Selat Hormuz, jalur yang biasanya membawa sekitar seperlima pengiriman minyak dan LNG dunia, masih mengalami pembatasan berat. Dampak krisis meluas dari harga minyak ke diesel, LNG, biaya angkutan, asuransi, kapasitas kilang, dan pupuk.
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What have been the global and regional energy-market consequences six months after the United States and Israel launched their war on Iran o. Article summary: Six months on, the war has turned Hormuz from a risk premium into a sustained physical supply shock: oil and LNG flows remain severely constrained, fuel markets are tight, and the largest harm is falling on import-depend. Topic tags: general, government, education, news, general web. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, c
Enam bulan setelah perang Iran dimulai pada 28 Februari 2026, krisis Selat Hormuz tidak lagi sekadar menaikkan premi risiko harga minyak. Gangguan itu telah berubah menjadi guncangan pasokan fisik.
Arus kapal melalui selat masih sangat terbatas, pasar bahan bakar olahan dan gas alam cair (LNG) mengetat, dan dampaknya terasa tidak merata. Sejumlah perusahaan minyak Amerika Serikat memperoleh keuntungan dari harga minyak serta margin kilang yang lebih tinggi. Sebaliknya, negara yang bergantung pada impor energi—seperti Bangladesh—harus membayar lebih mahal untuk gas, pupuk, listrik, dan transportasi.
Sebelum perang, sekitar seperlima pengiriman minyak dan LNG dunia melewati Selat Hormuz. Jalur ini membawa sekitar 18 juta barel minyak mentah dan produk olahan per hari. Namun, menurut perkiraan arus kapal yang dikutip Reuters, volumenya turun menjadi 4,8 juta barel per hari pada Juli dan rata-rata hanya sekitar 2 juta barel per hari pada Agustus.
Penurunan tersebut bukan semata-mata akibat kerusakan fisik. Serangan, risiko ranjau laut, pembatasan angkatan laut, keengganan awak kapal, serta biaya asuransi yang sangat mahal atau bahkan tidak tersedia membuat pelayaran komersial sulit dilakukan. 3 Pada 25 Agustus, hanya lima kapal pengangkut komoditas yang tercatat melewati selat—jauh di bawah tingkat sebelum perang.
Perbedaan antara “terbuka” secara hukum atau militer dan “aman” secara komersial sangat penting. Sebuah jalur laut dapat dinyatakan masih bisa dilalui, tetapi tetap secara efektif tertutup bagi kapal-kapal biasa. Akibatnya, akses terhadap minyak mentah, LNG, dan bahan bakar olahan menjadi kurang dapat diandalkan, sementara biaya angkutan, asuransi, dan pengiriman semakin bergejolak.
Harga minyak mentah Brent melonjak setelah serangan dimulai dan sempat menembus US$100 per barel pada puncak krisis, dibandingkan sekitar US$71 per barel sesaat sebelum perang. 2
4 Namun, harga minyak mentah hanya menggambarkan sebagian dari gangguan.
Bahan bakar olahan justru menjadi salah satu titik paling rentan. Reuters melaporkan bahwa produksi kilang global pada Juli hampir 5 juta barel per hari lebih rendah dibandingkan setahun sebelumnya. Pasar diesel dan produk olahan lainnya pun disebut berada dalam kondisi sangat ketat. ExxonMobil dan Chevron memperingatkan bahwa pasokan bahan bakar dapat tetap terbatas pada paruh kedua tahun ini, meskipun operasi kilang mereka mendapat manfaat dari margin yang tinggi. 18
Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan pasokan minyak global turun 4,3 juta barel per hari, atau sekitar 4%, pada 2026. Penurunan itu dipicu oleh penutupan Hormuz, serangan di wilayah lain, dan gangguan pasokan tambahan. IEA juga memangkas proyeksi permintaan minyak 2026, tanda bahwa harga tinggi dan kerusakan ekonomi mulai menekan konsumsi.
Kondisi ini menciptakan keseimbangan pasar yang rumit. Pelemahan permintaan pada akhirnya dapat menahan harga minyak mentah, tetapi diesel, LNG, dan produk energi lain tetap mahal karena kapasitas kilang, pencairan gas, pengiriman, dan penyimpanan tidak bisa digantikan dalam waktu singkat.
Iran dan Oman membahas koridor pelayaran sementara melalui Hormuz, disertai koordinasi untuk membersihkan ranjau laut. Harga minyak sempat turun ketika kemajuan pembicaraan itu dilaporkan, karena pasar melihat kemungkinan adanya pelayaran yang lebih aman dan dapat diprediksi.
Namun, rencana tersebut masih berupa pengaturan lalu lintas sementara—bukan bukti bahwa selat telah kembali terbuka bagi volume perdagangan normal. Pemulihan yang berkelanjutan membutuhkan lebih dari sekadar kesepakatan mengenai rute. Pemilik kapal, perusahaan asuransi, dan awak kapal juga harus yakin bahwa pelayaran dapat berlangsung secara konsisten dan aman, tanpa serangan baru, ranjau, atau perubahan pembatasan secara mendadak.
Itulah sebabnya pasar memperlakukan setiap perkembangan diplomatik sebagai bantuan sementara, bukan tanda pasti bahwa krisis telah berakhir. Perundingan berulang kali memengaruhi harga, tetapi jalur pelayaran tetap rentan terhadap eskalasi militer dan kegagalan politik. 10
Harga minyak yang lebih tinggi dan margin kilang yang kuat menciptakan keuntungan besar bagi sebagian perusahaan energi AS. ExxonMobil mencatat laba kuartal II sekitar US$14,5 miliar, sedangkan Chevron membukukan sekitar US$12,1 miliar. Keduanya mendapat manfaat dari harga minyak dan kondisi pengolahan yang lebih menguntungkan. 17
18
Namun, hasil tersebut juga menunjukkan mengapa kesimpulan “harga tinggi selalu menguntungkan perusahaan minyak” terlalu sederhana. Laba bersih Exxon pada kuartal I turun ke level terendah dalam lima tahun karena gangguan pasokan memengaruhi operasi, meskipun perusahaan melampaui ekspektasi laba yang telah disesuaikan. 20 Exxon kemudian mencatat produksi diesel kuartal II yang memecahkan rekor, sementara kilang Chevron di AS memproses lebih dari 1 juta barel per hari.
18
Pihak yang paling diuntungkan adalah perusahaan dengan produksi yang beragam, output domestik AS yang besar, serta kapasitas kilang. Mereka dapat menangkap margin yang lebih tinggi sekaligus mengurangi ketergantungan langsung pada pengiriman dari Teluk.
Bukti yang tersedia belum cukup untuk membandingkan secara tepat dampak kehilangan pasokan Teluk atau pengaruhnya terhadap pendapatan ConocoPhillips dan Occidental Petroleum. Karena itu, dampak terhadap kedua perusahaan tersebut tidak seharusnya dibesar-besarkan.
Gambaran besarnya lebih jelas: produsen dan pengolah yang terdiversifikasi dapat memperoleh keuntungan finansial dari kelangkaan, sedangkan perusahaan serta konsumen yang membutuhkan bahan bakar yang dikirim ke lokasi mereka harus menghadapi biaya dan risiko pasokan yang lebih tinggi.
Bangladesh menjadi salah satu contoh paling jelas tentang bagaimana krisis keamanan maritim berubah menjadi tekanan ekonomi domestik. QatarEnergy memangkas separuh pengiriman LNG terjadwal ke Bangladesh untuk 2026. Akibatnya, perusahaan energi milik negara Petrobangla harus mencari pemasok alternatif dan membeli kargo di pasar spot yang lebih mahal.
Bank Dunia melaporkan bahwa lima dari enam kontrak LNG Petrobangla telah dinyatakan mengalami force majeure, yaitu kondisi luar biasa yang membebaskan pihak kontrak dari sebagian kewajibannya. Harga LNG spot naik menjadi US$24–28 per juta British thermal unit (MMBtu), lebih dari dua kali lipat dibandingkan sebelumnya. Bank Dunia memproyeksikan subsidi energi dapat meningkat menjadi 2,8% dari produk domestik bruto, sehingga ruang fiskal untuk belanja sosial menyempit.
Kekurangan tersebut juga memengaruhi industri dan pertanian. Keterbatasan gas mengurangi pasokan untuk pembangkit listrik dan sektor industri. Pasar pupuk ikut mengetat karena gangguan energi di Timur Tengah menghambat produksi pupuk nitrogen. 4 Sejumlah laporan mengaitkan kelangkaan gas dengan penghentian operasi pabrik urea Ashuganj, meskipun waktu dan penyebab yang dijelaskan dalam berbagai laporan belum sepenuhnya konsisten.
Dampak sosialnya berpotensi besar. Penilaian yang terkait dengan Bank Dunia memperkirakan hampir 600.000 pekerjaan berisiko terdampak. Jumlah penduduk yang diperkirakan dapat keluar dari kemiskinan pada 2026 juga dapat turun dari sekitar 1,7 juta menjadi sekitar 500.000 orang. Angka tersebut merupakan proyeksi, bukan hasil akhir, dan sangat bergantung pada lamanya konflik serta guncangan harga energi.
Pengalaman Bangladesh memperlihatkan jalur penularannya: gangguan pengiriman LNG memaksa pembelian darurat di pasar spot; gas yang mahal meningkatkan biaya listrik dan produksi; kelangkaan pupuk menaikkan biaya pertanian; sementara tagihan impor yang membengkak menekan subsidi, pendapatan rumah tangga, dan program pengentasan kemiskinan.
Negara-negara produsen Teluk sedang membangun atau membahas pipa yang dapat mengangkut sebagian minyak mentah tanpa melewati Hormuz. Pada Juli, setidaknya tujuh proyek besar dilaporkan sedang dibangun, direncanakan, atau dibahas.
Investasi tersebut dapat mengurangi ketergantungan pada satu titik penyumbatan laut dalam jangka panjang. Namun, pipa-pipa baru tidak dapat segera menggantikan seluruh kapasitas pengiriman melalui Hormuz. Para analis energi yang dikutip NPR menilai pembangunan infrastruktur pengganti dalam jumlah memadai akan sulit dilakukan dalam waktu dekat. Konsumen karena itu masih mungkin menghadapi harga energi yang tinggi meskipun rute alternatif bertambah.
Pipa juga tidak menyelesaikan semua persoalan. Infrastruktur itu terutama mengatasi pengiriman minyak mentah. Ekspor LNG, produk olahan, asuransi pelayaran, ketersediaan kilang, dan risiko ranjau laut tetap membutuhkan solusi tersendiri.
Enam bulan setelah krisis dimulai, pasar energi lebih banyak ditentukan oleh keamanan transportasi dan ketahanan diplomasi daripada kelangkaan geologis permanen. Kesepakatan yang kredibel untuk melindungi pelayaran komersial dapat mengeluarkan pasokan yang tertahan dan menurunkan premi risiko. Sebaliknya, serangan baru atau eskalasi regional yang lebih luas dapat kembali menekan arus pengiriman.
Bahkan jika Hormuz secara resmi dibuka kembali, dampaknya tidak akan hilang seketika. Kapal tanker harus kembali berlayar, perusahaan asuransi harus memulihkan perlindungan, sistem penyimpanan dan kilang perlu menyeimbangkan kembali pasokan, sementara pembeli LNG seperti Bangladesh masih harus menanggung konsekuensi kontrak yang terputus.
Kesimpulan yang paling kuat bukanlah bahwa harga minyak pasti akan terus tinggi selamanya. Krisis Hormuz menunjukkan betapa cepat sebuah titik penyumbatan maritim dapat berubah menjadi krisis global yang mencakup bahan bakar, pupuk, dan anggaran negara. Jalur sementara Iran–Oman mungkin memperlambat kerusakan, tetapi hanya pelayaran yang aman dan berkelanjutan—serta waktu bagi rantai pasok untuk kembali normal—yang dapat membalikkan keadaan.
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Selat Hormuz, jalur yang biasanya membawa sekitar seperlima pengiriman minyak dan LNG dunia, masih mengalami pembatasan berat.
Selat Hormuz, jalur yang biasanya membawa sekitar seperlima pengiriman minyak dan LNG dunia, masih mengalami pembatasan berat. Dampak krisis meluas dari harga minyak ke diesel, LNG, biaya angkutan, asuransi, kapasitas kilang, dan pupuk.
Perusahaan energi AS dengan produksi dan kilang yang terdiversifikasi mendapat keuntungan dari harga serta margin pengolahan yang lebih tinggi, sementara Bangladesh harus membeli LNG spot yang lebih mahal.