Huawei memperkenalkan Tau (τ) Scaling Law sebagai pendekatan berbeda untuk memajukan semikonduktor. Alih-alih menjadikan ukuran transistor sebagai satu-satunya ukuran kemajuan, Huawei menyoroti waktu yang dibutuhkan sinyal dan data untuk bergerak di dalam rangkaian, chip, hingga sistem komputasi. Strategi ini penting bagi Huawei karena aksesnya terhadap teknologi litografi paling canggih dibatasi, sehingga perusahaan mencari peningkatan lewat desain arsitektur, interkoneksi, dan integrasi sistem.
7
18
Dari mengecilkan transistor ke memangkas latensi
Selama puluhan tahun, kemajuan chip banyak ditopang oleh pengecilan fitur manufaktur: transistor dibuat semakin kecil dan jumlahnya semakin banyak dalam area yang sama. Namun, ketika dimensinya mendekati skala atom, keterlambatan pada kabel penghubung dan perpindahan data menjadi hambatan yang makin besar.
17
18
Tau Law menawarkan fokus lain, yakni time scaling. Targetnya adalah mengurangi keterlambatan propagasi sinyal dan waktu eksekusi secara bertahap, dari level perangkat dan rangkaian sampai chip serta sistem elektronik. Menurut Huawei, optimasi itu dapat meningkatkan performa, efisiensi energi, dan kepadatan transistor.
7
Ini bukan berarti miniaturisasi transistor tidak lagi berguna. Klaim Huawei lebih terbatas: performa dan efisiensi juga dapat ditingkatkan melalui penataan logika, jalur kabel, memori, serta integrasi sistem yang lebih baik—sehingga ketergantungan mutlak pada node litografi terdepan dapat berkurang.
7
17
LogicFolding: cara Huawei memendekkan jalur sinyal
Arsitektur yang dikaitkan Huawei dengan Tau Law disebut LogicFolding. Pendekatan ini mengatur blok logika secara tiga dimensi agar bagian-bagian yang sering saling bertukar data dapat ditempatkan lebih dekat. Konsekuensinya, jalur kabel horizontal yang panjang dapat dipersingkat dan latensi pada jalur sinyal kritis berpotensi ditekan.
4
7
9
Peta jalan yang diumumkan mencakup chip dua lapis pada 2026, lalu arah pengembangan menuju tiga lapis pada 2031. Huawei menautkan rencana itu dengan target sekitar 55% peningkatan kepadatan transistor dan kepadatan yang disebut setara proses 1,4 nm.
3
4
5
Kata “setara” di sini sangat penting. Target tersebut merujuk pada kepadatan yang ingin dicapai melalui arsitektur 3D dan integrasi tingkat lanjut, bukan pernyataan bahwa Huawei telah memproduksi transistor memakai proses litografi fisik 1,4 nm. Target 1,4 nm itu juga diproyeksikan untuk 2031, bukan kemampuan produksi yang telah diverifikasi secara independen saat ini.
5
13
Bukti implementasi: ada klaim, tetapi data independen masih terbatas
Huawei mempresentasikan Tau Law dan LogicFolding di IEEE International Symposium on Circuits and Systems di Shanghai pada Mei 2026. Dalam pengumuman resminya, perusahaan menjelaskan bahwa prinsip tersebut ditujukan untuk menekan keterlambatan propagasi sinyal sekaligus meningkatkan kepadatan transistor secara berkelanjutan.
7
Huawei juga menyatakan telah merancang dan memproduksi massal 381 chip dalam enam tahun dengan pendekatan yang lebih luas ini. Klaim tersebut menunjukkan Tau Law tidak diposisikan semata-mata sebagai konsep teoretis. Namun, informasi publik belum menyediakan daftar chip yang dapat diverifikasi secara independen, angka yield produksi, maupun perbandingan performa per watt yang secara khusus mengukur dampak Tau Law.
12
Untuk lini Kirin, sejumlah laporan menyebut Huawei berniat membawa chip LogicFolding dua lapis ke pasar pada 2026. Peta jalan berikutnya juga mengaitkan konsep itu dengan akselerator AI Ascend pada masa mendatang. Meski demikian, hingga tersedia data produk final yang lengkap, hal ini tetap merupakan pengumuman dan rencana produk perusahaan.
4
5
19
Tantangan sebenarnya ada di manufaktur
Integrasi 3D secara teori dapat mengurangi jarak komunikasi di dalam chip. Akan tetapi, pendekatan itu tidak menghapus persoalan produksi. Laporan independen menyoroti tantangan manajemen panas, perangkat lunak desain chip atau EDA (electronic design automation), dan yield produksi.
2
5
Di luar itu, implementasi komersial membutuhkan interkoneksi vertikal yang andal, pengujian yang memadai, kemampuan perbaikan, serta biaya pengemasan yang masuk akal. Karena itu, ukuran keberhasilan tidak cukup dilihat dari label “node setara”. Bukti yang lebih kuat akan berupa produk nyata dengan:
- performa lebih baik pada beban kerja nyata per watt;
- yield produksi yang tinggi dan konsisten;
- keandalan termal serta daya tahan jangka panjang; dan
- total biaya yang kompetitif, termasuk kapasitas manufaktur dan pengemasan yang tersedia.
Mengapa Tau Law strategis bagi Huawei
Tau Law selaras dengan upaya Huawei untuk terus maju tanpa bergantung sepenuhnya pada akses ke peralatan litografi paling canggih, termasuk EUV (extreme ultraviolet). Reuters menggambarkan langkah ini sebagai pencarian jalur kemajuan alternatif di luar model pengecilan transistor yang terus-menerus.
17
18
Pendiri Huawei, Ren Zhengfei, menyebut kerangka tersebut penting bagi kelangsungan perusahaan dan jalan untuk keluar dari tekanan pembatasan. Pernyataan itu menunjukkan bobot strategis Tau Law bagi Huawei, tetapi belum menjadi bukti bahwa keunggulan teknisnya sudah terbukti secara independen dalam skala besar.
21
Sementara itu, laporan pelacak pasar menyebut penjualan seri Mate 80 telah melampaui 8 juta unit pada akhir Juli 2026. Angka tersebut menggambarkan permintaan terhadap ekosistem premium Huawei, tetapi berasal dari pemantauan pasar, bukan pengungkapan perusahaan yang diaudit. Penjualan itu sendiri juga tidak membuktikan efektivitas teknis Tau Law.
Pada akhirnya, gagasan dasarnya masuk akal: ketika perpindahan data menjadi penghambat besar dalam komputasi, memangkas latensi di berbagai lapisan sistem bernilai nyata. Pertanyaan terbukanya adalah apakah LogicFolding dapat mengubah gagasan itu menjadi keunggulan manufaktur yang andal dan ekonomis dibanding node terdepan dari foundry besar.