Sekitar 10 juta barel per hari kapasitas penyulingan global dilaporkan tidak beroperasi atau mengalami gangguan. Penyebabnya mencakup serangan dan penghentian operasi terkait konflik di Timur Tengah, serta kerusakan pada kilang-kilang Rusia.
Gangguan itu diperburuk oleh efektif tertutupnya Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman minyak mentah maupun produk olahan dari kawasan Teluk. Ketika kapal tidak dapat melintas secara normal, kilang kehilangan pasokan bahan baku dan pasar konsumen kehilangan akses terhadap kargo bensin serta solar. Akibatnya, sistem perdagangan tidak bisa lagi dengan cepat mengalihkan bahan bakar dari pusat ekspor Teluk ke wilayah yang mengalami defisit.
Dampak di Timur Tengah sangat besar. Menurut angka Badan Energi Internasional (IEA) yang dilaporkan Reuters, lebih dari 20% kapasitas kilang kawasan itu—dari total 9,6 juta barel per hari—telah terdampak. Tingkat pengolahan regional diperkirakan 2,9 juta barel per hari di bawah level sebelum perang pada kuartal II 2026 dan masih 2,2 juta barel per hari lebih rendah pada kuartal III.
Serangan pesawat nirawak Ukraina telah menekan kapasitas pengolahan Rusia ke level terendah dalam sekitar dua dekade. Pada saat yang sama, larangan ekspor solar Rusia mengurangi pasokan dari salah satu sistem ekspor diesel terpenting di dunia.
IEA memperkirakan ekspor diesel dari Rusia, Timur Tengah, dan pemasok besar Asia turun 1,3 juta barel per hari pada Juli dibandingkan setahun sebelumnya—sekitar seperlima dari perdagangan produk melalui laut.
Kekurangan ini terasa kuat di Eropa, Afrika, dan Amerika Latin. Pasar diesel memiliki pilihan substitusi yang lebih terbatas dibandingkan pasar minyak mentah, sehingga pembeli lebih sulit mencari pasokan pengganti ketika satu pemasok besar keluar dari pasar. Biaya angkutan, pertanian, manufaktur, dan distribusi pun ikut tertekan karena solar merupakan bahan bakar utama berbagai aktivitas tersebut.
China sebenarnya memiliki kapasitas pengolahan yang dapat membantu menambah pasokan. Namun, perusahaan penyulingan di negara itu mengurangi tingkat operasi, sementara kebijakan pemerintah membatasi ekspor produk bahan bakar. Persediaan minyak mentah yang besar tidak otomatis berarti bensin dan solar tersebut tersedia bagi pembeli di pasar internasional.
Berkurangnya pengolahan dan ekspor China menghilangkan salah satu pemasok fleksibel yang biasanya dapat menambah pasokan ketika pasar Asia mengetat. Dengan kargo dari Teluk berkurang dan diesel Rusia tidak tersedia, perdagangan produk melalui laut menyusut alih-alih kembali seimbang.
Kilang-kilang di Amerika Serikat menjadi salah satu penerima manfaat utama dalam jangka pendek. Margin yang berada di level rekor atau mendekati rekor mendorong operator meningkatkan utilisasi dan mengekspor lebih banyak bahan bakar. Kilang India yang berorientasi ekspor juga beroperasi dengan tingkat utilisasi tinggi dan membantu memenuhi sebagian kebutuhan kawasan.
Namun, kilang yang tersisa tidak bisa menggantikan seluruh pasokan yang hilang dari Teluk dan Rusia. Mereka menghadapi batas operasional, ketersediaan minyak mentah, kemampuan pelabuhan, serta biaya dan risiko pengiriman. Tambahan produksi dari satu wilayah juga tidak serta-merta menyelesaikan gangguan rute pelayaran di wilayah lain.
Kenaikan harga paling cepat terlihat pada kontrak berjangka bensin dan solar. Harga di pasar berjangka yang meningkat menunjukkan bahwa pelaku pasar bersedia membayar lebih untuk pengiriman segera karena pasokan fisik semakin ketat.
Bagi konsumen, dampaknya dapat muncul dalam bentuk harga di pompa yang lebih tinggi. Perusahaan angkutan dan petani menghadapi biaya solar yang meningkat, sementara maskapai penerbangan dan industri harus menanggung biaya bahan bakar jet serta input energi yang lebih mahal. Permintaan berkendara pada musim panas dan kebutuhan listrik akibat suhu ekstrem membuat kilang semakin sulit membangun kembali persediaan.
Persediaan bensin dan solar di sejumlah pasar utama berada dekat level terendah dalam beberapa tahun. Di Asia, stok bensin diperkirakan tetap di bawah rata-rata lima tahun hingga akhir 2026. Buffer yang tipis membuat pasar sangat sensitif terhadap gangguan baru—mulai dari kerusakan kilang, badai, hingga kendala pengiriman atau lonjakan permintaan yang tidak terduga.
Prospek hadirnya sekitar 500.000 barel per hari kapasitas baru dari India dan Timur Tengah dapat membantu, terutama jika fasilitas tersebut menghasilkan produk sulingan menengah seperti solar untuk ekspor. Namun, jumlah itu terlalu kecil dibandingkan kapasitas yang hilang hingga beberapa juta barel per hari.
Kapasitas baru juga mungkin membutuhkan waktu untuk mencapai tingkat operasi penuh. Selain itu, fasilitas tersebut tidak dapat dengan sendirinya membuka kembali Selat Hormuz atau memulihkan kilang yang rusak. Jadi, tambahan kapasitas tersebut berfungsi sebagai bantuan marginal, bukan solusi untuk mengembalikan cadangan penyangga global.
Pemulihan tidak hanya bergantung pada ketersediaan minyak mentah. Pasar membutuhkan beberapa perkembangan sekaligus: jalur pelayaran Timur Tengah harus kembali aman dan lancar, kilang yang rusak harus diperbaiki dan dinyalakan kembali, larangan ekspor diesel Rusia perlu dicabut, dan China perlu meningkatkan ekspor produk bahan bakar.
Sebelum sejumlah faktor itu terjadi bersamaan dan persediaan kembali terisi, margin kilang kemungkinan tetap tinggi. Harga bahan bakar juga dapat terus bergerak terpisah dari harga minyak mentah, sementara pasar global tetap rentan terhadap gangguan baru.
Sekitar 10 juta barel per hari kapasitas penyulingan global dilaporkan tidak beroperasi atau mengalami gangguan. Penyebabnya mencakup serangan dan penghentian operasi terkait konflik di Timur Tengah, serta kerusakan pada kilang-kilang Rusia.
Gangguan itu diperburuk oleh efektif tertutupnya Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman minyak mentah maupun produk olahan dari kawasan Teluk. Ketika kapal tidak dapat melintas secara normal, kilang kehilangan pasokan bahan baku dan pasar konsumen kehilangan akses terhadap kargo bensin serta solar. Akibatnya, sistem perdagangan tidak bisa lagi dengan cepat mengalihkan bahan bakar dari pusat ekspor Teluk ke wilayah yang mengalami defisit.
Dampak di Timur Tengah sangat besar. Menurut angka Badan Energi Internasional (IEA) yang dilaporkan Reuters, lebih dari 20% kapasitas kilang kawasan itu—dari total 9,6 juta barel per hari—telah terdampak. Tingkat pengolahan regional diperkirakan 2,9 juta barel per hari di bawah level sebelum perang pada kuartal II 2026 dan masih 2,2 juta barel per hari lebih rendah pada kuartal III.
Serangan pesawat nirawak Ukraina telah menekan kapasitas pengolahan Rusia ke level terendah dalam sekitar dua dekade. Pada saat yang sama, larangan ekspor solar Rusia mengurangi pasokan dari salah satu sistem ekspor diesel terpenting di dunia.
IEA memperkirakan ekspor diesel dari Rusia, Timur Tengah, dan pemasok besar Asia turun 1,3 juta barel per hari pada Juli dibandingkan setahun sebelumnya—sekitar seperlima dari perdagangan produk melalui laut.
Kekurangan ini terasa kuat di Eropa, Afrika, dan Amerika Latin. Pasar diesel memiliki pilihan substitusi yang lebih terbatas dibandingkan pasar minyak mentah, sehingga pembeli lebih sulit mencari pasokan pengganti ketika satu pemasok besar keluar dari pasar. Biaya angkutan, pertanian, manufaktur, dan distribusi pun ikut tertekan karena solar merupakan bahan bakar utama berbagai aktivitas tersebut.
China sebenarnya memiliki kapasitas pengolahan yang dapat membantu menambah pasokan. Namun, perusahaan penyulingan di negara itu mengurangi tingkat operasi, sementara kebijakan pemerintah membatasi ekspor produk bahan bakar. Persediaan minyak mentah yang besar tidak otomatis berarti bensin dan solar tersebut tersedia bagi pembeli di pasar internasional.
Berkurangnya pengolahan dan ekspor China menghilangkan salah satu pemasok fleksibel yang biasanya dapat menambah pasokan ketika pasar Asia mengetat. Dengan kargo dari Teluk berkurang dan diesel Rusia tidak tersedia, perdagangan produk melalui laut menyusut alih-alih kembali seimbang.
Kilang-kilang di Amerika Serikat menjadi salah satu penerima manfaat utama dalam jangka pendek. Margin yang berada di level rekor atau mendekati rekor mendorong operator meningkatkan utilisasi dan mengekspor lebih banyak bahan bakar. Kilang India yang berorientasi ekspor juga beroperasi dengan tingkat utilisasi tinggi dan membantu memenuhi sebagian kebutuhan kawasan.
Namun, kilang yang tersisa tidak bisa menggantikan seluruh pasokan yang hilang dari Teluk dan Rusia. Mereka menghadapi batas operasional, ketersediaan minyak mentah, kemampuan pelabuhan, serta biaya dan risiko pengiriman. Tambahan produksi dari satu wilayah juga tidak serta-merta menyelesaikan gangguan rute pelayaran di wilayah lain.
Kenaikan harga paling cepat terlihat pada kontrak berjangka bensin dan solar. Harga di pasar berjangka yang meningkat menunjukkan bahwa pelaku pasar bersedia membayar lebih untuk pengiriman segera karena pasokan fisik semakin ketat.
Bagi konsumen, dampaknya dapat muncul dalam bentuk harga di pompa yang lebih tinggi. Perusahaan angkutan dan petani menghadapi biaya solar yang meningkat, sementara maskapai penerbangan dan industri harus menanggung biaya bahan bakar jet serta input energi yang lebih mahal. Permintaan berkendara pada musim panas dan kebutuhan listrik akibat suhu ekstrem membuat kilang semakin sulit membangun kembali persediaan.
Persediaan bensin dan solar di sejumlah pasar utama berada dekat level terendah dalam beberapa tahun. Di Asia, stok bensin diperkirakan tetap di bawah rata-rata lima tahun hingga akhir 2026. Buffer yang tipis membuat pasar sangat sensitif terhadap gangguan baru—mulai dari kerusakan kilang, badai, hingga kendala pengiriman atau lonjakan permintaan yang tidak terduga.
Prospek hadirnya sekitar 500.000 barel per hari kapasitas baru dari India dan Timur Tengah dapat membantu, terutama jika fasilitas tersebut menghasilkan produk sulingan menengah seperti solar untuk ekspor. Namun, jumlah itu terlalu kecil dibandingkan kapasitas yang hilang hingga beberapa juta barel per hari.
Kapasitas baru juga mungkin membutuhkan waktu untuk mencapai tingkat operasi penuh. Selain itu, fasilitas tersebut tidak dapat dengan sendirinya membuka kembali Selat Hormuz atau memulihkan kilang yang rusak. Jadi, tambahan kapasitas tersebut berfungsi sebagai bantuan marginal, bukan solusi untuk mengembalikan cadangan penyangga global.
Pemulihan tidak hanya bergantung pada ketersediaan minyak mentah. Pasar membutuhkan beberapa perkembangan sekaligus: jalur pelayaran Timur Tengah harus kembali aman dan lancar, kilang yang rusak harus diperbaiki dan dinyalakan kembali, larangan ekspor diesel Rusia perlu dicabut, dan China perlu meningkatkan ekspor produk bahan bakar.
Sebelum sejumlah faktor itu terjadi bersamaan dan persediaan kembali terisi, margin kilang kemungkinan tetap tinggi. Harga bahan bakar juga dapat terus bergerak terpisah dari harga minyak mentah, sementara pasar global tetap rentan terhadap gangguan baru.