Permintaan anggaran FY2027 menjadi tahun terakhir dari program penguatan pertahanan Jepang senilai ¥43 triliun untuk periode FY2023–27. Program tersebut dirancang untuk membawa belanja yang berkaitan dengan pertahanan mendekati 2% produk domestik bruto pada 2027.
Tahun fiskal Jepang berlangsung dari April hingga Maret tahun berikutnya. Karena itu, FY2027 mencakup April 2027 sampai Maret 2028.
Rencana anggaran itu dilaporkan mencakup pengembangan rudal hipersonik yang diluncurkan dari kapal selam, drone serang jarak jauh, serta kemampuan komando dan kendali yang didukung kecerdasan buatan. Sistem-sistem tersebut dapat memperluas kemampuan Jepang untuk mendeteksi, menyerang, dan mengoordinasikan operasi dari jarak jauh—alasan yang dipakai Pyongyang untuk menyebut postur pertahanan Jepang semakin ofensif.
Jepang menolak karakterisasi Korea Utara tersebut. Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi menyebut lingkungan keamanan di sekitar Jepang sebagai yang paling serius dan kompleks sejak berakhirnya Perang Dunia II. Ia juga menegaskan bahwa kerja sama Jepang dengan Amerika Serikat dan Korea Selatan ditujukan untuk menjaga perdamaian serta stabilitas regional.
Perselisihan ini berlangsung ketika Amerika Serikat dan Korea Selatan mengurangi durasi latihan militer tahunan Ulchi Freedom Shield dari 11 hari menjadi lima hari atas permintaan Washington.
Presiden Donald Trump menyatakan pengurangan itu diperlukan untuk menghindari sinyal yang “tidak pantas dan bermusuhan” kepada Korea Utara. Laporan juga menyebut Trump sedang berupaya mengatur kemungkinan pertemuan dengan Kim Jong Un, bahkan sejak musim gugur.
Perubahan tersebut menimbulkan kebingungan di Korea Selatan dan memunculkan pertanyaan mengenai keandalan serta persyaratan komitmen keamanan Amerika Serikat. Seoul kemudian menegaskan bahwa aliansi dengan Washington tetap menjadi fondasi keamanan nasionalnya.
Korea Utara dapat menggunakan penguatan militer Jepang, serta koordinasi berkelanjutan antara Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang, untuk membangun narasi konfrontasi antarkubu: satu kubu yang dipimpin Washington berhadapan dengan Korea Utara, China, dan Rusia.
Meski demikian, bukti yang tersedia belum cukup untuk menyimpulkan bahwa Beijing dan Pyongyang telah secara resmi mengadopsi kerangka tersebut dalam sebuah kampanye terkoordinasi. Yang lebih jelas, rencana anggaran Jepang dan ancaman Korea Utara sama-sama menambah lapisan baru pada persaingan keamanan di Asia Timur.