Pada 31 Juli, AS dan Jepang melakukan intervensi pembelian yen secara terkoordinasi—aksi bersama pertama sejak 2011 dan pembelian yen oleh Departemen Keuangan AS bersama Kementerian Keuangan Jepang sejak 1998. Jepang melaporkan pengeluaran sekitar ¥15,4 triliun atau US$96,5 miliar untuk intervensi sepanjang 30 Juli–...
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What happened when the United States and Japan coordinated their first joint yen buying intervention since 2011—and the first U.S. Treasury. Article summary: The July 31 operation briefly arrested the yen’s slide: after approaching ¥164 per dollar, it strengthened sharply, but much of that move later faded toward ¥160.. Topic tags: general web, ai safety, regulation, marketing, social media. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers, clickbait thumbnails, ic
Intervensi bersama pada 31 Juli sempat menghentikan penurunan tajam yen. Setelah mendekati ¥164 per dolar—level terlemah dalam sekitar 40 tahun—yen menguat hingga sekitar ¥155,20. Namun, sebagian besar penguatan itu kemudian menguap dan nilai tukar kembali bergerak mendekati ¥160. 2
5
Aksi tersebut penting secara politik karena menunjukkan kesediaan Washington dan Tokyo untuk bergerak bersama. Tetapi, intervensi valuta asing hanya membeli waktu. Intervensi itu tidak otomatis menghapus faktor utama yang menekan yen, terutama keunggulan suku bunga Amerika Serikat dibandingkan Jepang.
Kementerian Keuangan Jepang membeli yen dengan menjual aset valuta asingnya. Di pihak Amerika Serikat, Departemen Keuangan—melalui Federal Reserve Bank of New York—menjual euro dan membeli yen menggunakan aset valuta asing dalam Exchange Stabilization Fund (ESF), yaitu dana pemerintah AS untuk menghadapi gejolak pasar valuta asing. 6
Operasi ini menjadi pembelian yen bersama pertama Departemen Keuangan AS dan Kementerian Keuangan Jepang sejak 1998. Bagi Washington, ini juga merupakan intervensi pasar valuta asing pertama sejak aksi terkoordinasi pada 2011, ketika AS dan negara-negara G7 menjual yen untuk mencegah penguatan berlebihan setelah gempa besar di Jepang. 3
6
Sekilas, langkah ini tampak bertentangan dengan keinginan pemerintahan Donald Trump untuk memiliki dolar yang tidak terlalu kuat demi membantu eksportir dan industri manufaktur AS. Namun, kedua kebijakan tersebut masih dapat berjalan beriringan.
Washington dapat mendukung dolar yang lebih rendah nilainya secara bertahap dan teratur, sekaligus menolak kejatuhan yen yang mendadak dan tidak terkendali. Jepang adalah sekutu penting AS dan salah satu pemegang besar aset Amerika, sehingga gejolak di pasar Jepang dapat merambat ke pasar obligasi dan pembiayaan global.
Tujuan langsung intervensi bukanlah mempertahankan yen yang kuat secara permanen. Tujuannya adalah meredam pelemahan yang dianggap berlebihan dan tidak teratur, serta mencegah tekanan di pasar valuta asing merembet ke obligasi pemerintah Jepang dan pasar pendanaan internasional. 1
2
Cara AS membiayai operasi itu juga menunjukkan sifatnya yang terarah. Departemen Keuangan menjual euro untuk membeli yen, bukan menjual dolar. Dengan demikian, langkah tersebut lebih menyerupai operasi stabilisasi pasar daripada kampanye untuk melemahkan dolar secara umum. 6
Menurut kekhawatiran yang disampaikan Menteri Keuangan AS Scott Bessent, yen yang jatuh terlalu cepat dapat menimbulkan beberapa jalur gangguan:
Dalam skenario yang lebih ekstrem, pelepasan posisi berutang dan investasi lintas negara secara cepat dapat menciptakan pola penularan yang mengingatkan pada dinamika krisis keuangan Asia 1997–1998. Perbandingan tersebut merupakan kerangka analitis mengenai potensi risiko, bukan ramalan bahwa krisis serupa pasti akan terjadi. 1
2
Intervensi dapat mengubah nilai tukar dalam waktu singkat, tetapi tidak menghilangkan alasan investor menjual yen. Suku bunga Jepang masih jauh lebih rendah dibandingkan imbal hasil aset berdenominasi dolar. Selisih tersebut membuat strategi berikut tetap menarik:
Strategi ini dikenal sebagai yen carry trade. Selama Jepang belum menaikkan suku bunga secara berarti, imbal hasil AS belum turun cukup jauh, atau investor belum yakin bahwa yen akan terus menguat, insentif untuk mengambil posisi short-yen tetap ada.
Ironisnya, intervensi bahkan dapat membuat carry trade lebih menarik di margin. Dengan memberi sinyal bahwa otoritas siap mencegah kejatuhan yen yang kacau, operasi tersebut dapat mengurangi risiko ekstrem yang ditakuti investor. Risiko kerugian akibat lonjakan yen yang tiba-tiba menjadi terasa lebih kecil, sehingga sebagian pelaku pasar mungkin lebih berani meminjam yen untuk membeli aset berimbal hasil tinggi.
Mekanisme ini masuk akal secara ekonomi, tetapi bukan berarti operasi tersebut memang dirancang untuk mendukung carry trade. Penguatan awal yen memudar ketika pasar kembali berfokus pada selisih imbal hasil dan faktor fundamental Jepang. 2
3
Jepang memiliki cadangan valuta asing yang besar, sekitar US$1,1 triliun dalam aset yang likuid. Namun, angka headline tersebut tidak sama dengan jumlah uang tunai yang dapat langsung digunakan untuk intervensi. Cadangan terdiri dari berbagai jenis aset, dan tidak semuanya dapat dicairkan tanpa memengaruhi pasar.
Intervensi berulang dengan skala mendekati operasi Juli–Agustus dapat menguras aset yang paling mudah digunakan jauh lebih cepat daripada yang terlihat dari angka total cadangan. Jika kas dan aset valuta asing jangka pendek tidak mencukupi, Jepang mungkin perlu menjual obligasi Treasury AS atau surat berharga dolar lainnya.
Perkiraan ambang penjualan sekitar US$130 miliar bukanlah pemicu resmi. Namun, intinya jelas: penjualan Treasury dalam jumlah besar dapat menaikkan imbal hasil obligasi AS pada saat Washington justru menginginkan kondisi pembiayaan yang stabil. Karena itu, dukungan AS kemungkinan bersifat terbatas dan bersyarat. Washington dapat membantu stabilisasi valuta asing yang terarah, tetapi tidak mungkin mendukung pertahanan yen yang mengganggu fungsi pasar obligasi pemerintah AS. 2
Salah satu cara mengurangi tekanan tersebut adalah fasilitas FIMA Repo milik Federal Reserve—singkatan dari Foreign and International Monetary Authorities Repo Facility. Fasilitas ini memungkinkan otoritas moneter asing memperoleh dolar dengan menjaminkan obligasi Treasury sebagai agunan, alih-alih menjual obligasi tersebut secara langsung.
Mekanisme itu dapat membantu Jepang mendapatkan dolar untuk membeli yen tanpa membanjiri pasar dengan pasokan Treasury. Bessent telah menyerukan agar fasilitas likuiditas bagi otoritas moneter asing tersebut diperluas. 1
Dengan kata lain, FIMA Repo dapat memberi Tokyo ruang bernapas, sekaligus mengurangi risiko bahwa pertahanan yen berubah menjadi tekanan baru terhadap pasar obligasi AS.
Pertahanan yen hingga musim gugur akan bergantung pada lebih dari sekadar kemampuan Jepang membeli mata uangnya sendiri. Intervensi terkoordinasi dapat menahan kepanikan dan membeli waktu, tetapi pertahanan yang tahan lama memerlukan perubahan pada faktor fundamental.
Jepang perlu meyakinkan pasar bahwa jalur menuju imbal hasil domestik yang lebih tinggi kredibel, serta bahwa kebijakan fiskal dan moneternya mampu menopang mata uang tersebut. Tanpa penyempitan selisih suku bunga, operasi pembelian yen berisiko hanya menjadi “polisi tidur” yang mahal: cukup untuk memperlambat laju penurunan, tetapi tidak cukup untuk menciptakan dasar yen yang kokoh.
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Pada 31 Juli, AS dan Jepang melakukan intervensi pembelian yen secara terkoordinasi—aksi bersama pertama sejak 2011 dan pembelian yen oleh Departemen Keuangan AS bersama Kementerian Keuangan Jepang sejak 1998.
Pada 31 Juli, AS dan Jepang melakukan intervensi pembelian yen secara terkoordinasi—aksi bersama pertama sejak 2011 dan pembelian yen oleh Departemen Keuangan AS bersama Kementerian Keuangan Jepang sejak 1998. Jepang melaporkan pengeluaran sekitar ¥15,4 triliun atau US$96,5 miliar untuk intervensi sepanjang 30 Juli–26 Agustus.
Yen sempat menguat dari hampir ¥164 menjadi sekitar ¥155 per dolar, tetapi kemudian melemah kembali mendekati ¥160 karena selisih suku bunga Jepang–AS masih mendorong transaksi carry trade.