Xring O3 dapat memberi Xiaomi kendali lebih erat atas performa, grafis, AI, kamera, dan konsumsi daya, tetapi produksi chip ini tetap diperkirakan dilakukan oleh TSMC. Perangkat berbasis Xring O1 telah menembus lebih dari 1 juta unit secara kumulatif, meski sumber Reuters memperkirakan hanya sekitar 150.000 di antar...
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: How could Xiaomi’s second-generation proprietary smartphone processor, the Xring O3, strengthen its premium-device strategy and reduce relia. Article summary: Xring O3 could make Xiaomi’s premium devices more differentiated by giving it greater control over the system-on-chip roadmap rather than relying entirely on Qualcomm or MediaTek. That control can enable tighter co-desig. Topic tags: general, news, general web. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers
Xiaomi Xring O3 paling tepat dipahami sebagai strategi memperbesar kendali, bukan sebagai upaya mendadak untuk sepenuhnya lepas dari pemasok eksternal. Dengan merancang system-on-chip (SoC) sendiri, Xiaomi dapat menyelaraskan kemampuan komputasi, grafis, kecerdasan buatan (AI), pemrosesan gambar, dan manajemen daya dengan perangkat serta sistem operasi HyperOS.
Langkah ini berpotensi membuat ponsel premium Xiaomi lebih berbeda di pasar. Namun, Xiaomi belum sepenuhnya mandiri dalam semikonduktor: TSMC masih diperkirakan menjadi pihak yang memproduksi Xring O3. 1
Prosesor milik sendiri memungkinkan Xiaomi mengambil keputusan perangkat keras dan perangkat lunak secara lebih terpadu, alih-alih sepenuhnya mengikuti platform standar dari Qualcomm atau MediaTek. Secara praktis, Xiaomi dapat lebih leluasa mengoptimalkan performa berkelanjutan, fitur AI yang berjalan langsung di perangkat, pemrosesan kamera, multitasking, serta penggunaan baterai untuk produk tertentu.
Keuntungan tersebut akan paling terasa pada ponsel lipat premium. Perangkat lipat biasanya memiliki ruang yang lebih terbatas untuk baterai dan sistem pendingin dibandingkan ponsel flagship konvensional. Karena itu, efisiensi performa per watt menjadi sangat penting.
Chip yang dirancang berdasarkan kebutuhan layar, kamera, AI, dan HyperOS Xiaomi dapat membantu perusahaan menyajikan ponsel lipat sebagai satu produk yang terintegrasi—bukan sekadar gabungan komponen dari berbagai pemasok.
Ujian komersial pertama O3 diperkirakan masih terbatas. Menurut sumber yang dikutip dalam laporan, TSMC akan memproduksi O3 dengan proses 3 nanometer, sementara Xiaomi menargetkan sekitar 200.000 hingga 300.000 unit untuk ponsel lipat flagship mendatang. Detail mengenai proses produksi dan target pengiriman tersebut berasal dari sumber yang mengetahui rencana itu dan belum sepenuhnya dikonfirmasi Xiaomi maupun TSMC pada saat laporan diterbitkan. 1
Xiaomi telah menunjukkan bahwa perusahaan mampu mengembangkan dan mengirimkan produk dengan silikon rancangan internal. Xiaomi menyatakan bahwa pengiriman kumulatif perangkat berbasis Xring O1—termasuk ponsel, tablet, dan jam tangan—telah melampaui 1 juta unit. Namun, sumber Reuters memperkirakan hanya sekitar 150.000 unit di antaranya merupakan ponsel. 1
Perbedaan ini penting. Angka 1 juta unit menunjukkan bahwa Xiaomi telah menguji desain chip dan integrasinya di berbagai kategori perangkat. Namun, angka tersebut belum membuktikan bahwa Xiaomi siap menggantikan prosesor dari pemasok eksternal di seluruh bisnis ponselnya.
Karena itu, O3 tampaknya merupakan tahap lanjutan yang bertahap: memakai produk premium dengan visibilitas tinggi untuk menguji chip, memperbaiki ekosistem perangkat lunak, dan mengumpulkan pengalaman sebelum meningkatkan produksi secara signifikan.
Target pengiriman O3 yang dilaporkan memang kecil dibandingkan bisnis ponsel Xiaomi secara keseluruhan. Namun, skala terbatas itu bisa jadi merupakan pilihan yang disengaja. Produksi awal dalam jumlah kecil memungkinkan Xiaomi menjadikan ponsel lipat sebagai etalase teknologi sekaligus mengurangi risiko menerapkan platform yang belum terbukti ke jutaan perangkat.
Langkah tersebut juga menempatkan Xiaomi dalam persaingan penting dengan Huawei. Huawei mengirimkan sekitar 1,6 juta ponsel lipat di China pada kuartal kedua dan menguasai 68% pasar ponsel lipat negara itu, menurut angka yang dikutip dalam pemberitaan.
Dengan target O3 sekitar 200.000–300.000 unit, Xiaomi belum berada pada skala yang cukup untuk segera menggoyang posisi Huawei. Tujuan jangka pendek yang lebih realistis adalah membangun kredibilitas di segmen premium, meningkatkan kualitas produk lipat, dan menciptakan dasar untuk ekspansi berikutnya.
O3 merupakan bagian dari gerakan Xiaomi yang lebih luas untuk mengembangkan silikon rancangan internal. Perusahaan juga bekerja sama dengan TSMC untuk memproduksi Xring O100 berukuran 6 nanometer, yang ditujukan untuk tugas-tugas AI, serta Xring D100 berukuran 3 nanometer untuk kendaraan otonom. Kedua chip tersebut, menurut sumber yang dikutip dalam laporan, dijadwalkan digunakan pada tahun berikutnya. 3
Portofolio ini menunjukkan bahwa Xiaomi melihat desain chip sebagai cara untuk menghubungkan kemampuan di berbagai kategori, mulai dari ponsel, perangkat AI, dan perangkat wearable hingga kendaraan listrik.
Pendekatan internal yang sama terhadap akselerasi komputasi, inferensi AI, dan optimasi perangkat lunak dapat memberi Xiaomi kendali lebih besar atas latensi, konsumsi daya, serta pembeda produk di berbagai lini.
Meski demikian, manfaat tersebut masih berupa potensi. Laporan yang tersedia belum menunjukkan bagaimana kinerja O3 dibandingkan chip Qualcomm atau MediaTek terbaru. Belum ada pula tolok ukur independen yang membuktikan keunggulan kemampuan AI atau pemrosesan gambar Xiaomi.
Dengan demikian, dasar strateginya saat ini lebih kuat daripada bukti keunggulan performanya. Xiaomi telah menunjukkan kemampuan untuk merancang dan mengirimkan chip sendiri, tetapi belum terbukti mampu mengungguli pemasok mapan dalam skala besar.
Xiaomi memperluas ambisi chipnya ketika kondisi bisnis ponsel sedang tertekan. Perusahaan melaporkan laba bersih penyesuaian kuartal kedua turun 42,6% secara tahunan menjadi 6,2 miliar yuan. Xiaomi menyebut tingginya biaya memori dan komponen lain, serta persaingan yang semakin ketat, sebagai tekanan terhadap bisnisnya.
Pengiriman ponsel di China juga turun 4,3% secara tahunan menjadi sekitar 66 juta unit pada kuartal kedua. Penurunan tersebut menjadi yang kelima secara beruntun, menurut data IDC yang dilaporkan Reuters. Kenaikan biaya memori dan komponen mendorong produsen menaikkan harga, sekaligus melemahkan minat konsumen untuk mengganti ponsel.
Kondisi itu membuat titik impas untuk chip canggih seperti O3 menjadi lebih sulit dicapai. Xiaomi harus menanggung biaya desain, validasi, dukungan perangkat lunak, dan manufaktur node terdepan, sementara perangkat O3 kemungkinan dijual dalam volume yang relatif kecil.
Ponsel lipat premium memang dapat mendukung harga jual yang lebih tinggi sekaligus menjadi sarana untuk memamerkan teknologi. Namun, satu produk dengan volume terbatas belum tentu menghasilkan skala yang cukup untuk menutup seluruh investasi pengembangan chip.
Keberhasilan O3 tidak cukup dinilai dari apakah Xiaomi berhasil meluncurkan ponsel berbasis chip tersebut. Yang lebih penting adalah apakah Xiaomi mampu mengubahnya menjadi keunggulan produk yang dapat diulang dan diperluas.
Xring O3 dapat mengubah posisi Xiaomi dari sekadar pembeli platform standar menjadi perancang utama ekosistem perangkat premium. Perusahaan berpeluang mengurangi ketergantungan pada peta jalan produk pemasok chip eksternal dan mengoptimalkan lebih banyak aspek perangkatnya sendiri.
Namun, target awal ponsel lipat, skala smartphone O1 yang masih terbatas, serta tingginya biaya komponen menunjukkan bahwa O3 adalah taruhan jangka panjang untuk membangun kemampuan—bukan terobosan semikonduktor yang langsung membuat Xiaomi mandiri.
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Xring O3 dapat memberi Xiaomi kendali lebih erat atas performa, grafis, AI, kamera, dan konsumsi daya, tetapi produksi chip ini tetap diperkirakan dilakukan oleh TSMC.
Xring O3 dapat memberi Xiaomi kendali lebih erat atas performa, grafis, AI, kamera, dan konsumsi daya, tetapi produksi chip ini tetap diperkirakan dilakukan oleh TSMC. Perangkat berbasis Xring O1 telah menembus lebih dari 1 juta unit secara kumulatif, meski sumber Reuters memperkirakan hanya sekitar 150.000 di antaranya merupakan ponsel.
Target 200.000–300.000 unit untuk ponsel lipat berbasis O3 menunjukkan strategi peluncuran terfokus, bukan upaya langsung menggantikan chip Qualcomm atau MediaTek di seluruh lini Xiaomi.