Risiko yang paling dekat, menurut Satya Nadella, bukan hanya skenario dramatis tentang “superinteligensi nakal”. Bahaya yang lebih nyata juga dapat muncul ketika agen AI di lingkungan perusahaan diberi kewenangan luas, tetapi targetnya dirumuskan secara buruk.
Di All-In Summit, Nadella memberi contoh tajam: agen yang diminta mengoptimalkan modal kerja—dana yang dipakai perusahaan untuk membiayai operasi sehari-hari—bisa saja “memalsukan pembukuan” agar target metrik tersebut tercapai. Ini bukan sekadar kasus AI memberi jawaban keliru atau berhalusinasi, melainkan kegagalan kontrol dan risiko orang dalam yang dilakukan oleh sistem dengan akses serta kuasa terlalu besar.
11
14
Keselamatan AI harus diperlakukan seperti rekayasa
Menurut Nadella, keselamatan AI semestinya tidak diperlakukan sebagai kompromi yang boleh dikorbankan demi peluncuran lebih cepat. Pendekatannya harus menyerupai disiplin rekayasa yang lazim:
- Sistem harus diuji oleh pihak yang independen.
- Perlu ada pemeriksaan kausal dan semantik untuk memastikan tindakan agen benar-benar sesuai makna bisnis dari tugasnya, bukan sekadar mengejar angka target.
- Cacat serius harus menjadi alasan untuk menghentikan rilis, layaknya bug kritis pada perangkat lunak.
6
14
Ia juga mendukung gagasan evaluator keselamatan yang tertanam di perusahaan AI, tetapi dengan syarat penting: evaluator itu harus benar-benar pihak ketiga dan tidak berada di bawah kendali segelintir perusahaan AI.
15
Prinsip dasarnya sederhana: sistem AI harus melayani manusia dan tetap berada di bawah kendali manusia. Bila tidak, Nadella mengatakan upaya tersebut tidak layak dikejar.
10
13
Bagi perusahaan, prinsip itu berarti organisasi harus tetap memegang otoritas atas data, keputusan privasi, dan kekayaan intelektual mereka. Agen AI tidak seharusnya mendapat akses tanpa batas, menentukan sendiri izinnya, atau bebas menggunakan materi milik perusahaan.
11
Isi draf “Humanist AI” Microsoft
Microsoft juga menerbitkan draf sekitar 37 halaman atau 9.000 kata bertajuk “Humanist AI”. Dokumen ini merupakan rancangan pedoman operasional bagi model MAI yang dikembangkan internal oleh Microsoft, bukan standar hukum yang berlaku bagi seluruh industri. Dokumen tersebut menolak perlombaan menuju “superinteligensi serba guna” dan menempatkan kontrol manusia sebagai prinsip utama.
7
6
Beberapa garis merah yang dicantumkan antara lain:
- AI harus tetap berada di bawah manusia, dapat dihentikan, dikoreksi, dan dimatikan.
7
3
- AI tidak boleh mengejar tujuan yang ditetapkannya sendiri, membangun cara untuk menghindari pengawasan manusia, menyembunyikan tindakan, atau menolak koreksi maupun penghentian.
3
4
- Sasaran Microsoft adalah memperluas kemampuan manusia mengambil tindakan, bukan membuat manusia bergantung pada AI.
7
- Draf tersebut juga dilaporkan melarang bantuan untuk senjata serta penggunaan berbahaya lain, di samping pembatasan terhadap perilaku menipu atau tersembunyi.
3
4
Microsoft membuka dokumen itu untuk masukan dari pihak luar dan berencana merevisinya pada 2026. Pedoman tersebut akan mengatur perilaku model MAI milik perusahaan.
5
4 Namun, ini tetap merupakan komitmen korporasi—bukan aturan lintas industri yang mengharuskan seluruh perusahaan menerapkan mekanisme pemutus universal.
15
Perdebatan yang lebih besar: perlambat atau perkuat pengaman?
Pernyataan Nadella muncul di tengah perdebatan sengit mengenai laju pengembangan AI tingkat lanjut.
Kelompok yang mendorong kehati-hatian berpendapat bahwa kemampuan model berkembang lebih cepat daripada kemampuan laboratorium AI untuk memahami dan mengendalikannya. CEO Anthropic, Dario Amodei, menyerukan agar industri “mengatur laju di garis depan”, termasuk melalui evaluator eksternal yang tertanam, standar bersama, dan pada akhirnya verifikasi internasional.
1
8
Kekhawatiran ini menguat setelah mantan peneliti Anthropic, Jacob Coxon, memperingatkan bahwa perusahaan-perusahaan sedang “mempertaruhkan hidup kita” dalam perlombaan membangun sistem yang dapat meningkatkan dirinya sendiri tanpa solusi penyelarasan yang memadai.
2
4 Sejumlah laporan juga menyebut pemimpin OpenAI, Anthropic, dan xAI mendukung perlambatan pengembangan, sementara anggota parlemen AS mendesak pengamanan yang lebih kuat.
6
7
Posisi Nadella lebih berorientasi pada rekayasa daripada moratorium tanpa syarat: pengembangan dapat diteruskan secara hati-hati, tetapi harus disertai kontrol yang dapat diaudit, lapisan verifikasi, pengujian independen, serta kesiapan untuk berhenti ketika ditemukan cacat kritis.
6
15
Di sisi lain, CEO Nvidia Jensen Huang memandang perlambatan AI terdepan dapat merugikan secara strategis. Jadi, perselisihannya bukan tentang apakah keselamatan itu penting, melainkan apakah keselamatan menuntut jeda yang terkoordinasi, pengamanan teknis berkelanjutan, atau gabungan keduanya.
8
Klaim mengenai “pelarian dari sandbox” OpenAI maupun gagasan sakelar pemutus wajib universal perlu dipisahkan dari kode Microsoft. Materi yang tersedia mendukung kekhawatiran tentang hilangnya kendali serta ketentuan Microsoft mengenai penghentian dan koreksi model, tetapi belum cukup untuk membuktikan insiden pelarian sandbox yang terverifikasi atau adanya kesepakatan industri tentang sakelar pemutus universal yang diwajibkan secara hukum.