Pada 30 Agustus 2026, AS mengatakan telah menghancurkan dua peluncur roket Garda Revolusi Iran (IRGC) di Pulau Larak, dekat Selat Hormuz. IRGC mengklaim melancarkan operasi gabungan rudal balistik dan drone ke Pangkalan King Hussein serta Al Azraq atau Muwaffaq Salti di Yordania sebagai aksi balasan.
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What happened in the latest escalation of the seven-month US-Iran conflict— including the IRGC’s combined ballistic-missile and drone attack. Article summary: The immediate escalation was a U.S. strike on two IRGC launchers on Larak Island on August 30, followed by Iran’s claimed missile-and-drone retaliation against U.S.-used air bases in Jordan on August 31. The competing ac. Topic tags: general, news, general web, government. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with
Rangkaian eskalasi terbaru terjadi setelah sekitar satu bulan tanpa operasi militer langsung AS terhadap Iran. Pada 30 Agustus, pasukan AS menyerang dua peluncur roket Iran di Pulau Larak, dekat Selat Hormuz. Sehari kemudian, Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan telah melancarkan operasi gabungan rudal balistik dan drone terhadap Pangkalan King Hussein dan Al Azraq—yang juga dikenal sebagai Muwaffaq Salti—di Yordania. 14
17
Urutan kejadiannya relatif jelas. Namun, besarnya kerusakan dan jumlah korban masih menjadi bagian yang diperdebatkan.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan pasukannya menghancurkan dua peluncur IRGC di Larak setelah mengamati personel Iran menyiapkan roket yang membawa ranjau laut untuk ditembakkan ke Selat Hormuz. Menurut pejabat AS, serangan itu dimaksudkan untuk melindungi pelayaran komersial di jalur strategis tersebut. 6
11
Serangan ini disebut sebagai aksi militer AS pertama terhadap Iran sejak akhir Juli berdasarkan laporan yang tersedia saat itu. 13
14 Operasi tersebut juga berlangsung setelah Washington menyatakan jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz telah dibersihkan dari ranjau. Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa kapal apa pun yang mencoba memasang ranjau baru akan dihancurkan.
13
Iran mengecam serangan itu dan berjanji membalas. Media pemerintah Iran melaporkan sejumlah personel militer dan warga sipil tewas atau terluka, tetapi informasi yang tersedia belum dapat memastikan jumlah korban secara independen. 10
11
IRGC mengatakan Pasukan Dirgantaranya menargetkan Pangkalan King Hussein dan Al Azraq dengan rudal balistik serta drone. Laporan Iran menyebut sasaran serangan mencakup infrastruktur teknis dan pemeliharaan, serta lokasi penempatan pesawat tempur. IRGC juga mengklaim operasi tersebut menyebabkan kerusakan berat. 10
12
Teheran menyatakan serangan itu merupakan pembalasan atas serangan AS di Larak. Reuters juga melaporkan klaim IRGC bahwa dua pangkalan AS tersebut diserang menggunakan rudal balistik sebagai respons terhadap operasi AS. 17
Namun, klaim tersebut belum terkonfirmasi secara independen dalam laporan yang tersedia. Informasi pertahanan yang paling jelas di ruang publik justru lebih terbatas: angkatan bersenjata Yordania mengatakan sistem pertahanan udaranya mencegat delapan rudal Iran. Sementara itu, sumber AS yang dikutip Fox News menyatakan hampir seluruh rudal yang datang berhasil dicegat dan belum ada laporan dampak signifikan. 2
9
19
Dengan demikian, terdapat perbedaan tajam antara klaim Iran mengenai kerusakan berat dan laporan dari Yordania serta sumber yang terkait dengan AS tentang keberhasilan intersepsi dan dampak yang terbatas. Laporan yang ditinjau belum memberikan informasi terkonfirmasi mengenai korban di pangkalan tersebut.
Pulau Larak berada di dekat sisi timur Selat Hormuz. Karena itu, dugaan bahwa peluncur di pulau tersebut akan digunakan dalam operasi pemasangan ranjau memiliki arti strategis besar. Washington menggambarkan serangannya sebagai respons terhadap ancaman langsung terhadap navigasi, sedangkan Teheran melihatnya sebagai bagian dari kampanye militer dan ekonomi AS yang lebih luas. 5
Persoalannya bukan hanya dua peluncur roket. Iran mengatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai Amerika Serikat mengubah kebijakannya dan menerima sejumlah syarat untuk mengakhiri perang, mengangkat blokade, mencabut sanksi minyak, serta mencairkan aset Iran yang dibekukan.
Di sisi lain, Washington menyatakan mampu mempertahankan blokade laut tanpa batas waktu dan meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran. Perbedaan posisi ini menjadikan Selat Hormuz sekaligus titik rawan militer dan alat tawar utama dalam konflik.
Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz telah merosot drastis sebelum pertukaran serangan terbaru. Reuters melaporkan jumlah kapal yang melintas sempat turun menjadi satu digit, sementara laporan lain menyebut lalu lintas nyaris terhenti setelah serangan tambahan terhadap kapal.
Pasar minyak mulai memperhitungkan kemungkinan gangguan berlangsung lama, bukan sekadar guncangan sementara. Reuters melaporkan harga minyak mencapai level tertinggi dalam tiga minggu setelah Iran mengatakan selat itu akan tetap ditutup dan Washington menolak memperpanjang gencatan senjata.
Selat Hormuz juga penting bagi pasokan minyak dan gas alam dunia. Penutupan berkepanjangan atau kampanye pemasangan ranjau baru dapat meningkatkan tekanan terhadap pasar energi dan perusahaan pelayaran. Namun, laporan yang tersedia belum memberikan angka tunggal yang dapat diandalkan mengenai total dampak finansial global atau kerugian LNG saat ini, sehingga dampaknya tidak seharusnya dibesar-besarkan.
Pertukaran serangan terbaru menciptakan siklus yang memungkinkan masing-masing pihak menggambarkan langkah berikutnya sebagai tindakan defensif. AS dapat berargumen bahwa serangan diperlukan untuk mencegah pemasangan ranjau dan melindungi perdagangan. Iran dapat membingkai serangan terhadap pangkalan AS sebagai pembalasan atas serangan ke wilayahnya sekaligus sebagai alat untuk menekan Washington terkait blokade dan sanksi.
Risikonya tidak berhenti pada dua insiden tersebut. Rudal atau drone berikutnya yang menembus pertahanan udara dapat menimbulkan korban dari pihak AS, Yordania, maupun warga sipil. Pemasangan ranjau baru atau serangan terhadap kapal komersial juga dapat semakin mengurangi lalu lintas di Selat Hormuz. Sementara itu, blokade yang berlangsung lama berpotensi memperdalam tekanan energi dan ekonomi serta mempersempit ruang bagi diplomasi.
Kesimpulan yang paling dapat dipertanggungjawabkan untuk saat ini adalah bahwa serangan di Larak dan klaim serangan terhadap pangkalan Yordania menandai keretakan serius dalam jeda konflik yang rapuh. Peristiwa ini belum membuktikan seluruh kerusakan seperti yang diklaim Iran, tetapi jelas memperluas konfrontasi—dari sengketa keamanan pelayaran menjadi pertukaran langsung lain antara pasukan AS dan Iran.
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Pada 30 Agustus 2026, AS mengatakan telah menghancurkan dua peluncur roket Garda Revolusi Iran (IRGC) di Pulau Larak, dekat Selat Hormuz.
Pada 30 Agustus 2026, AS mengatakan telah menghancurkan dua peluncur roket Garda Revolusi Iran (IRGC) di Pulau Larak, dekat Selat Hormuz. IRGC mengklaim melancarkan operasi gabungan rudal balistik dan drone ke Pangkalan King Hussein serta Al Azraq atau Muwaffaq Salti di Yordania sebagai aksi balasan.
Yordania mengatakan delapan rudal Iran berhasil dicegat, sementara sumber yang dikutip media AS menyebut hampir seluruh rudal tertahan dan tidak ada dampak signifikan yang dilaporkan.