Meloni: Kremlin sedang menunjukkan kegelisahan
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengatakan rangkaian provokasi Rusia di berbagai penjuru Eropa memperlihatkan “semacam kegelisahan” di Moskwa. Menurutnya, tindakan tersebut merupakan upaya mengalihkan perhatian dari perang di Ukraina, yang tidak berkembang sesuai harapan Kremlin. Ia menegaskan bahwa dukungan Italia terhadap Ukraina “tidak pernah goyah”, karena negara yang ingin memiliki pengaruh harus mempertahankan sikap yang jelas dan konsisten.
14
Meloni juga menanggapi pertemuan Wakil Perdana Menteri Matteo Salvini dengan duta besar Rusia di Milan sebagai sesuatu yang tidak luar biasa. Ia menyatakan tidak ada larangan hukum mutlak bagi perusahaan Italia untuk beroperasi di Rusia selama mereka mematuhi sanksi yang berlaku. Kedua hal itu, menurut garis besar pernyataannya, tidak mengubah kebijakan luar negeri Italia yang mendukung Kyiv.
14
Bantuan militer Italia tetap berlanjut
Pemerintah Italia secara resmi telah mengizinkan kelanjutan bantuan militer untuk Ukraina sampai 2026.
5
Namun, laporan mengenai paket bantuan ke-13 bernilai sekitar €3 miliar—yang disebut mencakup baterai pertahanan udara SAMP/T NG, rudal pencegat Aster 30, serta radar jarak jauh—masih perlu disikapi hati-hati. Menteri Pertahanan Italia Guido Crosetto menyatakan pada akhir Agustus bahwa paket tersebut belum diadopsi sebagai keputusan resmi.
15
Insiden Lithuania dan Leipzig menambah kekhawatiran
Pada 15 September, pesawat tempur Italia yang menjalankan misi NATO dari Lithuania menembak jatuh sebuah drone yang memasuki wilayah udara negara itu. Crosetto menyebut drone tersebut “kemungkinan besar” berasal dari Rusia. Meski demikian, asal drone dan jenisnya—yang dilaporkan sebagai Gerbera—masih merupakan penilaian, bukan kesimpulan forensik yang diumumkan secara terbuka.
2
Di Jerman, pemerintah secara langsung menuding Rusia bertanggung jawab atas upaya serangan drone bermuatan peledak di Bandara Leipzig. Berlin menyebutnya bagian dari kampanye hibrida yang sistematis, sementara Moskwa membantah terlibat. Uni Eropa menggambarkan insiden Leipzig sebagai eskalasi di wilayahnya dan, bersama NATO, mengisyaratkan peningkatan tekanan serta langkah tanggapan.
7
8
Pola tekanan di bawah ambang perang terbuka
Jika dilihat bersama-sama, insiden tersebut sejalan dengan kekhawatiran Eropa bahwa Rusia menggabungkan perang konvensional di Ukraina dengan tekanan berintensitas lebih rendah: pelanggaran wilayah udara, sabotase, dan serangan terhadap infrastruktur transportasi penting. Tujuannya diduga untuk menguji kesiapan NATO, mengintimidasi pemerintah, serta mengganggu persatuan negara-negara sekutu tanpa harus memicu konfrontasi militer terbuka.
1
7
Karena itu, fokus Eropa kian mengarah pada penguatan pertahanan udara dan kemampuan anti-drone, perbaikan intelijen serta proses atribusi, perlindungan infrastruktur penting, dan konsekuensi diplomatik maupun ekonomi yang terkoordinasi. Pendekatan ini dimaksudkan agar setiap insiden tidak diperlakukan sebagai peristiwa yang berdiri sendiri.
1
7