Sampura Research adalah organisasi nirlaba keselamatan AI berbasis London yang didirikan mantan peneliti Google DeepMind, Rishub Jain dan Josh Jacob. Organisasi ini memperoleh komitmen pendanaan awal sebesar 11 juta dolar AS dari Coefficient Giving—7 juta dolar untuk tahun pertama dan 4 juta dolar yang dijanjikan un...
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What is Sampura Research, the London based nonprofit launched on August 24, 2026 by former Google DeepMind researchers Rishub Jain, Joshua J. Article summary: Sampura Research is a London AI safety nonprofit founded by former Google DeepMind researchers Rishub Jain and Josh Jacob—not, based on its own announcement, by Alex Adams.. Topic tags: general web, ai safety, openai, llm, ai. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers, clickbait thumbnails, icons, and
Sampura Research adalah organisasi nirlaba yang berfokus pada keselamatan dan evaluasi kecerdasan buatan (AI) di London. Organisasi ini didirikan oleh mantan peneliti Google DeepMind, Rishub Jain dan Josh Jacob—bukan Alex Adams, berdasarkan pengumuman resmi Sampura. Pengumuman peluncuran publiknya diterbitkan pada 25 Agustus 2026, sementara pertanyaan awal menyebut 24 Agustus. Sampura memperoleh komitmen hibah awal sebesar 11 juta dolar AS dari Coefficient Giving: 7 juta dolar untuk tahun pertama dan 4 juta dolar tambahan yang telah dijanjikan. Alex Adams disebut memberikan masukan terhadap pengumuman tersebut. 4
Gagasan utama Sampura adalah Human-AI Complementarity for Scalable Oversight, atau pelibatan manusia dan AI secara saling melengkapi untuk memperluas pengawasan. Istilah “scalable oversight” merujuk pada upaya mengawasi model AI yang semakin kuat tanpa meminta manusia memeriksa setiap keluaran satu per satu.
Banyak pengembang AI menggunakan model bahasa besar lain sebagai penilai, atau judge, karena sistem tersebut lebih cepat dan murah dibandingkan pemeriksaan manusia. Dalam skema ini, satu AI menilai jawaban, keputusan, atau rangkaian tindakan AI lainnya.
Sampura tidak menganggap pendekatan tersebut selalu keliru. Namun, organisasi ini menilai manusia masih memiliki keunggulan yang tidak mudah digantikan, antara lain:
Dengan kata lain, Sampura ingin menghindari asumsi bahwa AI dapat menjadi pengawas yang sepenuhnya netral dan aman bagi AI lain.
Dalam rencana Sampura, judge bukan sekadar perangkat lunak. Hakim dapat berupa manusia, AI, atau gabungan keduanya yang menilai apakah respons atau tindakan agen AI sudah benar dan selaras dengan tujuan keselamatan.
Sistem yang dirancang Sampura akan berupaya memperkirakan tingkat keyakinan hakim AI. Kasus yang dinilai terlalu sulit atau tidak pasti dapat diteruskan kepada manusia. Sampura juga ingin mengembangkan router yang menentukan tugas mana yang sebaiknya dikerjakan manusia, AI, atau keduanya, serta menyediakan bantuan AI yang disesuaikan dengan tugas manusia.
Tujuannya bukan membuat manusia memeriksa semua hal. Manusia akan dilibatkan secara selektif pada titik-titik ketika penilaian mereka diperkirakan memberikan manfaat keselamatan terbesar. Pendekatan ini berusaha menyeimbangkan tiga hal: ketelitian, kecepatan, dan biaya pengawasan. 4
Selama enam bulan pertama, Sampura berencana membangun leaderboard publik yang terus diperbarui. Platform tersebut akan memuat lebih dari 20 subdataset untuk menguji kemampuan hakim manusia, AI, maupun sistem hibrida.
Topik awal yang disebutkan mencakup:
Pengujiannya tidak berhenti pada contoh statis. Sampura juga ingin melihat apakah model yang diawasi dapat belajar mengoptimalkan perilakunya untuk mengecoh hakim selama reinforcement learning. Ini penting karena model dapat mengejar skor atau imbalan yang terlihat baik tanpa benar-benar memenuhi tujuan keselamatan—fenomena yang sering disebut reward hacking.
Sampura menyatakan akan merilis makalah, kode, dataset, dan leaderboard secara terbuka. Jika terlaksana, materi tersebut dapat membantu peneliti lain membandingkan metode evaluasi secara lebih transparan.
Ruang lingkup Sampura tidak hanya mencakup skenario “AI nakal” yang bertindak di luar kendali. Organisasi ini juga menyebut risiko seperti bias, interaksi yang tidak aman dengan anak-anak, dan ketergantungan pada AI pendamping.
Dalam tahap berikutnya, fokusnya akan diperluas dari sekadar menilai keluaran AI menjadi menilai cara instruksi, rubrik, dan kasus pengujian dibuat. Penilaian semacam ini berpotensi membantu peneliti menemukan kegagalan sebelum model diterapkan secara luas.
Namun, penting membedakan antara program penelitian dan kemampuan pengendalian yang telah terbukti. Sampura baru mengusulkan metode dan pengujian; belum ada bukti dari materi yang tersedia bahwa organisasi tersebut telah mampu mencegah model AI melakukan tindakan berbahaya.
Sampura ingin mengukur apakah hakim yang lebih baik benar-benar mengurangi reward hacking. Organisasi ini juga akan meneliti kapan hakim perlu dilatih ulang ketika perilaku model berubah, serta bagaimana menentukan jumlah keterlibatan manusia yang paling efisien.
Pada tahap awal, sistem tersebut mungkin diuji melalui evaluator pihak ketiga. Target jangka panjangnya adalah agar metode ini dapat digunakan dalam pelatihan, evaluasi, dan pemantauan model AI terdepan di laboratorium pengembang.
Keberhasilan Sampura nantinya tidak cukup diukur dari skor leaderboard. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah sistem tersebut dapat menemukan kegagalan yang benar-benar relevan dalam penggunaan dunia nyata, sebelum kegagalan itu menimbulkan dampak.
Pengawasan AI membutuhkan peneliti dengan kombinasi keahlian yang langka: pembelajaran mesin, evaluasi model, keamanan, penalaran, dan penilaian risiko. Kelangkaan tenaga ahli ini terlihat dari posisi evaluasi di METR yang mencantumkan gaji pokok tahunan 285.548 hingga 503.116 dolar AS, serta kemungkinan kompensasi lebih tinggi bagi kandidat yang sangat berpengalaman. 9
Karena itu, rencana Sampura untuk merekrut staf teknis pendiri di London cukup strategis. Namun, pengumuman utama Sampura hanya menyatakan bahwa organisasi tersebut sedang merekrut staf teknis awal di London. Bukti dari sumber utama yang tersedia belum cukup untuk memastikan klaim bahwa Sampura akan merekrut sedikitnya enam orang dengan gaji 100.000 hingga 290.000 pound sterling. 4
Lebih dari 1.100 praktisi AI menandatangani surat terbuka pada Juli 2026 yang menyerukan pembangunan mekanisme internasional untuk memperlambat pengembangan AI terdepan jika kemajuannya melampaui kemampuan manusia untuk mengawasinya secara aman. 1
Sampura dapat berkontribusi pada salah satu prasyarat teknis dari gagasan tersebut: evaluasi yang lebih kredibel, terbuka, dan dapat diaudit. Tetapi organisasi ini tidak dapat sendirian menciptakan kewenangan hukum, koordinasi internasional, akses ke model, atau mekanisme penegakan.
Artinya, pekerjaan Sampura bersifat pelengkap terhadap tata kelola AI—bukan pengganti regulasi atau kerja sama antarnegara.
Kepergian Jain diberitakan dalam konteks rangkaian perpindahan peneliti dari Google DeepMind. Namun, klaim bahwa lima peneliti inti meninggalkan DeepMind dalam enam hari terutama berasal dari laporan sekunder dengan kualitas sumber yang lebih rendah dan belum dapat dianggap sebagai fakta yang terverifikasi secara independen. 5
Begitu pula, bukti yang tersedia belum mendukung kesimpulan luas bahwa perusahaan-perusahaan AI “belum mampu mengendalikan apa yang telah mereka bangun”. Kesimpulan yang lebih hati-hati adalah bahwa pengawasan terhadap model yang semakin canggih masih belum terbukti tangguh, tenaga ahli evaluasi sangat terbatas, dan Sampura berusaha membuat keterlibatan manusia lebih terukur serta tahan terhadap kegagalan.
Sampura Research menawarkan jawaban teknis terhadap masalah yang semakin mendesak: siapa yang seharusnya menilai apakah AI bekerja dengan benar dan aman ketika modelnya sudah terlalu kompleks untuk diperiksa secara manual?
Jawaban Sampura bukan memilih manusia atau AI secara mutlak, melainkan menggabungkan keduanya. AI dapat menangani skala dan kecepatan, sedangkan manusia tetap menjadi pemeriksa penting ketika situasi tidak pasti, nilai yang dipertaruhkan berubah, atau sistem penilai berisiko ikut tertipu.
Apakah pendekatan ini akan berhasil masih harus dibuktikan melalui benchmark, pengujian independen, dan penerapan nyata. Untuk saat ini, Sampura lebih tepat dipahami sebagai upaya membangun infrastruktur pengawasan yang lebih kuat—bukan sebagai bukti bahwa masalah keselamatan AI telah terpecahkan.
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Sampura Research adalah organisasi nirlaba keselamatan AI berbasis London yang didirikan mantan peneliti Google DeepMind, Rishub Jain dan Josh Jacob.
Sampura Research adalah organisasi nirlaba keselamatan AI berbasis London yang didirikan mantan peneliti Google DeepMind, Rishub Jain dan Josh Jacob. Organisasi ini memperoleh komitmen pendanaan awal sebesar 11 juta dolar AS dari Coefficient Giving—7 juta dolar untuk tahun pertama dan 4 juta dolar yang dijanjikan untuk tahap berikutnya.
Sampura ingin menggabungkan manusia dan AI sebagai “hakim” yang menilai apakah perilaku model sudah benar dan selaras, alih alih menyerahkan seluruh pengawasan kepada AI.