Konferensi Umum ke-70 Badan Energi Atom Internasional (IAEA) di Wina, 14 September 2026, memperlihatkan bahwa sengketa nuklir Amerika Serikat dan Iran telah melampaui isu teknis inspeksi. Pertarungan kini mencakup tekanan diplomatik terbuka, ancaman militer, pembalasan diplomatik, serta risiko keamanan pelayaran di kawasan Teluk.
Pokok kebuntuan tetap sama: pengayaan uranium Iran dan akses IAEA untuk memverifikasi program nuklirnya. Namun, Washington kini menawarkan jalan keluar sekaligus mengiringinya dengan peringatan keras.
1
5
Tawaran AS: bahan bakar dari luar, tanpa pengayaan di Iran
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan Washington akan mendukung skema pasokan bahan bakar nuklir dari luar negeri apabila Iran secara permanen menghentikan pengayaan uranium di dalam negaranya. Artinya, Iran dapat memperoleh bahan bakar untuk kebutuhan nuklir sipil tanpa menjalankan pengayaan domestik.
Wright menyatakan AS lebih memilih hasil yang dirundingkan. Namun, ia juga memperingatkan bahwa Iran dapat menghadapi aksi militer AS bila tidak ada penyelesaian. Washington turut menuntut kerja sama penuh dengan IAEA dan akses bagi para inspektur.
1
5
Kepala nuklir Iran dicegah hadir
Ketegangan diplomatik terlihat dari keputusan Austria menolak masuk Mohammad Eslami, wakil presiden Iran untuk urusan nuklir sekaligus kepala Organisasi Energi Atom Iran. Ia semula dijadwalkan berbicara dalam pembukaan konferensi, tetapi tidak dapat hadir setelah keringanan sanksi untuk perjalanannya ditolak, menyusul keberatan dari AS.
7
8
Teheran memandang keputusan itu sebagai penghinaan politik. Duta Besar Iran Reza Najafi menyebutnya melanggar hak Iran dan prinsip kesetaraan kedaulatan, sementara pemerintah Iran memanggil kuasa usaha Austria.
7
8
Sengketa pengamanan nuklir dan lokasi Pickaxe Mountain
Perselisihan makin tajam karena tekanan Dewan Gubernur IAEA terhadap Iran terkait kegagalannya menyediakan akses serta informasi yang diminta badan tersebut. IAEA memerlukan akses dan data itu untuk memverifikasi bahan nuklir dan fasilitas terkait.
Di sisi lain, badan pengawas nuklir PBB itu melaporkan adanya aktivitas konstruksi di Pickaxe Mountain, lokasi yang sangat terlindungi. IAEA mengatakan citra jarak jauh menunjukkan pergerakan di sekitar proyek tersebut, tetapi belum memiliki informasi konkret tentang aktivitas yang berlangsung di sana. Iran menolak tuduhan terkait lokasi itu sebagai isu yang dibesar-besarkan media dan menegaskan telah memenuhi kewajiban pengamanannya.
4
9
13
Diplomasi macet, narasi saling bertentangan
Pesan AS semakin mengarah pada kemungkinan bahwa kemampuan nuklir Iran harus dilenyapkan apabila diplomasi gagal. Iran, sebaliknya, menyatakan tindakan militer AS telah membuat inspeksi sulit dilakukan. Teheran juga mengatakan tetap terbuka untuk keterlibatan yang dilakukan dengan itikad baik dan tidak mengejar senjata nuklir.
5
11
13
Fakta yang tersedia menunjukkan perundingan dan verifikasi berada dalam kebuntuan. Namun, fakta tersebut tidak secara independen membuktikan klaim salah satu pihak mengenai siapa yang bertanggung jawab atas mandeknya proses itu.
Dampak ke Selat Hormuz
Konfrontasi tersebut juga tercermin dalam ketidakamanan maritim di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran energi yang sangat penting bagi perdagangan minyak global. Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan tanker berbendera Panama El Gaia menabrak ranjau laut lalu terbakar.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menolak versi itu. Menurut militer AS, kapal tersebut lebih dulu dihantam rudal Iran pada bulan sebelumnya hingga tidak dapat beroperasi, lalu diserang lagi oleh drone Iran pada akhir pekan 13–14 September. Reuters melaporkan kedua versi yang bertentangan tersebut; karena itu, urutan peristiwa dan atribusi serangan masih dipersengketakan.
2
3
10
Secara keseluruhan, konferensi di Wina menunjukkan diplomasi masih disebut sebagai pilihan. Akan tetapi, syarat praktis untuk menjalankannya—akses inspeksi, kepatuhan pengamanan yang diterima bersama, dan kesepahaman atas insiden militer regional—justru semakin memburuk.