Perbedaan besar antara harga penawaran dan harga pembukaan penting untuk dicermati. Harga IPO menggambarkan valuasi formal perusahaan, sedangkan harga pasar pada hari pertama mencerminkan ekspektasi investor terhadap ekspansi di masa depan. Dengan kata lain, pasar tidak hanya menilai kinerja Unitree saat ini, tetapi juga membayar mahal untuk potensi pertumbuhan berikutnya.
Bagi industri yang masih muda, perusahaan robotika selama ini kerap dinilai melalui prototipe, demonstrasi, dan perkiraan jumlah pengiriman—bukan melalui rekam jejak operasi jangka panjang yang terbuka untuk publik. Pencatatan saham Unitree menciptakan titik pembanding yang lebih jelas dalam hal pengungkapan informasi, pendanaan, dan valuasi.
Zhou Changjiu dari RoboCup Asia-Pacific Confederation menilai langkah tersebut sebagai sinyal bahwa robotika humanoid dan embodied AI—kecerdasan buatan yang berinteraksi langsung dengan dunia fisik—mulai bergerak melampaui tahap pengembangan teknologi, validasi melalui kompetisi, dan iterasi produk. Industri ini memasuki tahap industrialisasi, peningkatan skala, serta pengakuan yang lebih luas dari pasar modal.
Peralihan ini membutuhkan modal besar. Robot humanoid harus dikembangkan melalui investasi panjang pada sistem mekanik, perangkat lunak kendali, model AI, manufaktur, serta integrasi dengan kebutuhan pelanggan. Dana dari pasar modal dapat membantu Unitree memperpanjang siklus riset dan pengembangan, memperbesar kapasitas produksi, dan membangun hubungan dengan pemasok.
IPO tersebut juga menjadi acuan bagi perusahaan robotika China lainnya. Jika Unitree mampu mengubah modal baru menjadi pendapatan dan penerapan yang andal, pencatatannya dapat mendorong lebih banyak investasi dan IPO di sektor robotika. Sebaliknya, jika pertumbuhan tidak mampu mengejar valuasi debut, saham yang sama dapat menjadi pengingat tentang risiko membanderol teknologi tahap awal secara terlalu agresif.
Unitree menyebutkan empat prioritas utama penggunaan dana hasil IPO:
Rencana ini menunjukkan ambisi Unitree untuk beralih dari sekadar membuat dan menjual robot individual menuju pembangunan platform mesin serbaguna. Strategi tersebut berpotensi memberi perusahaan kendali yang lebih besar atas perangkat keras, perangkat lunak, dan biaya produksinya. Namun, IPO itu sendiri belum membuktikan bahwa investasi tersebut akan menghasilkan keuntungan jangka panjang.
Didirikan pada 2016 di Hangzhou, Unitree mengembangkan robot berkaki empat dan robot humanoid. Perusahaan mengatakan bahwa sejumlah komponen inti—termasuk motor, reducer, pengendali, dan LiDAR—dikembangkan secara internal.
Menurut angka yang dilaporkan dalam rangkaian pemberitaan seputar pencatatan sahamnya, Unitree mengirimkan lebih dari 5.500 robot humanoid pada 2025. Angka tersebut memberinya pangsa 32,4% dari pengiriman global yang dihitung berdasarkan unit. Pengiriman kumulatif robot berkaki empatnya juga telah melampaui 33.000 unit, atau hampir 60% dari pasar global berdasarkan ukuran yang dikutip.
Unitree juga melaporkan pendapatan sekitar 1,15 miliar yuan pada paruh pertama 2026, naik 48,54% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perusahaan menyatakan produknya telah menjangkau puluhan negara dan wilayah, serta digunakan dalam riset ilmiah dan pendidikan, inspeksi industri, patroli keamanan, dan penyelamatan darurat.
Meski demikian, angka pengiriman perlu dibaca secara hati-hati. Penjualan pada tahap awal industri robotika dapat mencakup pembelian untuk riset, pendidikan, demonstrasi, dan proyek percontohan. Ukuran yang lebih penting adalah apakah pelanggan terus menggunakan robot tersebut dalam lingkungan operasional nyata dan apakah penerapannya memberikan nilai ekonomi yang menarik.
IPO Unitree berlangsung ketika China sedang membangun posisi dominan di pasar robot humanoid yang masih berkembang. Menurut data industri yang dikutip Global Times, produsen China menyumbang lebih dari 97% pengiriman robot humanoid global pada paruh pertama 2026. Laporan yang sama menyebut total pengiriman global mencapai sekitar 19.100 unit.
Estimasi dari berbagai lembaga tidak selalu sama. Karena itu, angka pasti dan peringkat masing-masing perusahaan perlu diperlakukan dengan hati-hati. Smart Analytics Global, misalnya, melaporkan bahwa AgiBot telah menyalip Unitree dalam pengiriman pada paruh pertama 2026—sebuah contoh betapa cepatnya posisi pemimpin berubah di pasar yang sedang tumbuh.
Namun, arah besarnya cukup jelas. China memiliki basis industri yang luas, rantai pasok elektronik dan mekanik yang lengkap, serta pasar domestik besar untuk menguji berbagai aplikasi. TrendForce memperkirakan pasar robot humanoid China mencapai 15 miliar yuan pada 2026 dan tumbuh setidaknya 60% pada 2027, seiring peningkatan produksi dan meluasnya penggunaan.
IDC memperkirakan pengiriman robot humanoid global akan melampaui 510.000 unit pada 2030, yang berarti pertumbuhan sangat cepat dari basis saat ini yang masih kecil. Meski begitu, proyeksi bukanlah jaminan. Industri ini masih menghadapi pertanyaan tentang keandalan, keselamatan, kemampuan perangkat lunak, dampaknya terhadap tenaga kerja, dan tingkat pengembalian investasi bagi pelanggan.
Rasio harga terhadap laba sebesar 219,23 kali pada harga IPO Unitree merupakan taruhan terhadap pertumbuhan masa depan, bukan bukti bahwa perusahaan telah mencapai skala komersial yang matang.
Untuk memenuhi ekspektasi tersebut, Unitree perlu menunjukkan bahwa perusahaan mampu:
Lonjakan harga pada hari pertama memperlihatkan besarnya minat investor terhadap robot humanoid. Namun, tahap berikutnya akan dinilai bukan dari demonstrasi yang menarik atau momentum saham, melainkan dari kemampuan manufaktur, retensi pelanggan, kinerja operasional, dan arus kas.
IPO Unitree menandai pergeseran industri robot humanoid China dari perlombaan teknologi privat menjadi perlombaan industrialisasi terbuka di pasar modal. Perusahaan kini memiliki modal dan visibilitas untuk memperbesar skala, sementara investor telah memberinya ujian yang sangat berat: membuktikan bahwa robot humanoid dapat berubah menjadi bisnis yang berulang, andal, dan menguntungkan.