang sudah tersedia, negara berkembang berisiko memiliki kapasitas lebih kecil untuk membangun AI dan memperoleh manfaatnya. Namun, keraguan Banga terhadap pertumbuhan berskala besar tidak berarti tidak ada pusat data yang berkembang di kawasan tersebut; industri pusat data di Afrika, misalnya, tengah bertumbuh meski pasokan listrik andal tetap menjadi tantangan utama. 1
7
Agenda Climate Week NYC merumuskan pilihan energinya dengan jelas: ketika pusat data berkembang, kebutuhannya akan listrik bersih dan terjangkau dapat bersaing dengan kebutuhan industri, transportasi, dan kota. Karena itu, perdebatan tentang AI bukan hanya soal membuat pusat data lebih berkelanjutan, melainkan juga siapa yang lebih dulu mendapat akses listrik ketika pasokannya terbatas. 12
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Pusat data AI memerlukan pasokan listrik yang besar dan andal, kapasitas komputasi, akses data, tenaga terampil, serta modal.
Pusat data AI memerlukan pasokan listrik yang besar dan andal, kapasitas komputasi, akses data, tenaga terampil, serta modal. Kebutuhan listrik seluruh pusat data di dunia diproyeksikan naik dari sekitar 485 TWh pada 2025 menjadi sekitar 950 TWh pada 2030; AI menjadi pendorong utamanya.
Persoalannya bukan hanya bagaimana menyediakan listrik untuk AI, tetapi juga kebutuhan siapa yang didahulukan ketika pasokan terbatas.