Stripe juga mengembangkan dompet agen yang ditujukan untuk memberikan instrumen pembayaran dengan penggunaan terbatas. Tujuannya adalah memungkinkan agen melakukan transaksi tanpa membuka kredensial pembayaran utama pengguna.
Langkah Stripe menunjukkan ambisi yang lebih besar daripada sekadar menjadi pemroses pembayaran. Stripe telah mendukung pembelian instan di ChatGPT, yang pada tahap awal memungkinkan pengguna di Amerika Serikat membeli dari penjual Etsy dan direncanakan mencakup merchant Shopify secara langsung di dalam percakapan.
Perusahaan itu juga memperluas kemitraan perdagangan berbasis agen dengan Google dan Meta. Melalui Agentic Commerce Suite, Stripe ingin menghubungkan pembeli, agen, dan penjual di berbagai permukaan digital. Bagi penjual, satu integrasi dapat membantu mereka berjualan melalui beberapa kanal. Bagi pengembang agen, sistem tersebut menyediakan kemampuan checkout yang dapat ditanamkan langsung ke dalam layanan mereka.
Artinya, posisi Stripe berpotensi bergeser: dari perusahaan yang terutama memproses pembayaran menjadi penyedia protokol, dompet, kontrol otorisasi, koneksi merchant, dan jalur transaksi untuk kanal penjualan yang dimediasi agen AI.
CEO Stripe Patrick Collison menggambarkan masa depan perdagangan sebagai perdagangan berbasis agen. Konsumen akan semakin sering bertransaksi melalui agen pribadi, sedangkan penjual harus membuat katalog, kebijakan, dan antarmuka pembayaran yang dapat dipahami mesin.
Pimpinan Stripe bahkan menyebut 1 Januari 2026 sebagai titik awal “singularitas” AI dalam surat kepada investor. Istilah tersebut merupakan cara retoris untuk menyatakan keyakinan bahwa AI mulai mengubah pembentukan bisnis dan aktivitas ekonomi digital dengan sangat cepat, bukan ambang ilmiah yang memiliki ukuran atau definisi universal.
Meski gagasannya terdengar praktis, konsumen belum tentu siap menyerahkan keputusan pembelian sepenuhnya kepada AI. Riset tentang perdagangan berbasis agen menunjukkan adanya kesenjangan kepercayaan: lebih dari separuh konsumen bersedia meminta agen mencari dan membandingkan produk, tetapi hanya 35% yang bersedia memberikan akses kepada agen untuk kredensial pembayaran tersimpan.
Temuan lain juga menunjukkan bahwa konsumen tertarik pada bantuan belanja AI, tetapi masih ragu mengizinkan pembelian otomatis tanpa persetujuan manusia secara langsung.
Karena itu, penerimaan konsumen akan sangat bergantung pada batas anggaran yang jelas, notifikasi, kemampuan membatalkan transaksi, perlindungan terhadap penipuan, serta aturan mengenai barang yang salah, pengembalian, dan sengketa pembayaran.
Tidak ada tanggal yang kredibel untuk memastikan kapan halaman checkout akan menghilang. Pernyataan bahwa perubahan itu akan terjadi “segera” lebih tepat dipahami sebagai arah strategi Stripe, bukan jadwal adopsi yang pasti.
Peralihan tersebut masih bergantung pada beberapa hal: kesediaan konsumen mendelegasikan pengeluaran, kontrol yang andal untuk anggaran dan pengembalian barang, standar yang dapat dipakai lintas agen dan merchant, integrasi dari penjual, serta perkembangan regulasi.
Kemungkinan besar, halaman checkout akan lebih dulu menyusut menjadi langkah persetujuan satu kali. Untuk pembelian rutin dan berisiko rendah, transaksi antar-agen dapat menjadi semakin umum. Namun, pembelian bernilai tinggi, produk yang belum dikenal, atau transaksi di sektor yang teregulasi kemungkinan tetap membutuhkan keterlibatan manusia dan halaman konfirmasi yang lebih lengkap.