Jacob Coxon mengatakan ia keluar dari Anthropic karena persaingan antar lab AI dinilainya mendorong pengembangan sistem otonom dan mampu memperbaiki diri sebelum manusia tahu cara mengendalikannya. Ia meninggalkan perusahaan menjelang saham ekuitasnya vesting, sebagai sinyal bahwa kekhawatirannya lebih penting darip...
Diterbitkan olehGambar dibuat dengan GPT Image 2
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What prompted 27 year old former Anthropic and OpenAI pretraining researcher Jacob Coxon to resign from Anthropic on September 8—two months. Article summary: Coxon said he resigned because he concluded that the leading labs’ competitive incentives—not merely individual technical failures—were driving them toward increasingly autonomous, self improving systems before anyone kn. Topic tags: general web, ai safety, openai, ai, workflow. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts
Jacob Coxon mengatakan ia mengundurkan diri dari Anthropic karena menyimpulkan bahwa masalah utamanya bukan sekadar kegagalan teknis di satu perusahaan. Menurutnya, insentif kompetitif di laboratorium AI terdepan mendorong perusahaan bergerak menuju sistem yang makin otonom dan mampu memperbaiki diri sebelum manusia benar-benar mengetahui cara mengendalikannya. Keputusannya keluar menjelang ekuitasnya vesting dimaksudkan sebagai sinyal bahwa ia menilai risiko tersebut lebih penting daripada kerugian finansial pribadi. 2
5
Dalam utasnya di X, Coxon menyatakan bahwa baik Anthropic maupun OpenAI tidak bertindak cukup bertanggung jawab. Ia menuduh keduanya “berlomba langsung menuju superinteligensi yang mampu memperbaiki diri dan mempertaruhkan hidup kita.” 3
8
Inti kekhawatirannya bukan bahwa chatbot saat ini akan segera bertindak sendiri untuk memusnahkan manusia. Klaimnya adalah para pembangun model AI terdepan sungguh percaya bahwa sistem masa depan dapat melampaui manusia dalam kemampuan tertentu—misalnya peretasan siber—yang dapat membuka jalan menuju hilangnya kendali secara katastrofik. 3
8
Kepada BBC, Coxon mengatakan para pekerja AI “benar-benar ketakutan” oleh cepatnya kemajuan teknologi ini. Ia berpendapat bahwa tanpa perlambatan, ada “peluang besar” manusia dapat mati “dalam waktu dekat.” Namun, ia juga menekankan perlambatan yang bermakna mesti dikoordinasikan secara internasional, termasuk dengan China, bukan sekadar satu negara secara sepihak menyerah dalam perlombaan teknologi. 1
Peneliti alignment Anthropic, Evan Hubinger, mendukung garis besar kekhawatiran tersebut di ruang publik. Ia mengatakan risiko dari model saat ini rendah, tetapi menaksir peluang AI dapat membunuh seluruh manusia dalam satu dekade melebihi 10%. 13
Geoffrey Hinton juga pernah menyatakan skenario pengambilalihan AI atau kepunahan manusia sebagai risiko yang nyata, bukan risiko yang bisa diabaikan. Meski begitu, angka-angka semacam ini adalah penilaian subjektif para ahli, bukan prakiraan yang dapat diukur secara pasti. Laporan yang tersedia juga tidak menunjukkan adanya konsensus probabilitas di kalangan peneliti AI. 8
13
Bukti langsung yang dibahas dalam perdebatan ini terutama berkaitan dengan penyalahgunaan siber serta peningkatan kapabilitas model, bukan serangan AI otonom terhadap manusia.
Laporan menyebut model canggih telah digunakan atau diuji dalam operasi siber, termasuk upaya membuat senjata biologis, spionase terkait Ukraina, serta insiden yang digambarkan sebagai agen OpenAI meretas platform Hugging Face. Namun, rincian fakta, otorisasi, dan status pengungkapan dalam tuduhan terakhir itu perlu diperlakukan dengan hati-hati karena hasil sumber yang tersedia tidak cukup untuk memverifikasi setiap karakterisasinya secara independen. 2
63
Seruan CEO Anthropic Dario Amodei melalui esai We Must Pace the Frontier bukan ajakan untuk menghentikan pengembangan AI sepenuhnya. Usulannya adalah memperlambat laju peningkatan kemampuan model paling canggih, menerapkan pemantauan atau evaluasi independen dari pihak luar, menetapkan standar keselamatan bersama di antara negara-negara demokratis, serta pada akhirnya membangun pengaturan internasional yang juga melibatkan China. 1
2
Sam Altman dari OpenAI dan Elon Musk dari xAI sama-sama menyatakan dukungan terhadap arah besar usulan itu. Musk menulis, “Dario is right.” 1
13
Penolakan terhadap narasi risiko eksistensial muncul dari kekhawatiran bahwa regulasi ketat untuk model AI terdepan dapat menjadi strategi perlindungan bagi perusahaan yang sudah paling kuat modalnya. Kritikus, termasuk CEO Hugging Face Clément Delangue dan CEO Nvidia Jensen Huang, berpendapat aturan semacam itu dapat mengukuhkan Anthropic dan OpenAI sebagai duopoli yang terlindungi. 3
Kritik tersebut berfokus pada insentif dan struktur pasar; kritik itu bukan bukti bahwa ketakutan Coxon tidak tulus. Skeptisisme makin tajam karena Anthropic dilaporkan sedang mempersiapkan IPO yang ukurannya bisa menyamai atau melampaui rekor SpaceX. 4
Posisi Anthropic sendiri adalah bahwa mereka telah menerapkan sejumlah pengamanan yang termasuk paling kuat di industri. Perusahaan itu mendukung pengawasan independen dan standar bersama yang berlaku lintas industri, bukan aturan yang hanya menguntungkan satu perusahaan. 2
Pada akhirnya, Coxon, Hubinger, Amodei, Altman, dan Musk memiliki titik temu: AI yang semakin mampu memerlukan koordinasi dan pengamanan yang lebih kuat. Namun, mereka tidak menyajikan bukti empiris bahwa kepunahan manusia sudah dekat. Seberapa besar risikonya, kapan risiko itu mungkin muncul, dan kebijakan apa yang paling efektif untuk meresponsnya masih menjadi perdebatan besar.
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Jacob Coxon mengatakan ia keluar dari Anthropic karena persaingan antar lab AI dinilainya mendorong pengembangan sistem otonom dan mampu memperbaiki diri sebelum manusia tahu cara mengendalikannya.
Jacob Coxon mengatakan ia keluar dari Anthropic karena persaingan antar lab AI dinilainya mendorong pengembangan sistem otonom dan mampu memperbaiki diri sebelum manusia tahu cara mengendalikannya. Ia meninggalkan perusahaan menjelang saham ekuitasnya vesting, sebagai sinyal bahwa kekhawatirannya lebih penting daripada biaya finansial pribadi.
Dalam utas di X, Coxon menuduh Anthropic dan OpenAI berlomba menuju “superinteligensi yang mampu memperbaiki diri” sambil “mempertaruhkan hidup kita.” [3][8]